Marken dan Volendam, Serupa tapi Tak Sama


            Belanda salah satu negara di Eropa yang paling berkesan yang saya kunjungi. Keramahtamahan penduduknya, sistem tata kotanya, transportasinya, bahkan desa-desanya membuat saya jatuh hati. Di postingan sebelumnya saya menulis cerita jalan-jalan ke Zaanse Schans, sebuah desa nan permai di Belanda Utara. Nah, kali ini saya sambung menulis cerita tentang dua desa di Belanda Utara lainnya, yakni Marken dan Volendam.
Ada yang menyebutkan, Marken dan Volendam ibarat saudara kembar. Ya, mungkin lebih kurang seperti itu. Dua desa ini dikelilingi air, air, dan air. Berbeda dengan Zaanse Schans yang serba-hijau a.k.a di mana-mana padang rumput.

Marken

Perjalanan dari Zaanse Schans ke Marken sekitar 45 menit naik bus. Begitu sampai, kami langsung diajak Madam Daniella, kepala tour guide, ke pabrik KLOMPEN. Hayooo … siapa di sini yang langsung keingetan KLOMPENCAPIR? Ha-ha-ha! Ketauan kelen angkatan lama. No, no, no, klompen ini tak ada hubungannya sama sekali dengan klompencapir.
Klompen itu sepatu kayu khas Belanda. Hari gini, orang kota di Belanda sudah jarang pakai klompen untuk aktivitas sehari-hari. Hanya, di pedesaan, klompen masih dipakai oleh petani dan tukang kebun. Klompen kuat dan harganya cukup murah. Kadang-kadang klompen dijadikan semacam mahar di acara pernikahan orang-orang Belanda.
Sekadar info, Indonesia punya KELOM, sandal kayu yang dipakai laki-laki dan perempuan. Khusus untuk perempuan namanya kelom geulis. Kelom berasal dari klompen (bahasa Belanda). Bedanya, klompen sepatu tertutup, sementara kelom sandal terbuka.
Kembali ke pabrik klompen di Marken. Hm, katanya pabrik sepatu, tapi penampakan dari luar seperti rumah biasa saja, tak mirip pabrik sepatu.  Ketika masuk, barulah kami percaya. Di dalamnya berjejer mesin jadul pembuat klompen berwarna hijau. Di langit-langit bergantungan ribuan (yes, ribuan!) klompen berwarna krem pucat belum dicat.
Si bapak pembuat klompen (lupa pulak namanya) mengatakan bahwa klompen sebaiknya dibuat dari kayu balok yang masih fresh supaya mudah dibentuk. Senang ih dengerin penjelasan si bapak. Soalnya doi hobi ngelawak! Mesin pembuat klompen berwarna hijau itu diproduksi tahun 1922, lo. Berarti usianya sudah hampir 100 tahun! Awet!
Proses pembuatan klompen: balok kayu yang masih fresh diserut dengan mesin sehingga berbentuk klompen. Setelah itu, klompen dikikis lagi dengan menggunakan pisau yang amat teramat sangat tajam. Kata si bapak, selain untuk mengikis klompen, pisau ini jugak doi gunakan untuk manikur kukunya sehari-hari. LOL. Lalu, klompen dikeringkan dan dicat sesuai selera.
Harga sepasang klompen sekitar ratusan ribu rupiah. Kami membeli klompen mini berbahan beling untuk pajangan di rumah, bukan berbahan kayu yang untuk dipakai. Salut melihat orang Belanda masih melestarikan keberadaan klompen. 









Banyuaaak kali pilihan klompen di Marken


Volendam

Volendam disebut jugak Desa Nelayan. Perjalanan dari Marken ke Volendam lain daripada yang lain karena harus menggunakan transportasi air. Kami kudu naik kapal feri sekitar 30 menit.
Di pintu masuk kapal, sambil memeriksa tiket, petugas menyapa kami ramah. “Where do you come from? How do you like our country so far?” Kapal ferinya ada restoran. Peserta tur bebas memesan makanan dan minuman, tapi kudu bayar sendiri. Biaya tiket tur tak termasuk biaya konsumsi selama tur, yo. Kami memilih bersabar, makan siangnya nanti saja di Volendam. Orang-orang duduk kongkow di restoran, kami beranjak ke atas, duduk di dek seraya menikmati sejuknya semilir angin dan suara deru kapal membelah air. Saya paling suka melihat kawanan burung camar yang berkumpul di sekitar kapal. Ramai! Mereka terbang riuh rendah dan seolah membiarkan tangan kami menggapai tubuh mereka di udara.  




Di Volendam, kanan kiri berserak toko yang menjual aneka souvenir dari gantungan kunci, magnet kulkas, sampai tote bag. Komplet. Desa yang turis sekali! Kalok diperhatikan, ada tulisan-tulisan berbahasa Indonesia, tapi saya lupa memotret. Hi-hi mungkinkah karena banyaknya turis Indonesia ke sini? Jadi inget Masjid Tokyo Camii di Jepang. Saya melihat tulisan berbahasa Indonesia di pintu masuk masjid.

Keju lagi!
Di Zaanse Schans, kami ke toko keju. Di Volendam, kami ke Cheese Factory Volendam, toko keju lagi cobak! Kawan saya pernah bercanda, pantas saja badan orang Belanda pada bauk keju ha-ha-ha! Keju di mana-mana. Kali ini kami mendengarkan penjelasan noni-noni Belanda soal pembuatan keju. Di Volendam kejunya lebih beragam. Ada keju berbentuk bulat, segitiga, dan segi empat. Ada keju dari hewan usia sekian bulan, sekian bulan, sekian bulan. Seingat saya tak ada yang dari babi. Ada keju kemasan merah, hijau, dan kuning. Teteuuup smoked beef cheese favorit saya. Di sana kami boleh mencicipi keju gratis sesuka hati! Seru!

Volendam




Smoked beef cheese favorit saya!

Pesta stroopwafel!

Madam Daniella memang paling pandaiiii. Setelah icip-icip keju, kami diajak ke Woltje’s Backerij, toko stroopwafel paling enak di Volendam! Seisi tokonya haruuum stroopwafel! Allahu akbar! Tak paham lagi kenapa bisa harum sangat gitu. Bikin ngences. Terkejut-kejut hidung awak yekan. Biasanya nyium aroma daun ubi tumbuk dan sambal ikan teri soalnya.
Stroopwafel adalah lembaran wafel tradisional Belanda yang garing. Rasanya manis karena perpaduan sirup (stroop) dan karamel. Manis, tapi tak terlampau manis. Pas! Jangan khawatir enek.
Kelen bisa memilih stroopwafel rasa original, stroberi, cokelat, dll. Harga dari 2 euro (30 ribuan rupiah). Semua so pasti homemade. Beda rasanya dengan wafel buatan pabrik. Kami menonton cara pembuatan stroopwafel di dapur toko di lantai bawah. Kelihatannya simpel. Entahlah kalok saya yang bikin belum tentu hasilnya bisa seenak itu ha-ha-ha! *hopeless* Kami membeli beberapa bungkus stroopwafel untuk oleh-oleh. Di toko, si bungsu Sulthan tak bisa berhenti mengunyah tester stroopwafel. Sukak kali dia, Inaaang! Eling kau, Nak, eling! Jangan malu-maluin Ummi. :))

Happy Sulthan dengan stroopwafelnya. :))

Sama seperti toko souvenir, restoran jugak berserak di Volendam. Madam Daniella booking satu restoran untuk peserta tur. Makanan dan minuman bayar sendiri-sendiri. Meski begitu, kami dibebaskan makan di restoran lain. Kami memesan menu seafood saja biar aman. Lomak nian. Seafood salah satu menu yang wajib dicoba di Volendam. Sayangnya, saya lupa menyimpan lokasi di Instagram story, alhasil saya lupa blas nama restorannya alamak. Meski seafood, Kawan CM tetap harus bertanya apakah proses masaknya memakai alkohol atau tak, oke. 
Btw, awalnya kami pengin berfoto memakai baju tradisional Belanda di sini. Beberapa toko menyewakan baju tradisional Belanda sekaligus jasa pemotretannya. Dilalah kok saya terselap. Yang diinget makanan terooos. LOL.
            Di antara tiga desa di Belanda Utara yang sudah saya ceritakan, Kawan CM paling tertarik yang mana? Zaanse Schans, Marken, atau Volendam? Kalok saya, pastinya Zaanse Schans! Pemandangan alamnya selalu berhasil membangkitkan memori masa kecil. Memori ini bukan sekadar memori tentang kecintaan saya akan buku-buku dongeng, melainkan jugak betapa bahagianya saya memiliki orangtua yang mencintai apa yang saya cintai. Hingga kini Abah masih melanjutkan kebiasaannya memberikan hadiah buku-buku dongeng. Dulu untuk anaknya, sekarang untuk cucu-cucunya. [] Haya Aliya Zaki

Tiket tur ke Zaanse Schans, Marken, dan Volendam (bonus naik canal cruise di Amsterdam): 
dewasa Rp922.745,00  per orang
anak-anak Rp461.372,00 per orang (4-12 tahun)

Klompenmakerij Marken (klompen)
Kets 52, 1156 AX Marken, Belanda
Buka: Senin - Minggu pukul 11.00 - 18.00

Cheese Factory Volendam (keju)
 Haven 25, 1131 EP, Volendam, Belanda
Buka: Senin - Minggu pukul 10.30 - 17.00

Woltje's Backerij (stroopwafel)
Haven 98, 1131 EV, Volendam, Belanda
Buka: Senin - Minggu pukul 10.00 - 20.00 
 

0 Comment "Marken dan Volendam, Serupa tapi Tak Sama"

Post a Comment

Mauliate komentarnya, yo. Mohon untuk tak mengambil tulisan dan foto tanpa izin, kecuali kalok kelen pengin badan kelen dicincang buat umpan ikan di sungai.