22 Hal yang Saya Amati di Jepang (bagian I)

Seperti yang udah saya ceritakan di postingan 10 Perlengkapan yang Wajib Dibawa Saat Liburan Musim Dingin di Jepang, kami sengaja mengambil liburan 8 hari di Jepang supaya bisa lebih selow senang-senang dan cari wawasan baru. Ini jenis travelling yang saya suka. Saya paling tak bisa jalan-jalan diburu-buru waktu. Pernah sekali PP Jakarta-Singapura-Jakarta berdua sama suami. Alamak, rasanya “tersiksa”. Kami jalan kayak orang kebelet di ujung. Bawaannya pengin cepat-cepat terus. Berfoto cepat-cepat, makan siang cepat-cepat, dan belanja pun cepat-cepat! Akhirnya awak pun sesak napas. LOL.

Alhamdulillah, liburan kali ini di Jepang, saya bisa mengamati beberapa hal. Pertanyaan yang terlintas di kepala, saya gali lebih dalam dari Azizah Fatimah (IG @azizah_nf), sepupu saya yang tinggal di Shiga Prefecture, Jepang. Dia udah cukup fasih berbahasa Jepang jugak. Tempo hari Zizah sempat menemani kami jalan-jalan seharian ke Kyoto dan sekitarnya. Kami banyak bercakap soal Jepang dan kebiasaan penduduknya.

Oke, ini dia rangkuman hasil pengamatan saya. Yok, kita breakdown satu per satu. Di Jepang itu ….

1. senyap
            Kesan ini langsung berasa waktu saya menjejakkan kaki di New Chitose Airport, bandara di Sapporo. Beberapa hari di Jepang saya belum pernah mendengar bunyi klakson, suara orang mengobrol kencang-kencang, atau seperti kata Upit (heiupito.com), tak ada suara babang-babang jualan getuk lindri sambil nyetel lagu Nella Kharisma (yaaa iyalaaah, Pit!). Semua serba-tenang. Sesekali aja kedengaran suara ambulans. Suka!

Kondisi ini bertolak belakang dengan kondisi di Hong Kong International Airport (kami transit beberapa jam di HKIA). Suara orang berbicara riuh kedengaran di sana-sini, termasuk gerabak gerubuk suara baki (untuk menaruh tas dll saat pemeriksaan di bandara). Kata suami yang udah beberapa kali dinas keluar negeri, kondisi ini belum ada apa-apanya dibandingkan Tiongkok atau India. Penduduknya sering cakap teriak-teriak macam orang berantam, padahal bukan sedang berantam.
          
2. BERSIH!
            Soal kebersihan, Jepang memang juaranya! Kawan CM pasti udah sering dengar, kan? Jepang itu bersiiih-sih-sih, padahal kami jarang jumpa tong sampah di sana. Penduduknya udah punya kesadaran, seandainya tak jumpa tong sampah pun, mereka akan simpan sampah mereka untuk dibuang di tong sampah di rumah. Pernah sekali saya melihat secuil sampah kertas di stasiun. Sampah itu langsung dipungut oleh penjaga stasiun dan dibuang ke tong sampah. 

            Jadi, saya sering bingung kalok presenter teve kita ngomong, “Hujan menyebabkan banjir.” Apakah mereka tak tahu kalok salah satu penyebab banjir adalah sampah yang dibuang sembarangan? Kenapa hujan yang disalahkan? Hujan itu rahmat. Bayangkan, hampir ribuan ton sampah dibuang ke Kali Ciliwung setiap hari. Cemana pulak tak mengundang banjir.


BERSIH!

3. sulit mencari makanan halal
            Soal ini saya udah pernah cerita di postingan 10 Perlengkapan yang Wajib Dibawa Saat Liburan Musim Dingin di Jepang. Rata-rata resto hanya menjual pork. Kaldu ramen dari rebusan daging dan tulang pork. Topping pizza daging pork. Jika mereka menjual beef, biasanya mereka masak beef dan pork dalam satu dapur. Sama aja tetap awak tak bisa makan. Camilan seperti permen jugak mengandung gelatin babi. Belum termasuk makanan dan minuman yang mengandung alkohol. Kawan CM yang muslim dan akan mengajak anak traveling ke Jepang, mungkin sebaiknya membawa camilan sendiri dari rumah.

            Klen yang pengin makan makanan halal, googling dulu lokasinya. Ramen ada yang halal kok. Btw, saya merekomendasikan resto The Kebab Factory di Asakusa. Seumur-umur makan kebab, inilah kebab yang paling lomak rasanya! Harga lumayan bikin kantong koyak. Kami beli 3 porsi nasi kebuli dengan lauk daging kebab total harga hampir 7000 yen (Rp800 ribuan). Yaaa sekali-sekali bolehlah buat pengalaman. Bonus pemandangan babang-babang keturunan Turki yang ganteng. Halah.



4. penduduknya sopan-sopan
Cara mereka bicara, melayani, dll itu sopan sangat. Bahasa tubuh mereka saat menaruh koin kembalian di nampan aja kelihatan haluuus gitu hahaha. Saya pernah mengambil video kereta bandara yang sedang melaju di Tokyo Station. Saya baru selesai ketika pintu kereta terbuka selama beberapa detik. Keasyikan mengambil video, saya tak menyadari kehadiran pria Jepang di sebelah saya. Dia melihat ke arah saya sambil memberi isyarat dengan sopan apakah saya udah selesai atau belum. Saya mengangguk dan mempersilakan dia masuk ke kereta sambil tersenyum malu.    

5. penduduknya rajin antre
            Persis kayak yang saya lihat di Singapura, penduduk Jepang penganut budaya antre yang taat. Antrean masuk macam-macam wahana di Tokyo Disneyland itu panjang, tapi karena antreannya rapi, tahu-tahu udah giliran kita aja. Pengalaman main di Tokyo Disneyland akan saya tulis terpisah. Contoh paling gampang dan bisa dilihat sehari-hari ya mereka selalu antre (antre yang benar-benar baris lurus) sebelum masuk kereta. Tak pernah sejarahnya ada yang menyerobot masuk.  

6. anak-anak di Jepang mandiri
            Entah udah berapa kali saya membaca dan mendengar tentang anak-anak Jepang yang mandiri. Dan, waktu liburan tempo hari saya menyaksikannya sendiri. Suami duduk bersebelahan dengan anak perempuan berumur 7 tahun di kereta dari Sapporo ke Asahikawa Station. Anak itu tak didampingi orangtua atau orang dewasa. Perjalanan di kereta lumayan lama sekitar 2 jam. Begitu sampai di Asahikawa Station, si anak dijemput oleh ibu dan saudaranya.

            Menurut saya, kondisi anak bepergian tanpa teman ini didukung oleh lingkungan Jepang yang aman. Rasanya mission impossible kita melepas anak kita melenggang, sementara kita masih disergap rasa takut anak kita dipepet begal. Anak perempuan pulak. Jepang minim kriminalitas. Kata Azizah, beberapa kali dia ketinggalan barang di suatu tempat, ketika dia kembali, barang tersebut masih ada. Tugas koban (polisi) di sini biasanya menanggapi aduan orang-orang karena tetangga mereka yang bising, menilang pengendara yang tak punya SIM, dan sejenisnya. 
  
7. penduduknya jarang yang bisa bahasa Inggris
            “No, no English.” Ini kalimat yang sering saya dapat setiap saya mengajak orang-orang di Jepang berbahasa Inggris. Alhasil, kami pun berkomunikasi pakai bahasa isyarat. Mari mainkan tangan, mari mainkan bibir, mariii. Jangan khawatir, tak perlu sampai goyang ngebor kok. LOL. Orang Jepang memang terkenal super-bangga dengan bahasanya sendiri. Mereka jarang bisa bahasa asing, tapi mereka bisa membuat penduduk negara lain belajar bahasa mereka. Hebat, yo. Cuma yang repot itu waktu kami main ke Tokyo Disneyland. Makjang, semua atraksi dan omongan gaet di wahana pakai bahasa Jepang! Kami manggut-manggut sambil elus janggut ajalah. Ecek-eceknya ngerti gitu. Saya kepikiran, apa lain kali kami main lagi ke Disneyland, tapi yang di Hong Kong karena pakai bahasa Inggris. Nasiiib.

Btw, Kawan CM bisa memanfaatkan Google translate untuk menerjemahkan huruf kanji di mana pun di Jepang seperti di kemasan makanan, plang petunjuk, dll. Scan aja pakai ponsel, nanti terjemahannya muncul.   

8. penduduknya selalu naik transportasi umum
            Semasa di Jepang, cuma 2 kali saya jumpa orang naik sepeda motor. Ojek? Jelas tak ada. Jumlah mobil di jalan raya pun bisa dihitung dengan jari. Jalan raya sering lengang. Sebagian orang bilang, Jepang jago memproduksi kendaraan (mobil dan sepeda motor), tapi bukan untuk mereka pakai. Yang memakai adalah penduduk di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ih, kok cerdik kali?

Kereta dan sepeda jadi transportasi utama. Jinrikisha (becak yang ditarik tenaga manusia) hanya untuk wisata. Jinrikisha ada di Arashiyama (Kyoto) dan Asakusa (Tokyo). Babang-babang jinrikisha bisa sekalian jadi pemandu wisata. Sebagian dari mereka bisa berbahasa Indonesia seketek-seketek. Tarif sekali naik jinrikisha selama 15 menit itu 4000 yen (Rp500 ribu). Terkejut klen? Sama hahaha. Klen yang punya hepeng lebih, silakan coba naik jinrikisha. Saya pass dulu. :p

Ke mana-mana naik kereta
Orang Jepang senang naik sepeda
Jinrikisha, becak yang ditarik manusia

Kalok jaraknya tak pala jauh, ke mana-mana lebih enak jalan kaki. Ngiler awak nengok trotoar di Jepang yang lebar dan bersih. Pejalan kaki benar-benar dimanjakan di sini. Usah takut nabrak gerobak babang ketoprak atau mijak jengkol jualan inang-inang di kaki lima. Hm, kapan ya Indonesia bisa macam ini? Berkhayal dulu tak apalah. :)

9. tak ada penduduk yang overweight
            Di Jepang, hampir tak pernah saya jumpa orang overweight, apalagi obesitas (obes). Orang Jepang concern menjaga kesehatan, salah satunya karena pemerintah mengenakan denda kepada penduduk yang obes. Semua penduduk Jepang mendapat jaminan pelayanan kesehatan dari pemerintah dan pemerintah menjaga pengeluaran over budget pengobatan penyakit komplikasi karena obes. Prinsipnya, lebih baik mencegah daripada mengobati. Ada undang-undang khusus yang mengatur. Itulah sebabnya olahraga jadi mata pelajaran penting di sekolah selain math dan science.

            Kebiasaan penduduk Jepang mendukung program kesehatan pemerintah, yakni kebiasaan naik kereta dan naik sepeda tadi. Fyi, kalok mau naik kereta kan kita mesti jalan kaki ke stasiun. Lumayan jalan kakinya. Di stasiun, naik turun tangga. Tak ada becak. Tak ada ojek. Naik taksi? Mahalnya bikin kejang-kejang. Mimpi kalok mau malas-malas. So, di Jepang klen otomatis langsing. Beda sama di sini, pengin main ke simpang aja kita bisa order gojek hihihi.   

10. toiletnya canggih!
            Sedingin apa pun suhunya di luar sana, rasanya nyaman bleh begitu ndeprok di toilet umum di Jepang. Dudukan toiletnya hangaaat hahaha. Air cebokannya jugak hangat. Toilet di Jepang banyak tombol, tapi klen tak akan bingung menggunakannya. Petunjuknya jelas, ada tulisan dan gambar.

Toiletnya canggih

            Mohon mangap kalok postingan ini berakhir dengan cerita toilet. Cemana, dah bosan belum klen baca cerita saya? :)) Apakah ada yang punya pengalaman berbeda? Share di sini yok. Saya masih punya 12 poin lagi untuk dibahas. Besok-besok lanjut ke postingan 22 Hal yang Saya Amati di Jepang (bagian II). Bhaaayyy!  [] Haya Aliya Zaki

68 Comments " 22 Hal yang Saya Amati di Jepang (bagian I)"

  1. aku senyum-senyum saat anakmu yang kecil diusilin pas beli es krim itu :))

    duh jepang, kemarin aku udah cek2 buat jalan-jalan 2 minggu hampir 20 jt :)) mundur dulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayoook semangat nabung, Ded! Ke Jepang gak enak kalok cuma sebentar soalnya. ๐Ÿคฃ

      Delete
  2. Kebabnya mahal ya mbak.oke kayaknya aku harus belajar bahasa jepang dikit-dikit ya, siapa tahu bisa liburan kesana.bayangin anak 7 tahun bepergian sendiri.duh belum bisa ya diterapkan di indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biaya hidup di sana tinggi, Mbak. Soal bahasa, kami pake bahasa isyarat aja sekali-sekali Google translate. Yang anak perempuan itu aku terkejut jugak. Aku cari-cari ortunya, ternyata memang sendirian dia.

      Delete
  3. Alamaaak ����
    Muncul pula komenan aku tentang babang getuk lindri dan nella kharisma ���� ditunggu postingan part II ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku masukin ya Pit gemesin soalnya. *apa sih* ๐Ÿ˜‚

      Delete
  4. Aamiin...

    Informatif dan menghibur. Terima kasih Mbak Haya ��

    ReplyDelete
  5. Selalu ingin kesana lagi....
    Mmg Jepang itu homy bgt ya..mbak.
    Kerasan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak masih banyak jugak yang belum dieksplor di sana. Semoga ada kesempatan balik lagi. ๐Ÿ˜

      Delete
  6. Makasih Mbak Haya udah sharing, setidaknya saya jadi punya gambaran gimana kalo ntar ke Jepang, tapi ntah kapan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini berdasarkan pengalaman saya aja, Mbak. Mungkin pengalaman kawan yang lain beda. Aamiin semoga ada jalannya ke Jepang. Semoga manfaat ya, Mbak. ๐Ÿ˜Š

      Delete
  7. Nunggu cerita keduanya mbak, sedikit tahu ttg jepang setelah membaca cerita ini

    ReplyDelete
  8. Ahahaha... Ini salah satu tulisan yang kubaca dari awal sampe habis.... Hemm... Kapan waktu ada temen yang ke Jepang trus.. Dia baea cemilan. Permen cokelat gt.. Dan biskuit2 lain... Trus aku doyan sampe mau abis.... Skr baru mikir de itu halal ato gak ya? Ahahaha....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaa iya Dek. Kalok jajanan biskuit cokelat dll itu aku tak beli. Takut kadung mupeng tahu-tahunya tak halal. ๐Ÿคฃ

      Delete
  9. Point yang ke 9, tentang tak ada penduduknya yg overweight ini Aku baru tau lho Mba. Ternyata masyarakat dan pemerintahnya sangat concern terhadap kesehatan ya.

    Ditunggu sharing selanjutnya ya Mba Haya, Love it.. Berharap punya kesempatan berlibur ke Jepang juga. Aamin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pun awalnya tak ngeh, Evi. Lama-lama kuperhatikan kok iya ya tak ada orang yang overweight di Jepang. Akhirnya nanya ke sepupu aku dan dijelasinlah soal peraturan pemerintah itu.

      Delete
  10. Soal keteraturan dan kebersihannya itu impian banget buat Indonesia supaya bisa kayak gitu suatu saat nanti. Mungkin dengan banyak orang yang berangkat ke luar negeri, melihat negara lain yang tertib, pulangnya bisa ikut kebiasaannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kami mengajak anak-anak maksudnya sekalian mengedukasi anak-anak jugak, Lia. Aku nulis ini pun jugak untuk mengajak pembaca ngikut kebiasaan yang baik-baik dari orang Jepang. Mudah-mudahan aku sendiri bisa menjalankan dan konsisten. ๐Ÿ˜

      Delete
  11. Bersih bangetttt jalannyaa.. tersepona.
    Smbil baca tulisan dikau ni cikgu aku do'alah dlm hati smoga yg baik2 dr Jepang ini, suatu saat, bisa ditemuin di sini, negeri sendiri. Amin. Btw ditunggu lanjutannya ya cikgu. Matur nuwun sharingnya. Sukaaakk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiiih. Tunggu episode berikutnya minggu depan haha.

      Delete
  12. Waaah mupeng pengen ke Jepang jadinya, anakku pengen liat pinguin sperti yang mba Haya posting di IG tempo hari. Tapi masih harus nabung banyaaak dulu. Moga ada rejekinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penguinnya ginuk-ginuk gitu ya, Mi. Aamiin semoga ada jalannya ke sana, ya. Nothing is impossible. :)

      Delete
  13. "Saya mengangguk dan mempersilakan dia masuk ke kereta sambil tersenyum malu".

    Hmm... *bayangin Omak lagi tersenyum malu ��

    Oya,mengenai masyarakat Jepang yang hampir ga ada yang overweight, gimana cerita si Sumo yo Omak? Apakah itu ada kebijakan khusus buat mereka?

    Mokasih udah berbagi inpoh yo, Omaaak ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mba dewi,, bantu jawab sm numpah nyampah yaa ๐Ÿ˜
      Kalo sumo itu mmg overweight tp beda jenis penyakitnya dgn obesitas kebanyakan yg sering ditemui. Krn latihan fisik dan asupan makan mereka sangat diatur ketat bahkan ada sekolah asrama khusus utk mengontrol mereka. Jd sumo juga bukan asal gendut. Maap ya, Gemuknya sumo itu beda sm gemuknya org obes. Dan tuk jaminan kesehatan mereka jg lbh diperhatikan dibandingkan masyarakat sipil gitu.

      Moga jawabannya membantu ya ๐Ÿ˜‰

      Delete
    2. Omak biasanya malu-maluin ya bukan malu-malu. :)))
      Nah, itu Zizah udah nongol bantu jawab. :D Jadi kalok sumo itu katanya malah sangat didukung pemerintah, Wi. Peraturannya beda sama peraturan yang diterapkan pada penduduk sipil biasa. Gemuknya bukan asal gemuk, beda sama orang overweight lainnya. Ada ahli yang mengontrol pola makan mereka dan memperhatikan kesehatan mereka. *lho aku malah ngulang jawab ini ya wkwkw

      Delete
  14. Suka bacanya. Lucu cara bertuturnya hehehe. Makasih sharingnya ya, Mbak ��

    ReplyDelete
  15. Salah satu negara destinasi impian nih. Btw soal toilet yang gambar nada itu buat menyamarkan suara kan ya mbak? Biar nggak terdengar brat brot brat brot dari balik WC, hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Wiii wkwkwkw. Nanti ada suara air atau suara burung gitu untuk menyamarkan. (((MENYAMARKAN)))

      Delete
  16. Berarti kita pun jangan sampai overweight ya kan? Cuma di sini mau jalan kaki atau transportasi umum secar safety dan kenyamanan masih kurang.
    Setujuuuuu dengan toiletnya. Ada lagunya pula, jadi gak malu klo ada bunyi2 hahah...

    Btw, kok layout blog agak kurang rapi keknya Kak Haya? Dulu g kek gini.

    ReplyDelete
  17. Ini ni ya aku tunggu2,selain ngiler lihat foto2 di ig....oleh2 ceritanya bener2 kayak aku ikutan ke Jepang hehehe. Keren banget ya mak Jepang,semoga awak bisa kesana..aamiin

    ReplyDelete
  18. Ihhh aku dah komen beberap kali dari mobile. Ternyata gagal terus, karena ga bisa centang "i am a human". Hiks.

    Nah, cari makanan halal ini memang betul, susah betul di sana. Oleh-oleh pun harus dibaca benar-benar.
    Dan aku setuju, bersihnya itu lho...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kak. Kami tak bawa oleh-oleh makanan dari sana. Takut tak halal. Jepang memang bersih-sih-siiih.

      Delete
  19. Aku jadi semakin pingin ke jepang. Hehehe. Terima kasih semakin membuatku ngiler tentang Jepang. Ditunggu ceritanya ya

    ReplyDelete
  20. Sepiiii...trus inget suasana pas nginep di tmp tmn di Spore juga mirip gitu. Sampai2 suara derap kaki tu kedengeren saking senyapnya, padahal bukan tengah malam. Dan sampai Surabaya kuping agak kaget karna bising hahaha.
    Jadi penasaran apakah sesepi itu juga di Jepang. Semoga keturutan bisa ke sana juga cem mbak Haya, aamiin ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Singapura juga senyap, ya? Sepertinya Jepang lebih senyap wkwkw. Aamiin semoga ada jalannya ke Jepang. ^^

      Delete
  21. Aku benar-benar menikmati semua foto dan ceritanya.
    Takjub dengan anak 7 tahun yang bepergian sendiri. Kalau di kita jangan harap deh, culik, rampok mengintai dengan asyiknya. Masih belum siap kalo Indonesia melepas anak 7 tahun sendirian naik transportasi umum :D
    Budaya Jepang yg bikin salut untuk urusan ketertiban dan kedisiplinannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Buk aku juga takjub ini. Tapi situasinya memang aman.

      Delete
  22. Waah itu toiletnya ada musiknya juga. Hihi. Btw jalannya bersih amat ya, mbak sampai bisa tidur-tiduran di atasnya kayaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersih dan bebas polusi karena kendaraan bermotor sikit di sana. :D

      Delete
  23. jepang itu sangat tertib dalam segalah hal, dan patut kita contoh ya. transportasinya, kebersihannya, disiplinnya

    ReplyDelete
  24. Seru banget tp lucu juga ya, kemarin sempat lihat di acara tv alat translator gitu salah satunya diperuntukan buat yang suka main ke Jepang, cuma memang harganya lumayan. Kalau gak faham ngobrol suka penasaran aja. Hehehe.... Aaaaaah pengen kesana :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, ada alat translator gitu lumayan membantu jugak, ya. Bisa buat ngobrol sama mereka hihi.

      Delete
  25. Ya ampuun saya jadi mupeng pengen ke Jepang Mba Haya, tapi susah yang halal jadi mikir-mikir lagi hahahaha


    Ditunggu lanjutannya Mba Haya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha bisa diatasi kok soal makanan nonhalal itu, Dek. Senang-senangnya lebih banyak. Dijamin tak kecewa kalok main ke Jepang. :D

      Delete
  26. Hai Bu....asik ya ke Jepang...pengen someday ajak keluarga juga..thanks ya sharing tripnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wikaaan, apa kabar? Sama-sama, makasih udah singgah. :)

      Delete
  27. Di antara semua negara yg prmh aku dtgin, jepang termasuk negara yg ga akan pernah bosen dikunjungin balik :). Thn depan mau kesana lg.. Eh sodaramu di shiga mba? Adekku sempet di shiga.. Skrang sih dia di osaka juga tp kota lain.

    Keramahan org jepang memang beda. Sopaaaaan bgt ya. Drastis lah kalo disamain ama korea misalnya :p. Kmrn itu abis dr jepang, kita lanjut korea. Di bandara, stasiun subway, agak shock pas liat orang2 yg ditanya jalan, malah kayak ngomel2.. Pdhl kita nanyanya ama informasi. Bedalah ama org jepang yg lgs sigap pas ada turis nanya.

    Toiletnya juga yg paling aku suka hahahaha.. Bener ya , dudukannya hangat..

    Kalo makanannya memang susah sih, tp kmrn aku pake prinsip, ya sudahlah yg ptg dagingnya ga babi. Mau dimasaknya bareng, yo wis...

    Tp di antara semuanya mba, kenapa aku tergila2 ama jepang, itu krn rollercoaster kelas dunianya banyak bgt ada di jepang :p. Dan alasan aku mau ksana lg thn dpn itu utk menjajal rollercoaster yg kmrn blm bisa aku coba :p. Dodonpa, white cyclone, ya ampuuun, bayanginnya aja lgs excited

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa, sepertinya Jepang tak bakal bikin bosan ya, Mbak. Aku tengok beberapa kawan jugak bolak-balik melalak ke Jepang. Ke Korea aku malah kurang minat. Nantilah kalok punya bujet yang lebih betul haha.

      Ajiiib dirimu memang senang sama wisata yang memacu adrenalin gitu, ya. Bungee jumping, sky dining, dst. Aku tak sanggup, Mbaaakkk. Takut jantung melorot. >.<

      Delete
  28. Ckckck.. Telan bulat bulat dulu cerita Omak Melalak ini

    Makasiiiiiih

    ReplyDelete
  29. Mba suka banget baca ceritanya karena aku belum pernah ke Jepang :) Tapi kok syok lihar harganya nasi kebuli yang 800k hahahah

    btw untuk naik kereta dan bus di Jepang susah nggak mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Transportasi umum mudah sekali dan selalu on time di sana, Mbak. Di setiap stasiun ada peta dan brosur untuk jadi panduan kita. Di Jepang itu well organized. :D

      Delete
  30. Baru baca bagian pertama aja udah mupeng berat, kak. Pengen suatu saat bisa melalak ke Jepun lah..

    ReplyDelete

Jadilah golongan orang-orang beruntung, yakni orang-orang yang komen sesudah membaca. #eaaakkk