Film “Preman Pensiun”, Ketika Para Preman Betul-Betul Pensiun


          Sejak lama saya mengagumi karya-karya Aris Nugraha, Kawan CM. Beliau menjadi man behind the scene sejumlah sinetron jadoel sukses seperti Bajaj Bajuri, Kejar Kusnadi, dan Radio Repot. Senang kali rasanya waktu jumpa beliau pertama kali di acara temu ilustrator dan penulis di Hotel Papandayan, Bandung, tahun 2006. Aris Nugraha salah satu narsum di acara tersebut. Liputannya bisa kelen baca di postingan Kreativitas, Jangan Pernah Mati!, yo. Kalimat beliau di forum yang masih saya ingat sampai sekarang, “Jenderal Sudirman yang saat itu sakit TBC saja, tetap semangat berperang. Kelen yang sehat, masa malas-malasan menulis?” JEDEEERRR!
            Pada tahun 2015, karya Aris Nugraha kembali menggebrak dunia pertelevisian. Sinetron komedi Preman Pensiun yang tayang di RCTI setiap sore, begitu digandrungi. Sinetron yang menghadirkan warna warni kehidupan masyarakat Jawa Barat khususnya kaum preman di jalanan, pasar, dan terminal. Tokoh-tokohnya berkarakter kuat, sebutlah Kang Bahar (alm. Didi Petet), Kang Muslihat/Kang Mus (Epy Kusnandar), dan Bos Jamal (Ikang Sulung). Kebayang cemana riset karakternya. Alur ceritanya tampil apa adanya tak heboh dibuat-buat macam sinetron kekinian, namun amat sangat menggigit! Suami saya betah nian menonton sampai selesai komplet 120 episode beserta seluruh tayangan ulangnya di teve. :)))) 
Nah, fyi, tanggal 17 Januari 2019 lalu hadir film Preman Pensiun! Film yang disutradarai tak lain dan tak bukan dialah Aris Nugraha (sekaligus penulis skenario) ini merupakan kelanjutan dari sinetron Preman Pensiun. Tentu dengan sinematografi yang lebih keren. Yap, di film Preman Pensiun, para preman betul-betul sudah pensiun jadi preman. Kang Mus berdagang kicimpring, Dikdik (Andra Manihot) jualan jaket, Bohim (Kristiano Purwo) buka bisnis sablon, Kang Gobang (M. Jamasari) beternak ikan lele, Murad-Pipit (Deny Firdaus-Ica Naga) duo satpam pusat perbelanjaan, dll.

 



Alkisah sepeninggal Kang Bahar, Kang Mus memikul tanggung jawab sebagai pewaris Kang Bahar. Bukan perkara mudah. Berbagai masalah antara anak buah maupun mantan anak buah muncul di depan hidungnya dan semua butuh solusi.
Suatu ketika, terjadi peristiwa pengeroyokan di Pasar Baru. Kang Mus segera meminta Ujang (Fajar Hidayatullah), anak buahnya, untuk mencari tahu. Peristiwa pengeroyokan ini bukan pengeroyokan biasa. Korbannya adalah Dayat, adik ipar Kang Gobang. Masalah semakin runyam setelah Dayat akhirnya tewas. Kang Gobang gigih mengejar pembunuh Dayat. Semua mantan preman dikumpulkan. Eng ing eng ... penonton pun dibuat ternganga saat mengetahui siapa dalang di balik peristiwa pengeroyokan Dayat, Saudara-saudara!
 Pastinya pembunuhan bukan kasus sepele. Seumur-umur jadi preman, Kang Mus belum pernah membunuh orang! Kenapa pulak setelah Kang Bahar tiada, dia harus menghadapi kasus seperti ini? Kepalanya serasa remuk. Kang Mus terisak di hadapan Kinanti (Tya Arifin), anak bungsu Kang Bahar. Kata-kata Kang Bahar kembali terngiang di telinganya.
“Setiap pertanyaan harus terjawab di kamu. Setiap persoalan harus selesai di kamu.” – Kang Bahar
Apa pun yang terjadi, kasus pembunuhan Dayat harus tuntas, itu tekad Kang Mus, apalagi mereka semua akan memperingati 1000 hari wafatnya Kang Bahar. Pertanyaannya, mampukah dia?
Cerita film Preman Pensiun ditaburi bumbu menarik di sana sini. Problematika kisah cinta Eneng (Safira Maharani), anak tunggal Kang Mus. Tingkah Mang Uu yang selalu menjawab omongan kawannya dengan kalimat pendek berbahasa Inggris seperti, "Oh my God!", "Thank you.", "No problem.". Dan, ofkors, kelakuan lawak Murad-Pipit! Ketawa sakit perut setiap nonton adegan copot helm. Belum lagi nonton ekspresi Pipit pas ngeliatin lama muka pacar Eneng. LOL! 

murad-pipit
Satu paket :))))

Akting Epy Kusnandar sebagai Kang Mus is totally great! Akting bangun tidur, akting galak, akting menangis, semua natural. SEMPURNA! Yok, rame-rame kita belajar sama Kang Mus walaupun berbadan mungil, doi disegani oleh anak buah maupun mantan anak buah hihi.
Satu pesan moral paling berharga yang saya petik dari film Preman Pensiun, segelo-gelonya para preman di luar sana, di rumah mereka tetap hormat sama orangtua dan sayang istri.  
Kabarnya, film Preman Pensiun melibatkan preman sungguhan. Sayangnya, Bos Jamal dan Kang Komar (Mat Drajat), dua karakter menonjol dalam sinetron Preman Pensiun, urung muncul di film. Meski begitu, absennya dua pemain ini tak mengurangi greget cerita. Lucu, menegangkan, haru, semua jadi satu! Ih, beneran, tak nyangka awak kalok film Preman Pensiun bisa bikin mata berkaca-kaca! Entah siapa yang narok bawang merah di bioskoplah. Nama Aris Nugraha memang jaminan mutu. Kayaknya bakal ada sekuelnya ini. Asli penasaran! Sekadar info, rating film 13+. Dua adegan baku hantam sesama preman agak kurang nyaman ditonton anak kecik. 



         So, Kawan CM terutama penggemar sinetron Preman Pensiun, wajib nonton film Preman Pensiun di bioskop, film komedi tribute to alm. Didi Petet. Dengan menonton film ini, berarti kelen turut memberikan penghormatan kepada legenda dunia perfilman Indonesia, alm. Didi Petet.           
Cerita Melalak kasih apresiasi 4 dari 5 bintang. [] Haya Aliya Zaki  

1 Comment "Film “Preman Pensiun”, Ketika Para Preman Betul-Betul Pensiun "

  1. bawang merahnya memang ada berapa kilo mbak sampai nangis gitu? kayanya akan bersambung gak ya filmnya?

    ReplyDelete

Mauliate komentarnya, yo. Mohon untuk tak mengambil tulisan dan foto tanpa izin, kecuali kalok kelen pengin badan kelen dicincang buat umpan ikan di sungai.