Saat Mati Gaya di Dapur Saatnya So Good Beraksi


Salah satu cita-cita mulia sebelum menikah (ehm) adalah saya bakal mendedikasikan diri di dapur, selalu memasak makanan enak dan bergizi untuk keluarga. Sayangnya, kenyataan tak seindah angan-angan, terutama setelah punya buntut tiga. Waktu terasa semakin sempit! Konon pulak saat suami dinas keluar negeri sampai berminggu-minggu. Segala urusan dari domestik, dapur, kerjaan menulis, mesti awak pegang. Beberapa kali kejadian mengambil rapor anak-anak pada tanggal yang sama, itu tuh rasanya pengin membelah diri aja. Selesai ambil rapor si sulung di sekolah A, saya langsung loncat ambil rapor si tengah di sekolah B, sementara rapor si bungsu udah menunggu di sekolah C. LOL.     
Nah, urusan dapur lumayan sering bikin pening. Besok mau masak apa, ya? Semalam udah makan ayam, masa mau makan ayam lagi? Ini ikan cocoknya digoreng, dibumbu kuning, atau disenyumin aja gitu siapa tahu bisa langsung berubah jadi ikan asam manis? Akhirnya, makanan beku pun jadi pelarian terbaik haha.    
Yap, dengan adanya makanan beku, kita tak perlu lagi waktu berjam-jam untuk menyiapkan makanan, Kawan CM. Keluarkan makanan dari dalam kemasan, goreng selama sekian menit, selesai! PRAKTIS, kan? Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap hampir 4000 orang Indonesia, sekitar 68% rutin mengonsumsi makanan beku. Selain praktis, harga makanan beku lumayan murah, stok mudah didapat, dan rasa pulak nikmaaattt.  (tirto.id, 2016).    
Brand makanan beku andalan saya pastilah So Good. Baru-baru ini saya dan kawan-kawan blogger diundang ke acara launching logo dan kemasan baru So Good sekaligus menghadiri talkshow edukasi mengenai pentingnya mengonsumsi protein hewani bersama para narsum yang kece markece di The Hook Resto & Bar, Jakarta (27/2). Penting kali infonya ini buat kita omak-omak pejuang dapur macam kita woi. 
Logo dan kemasan baru So Good
So Good lahir pada tahun 1999. Sejak awal, So Good berkomitmen menghadirkan produk protein hewani berkualitas untuk keluarga Indonesia. Seperti yang kita tahu, logo lama So Good berbentuk kotak dengan sentuhan biru tua dan hijau.
Kini logo lama So Good dipertajam dengan adanya lingkaran emas, di mana lingkaran emas melambangkan trust. Di antara lingkaran emas dan kotak So Good terdapat background berwarna hijau yang memiliki arti fresh dan natural. Insya allah semua produk So Good HALAL.
“Lebih Baik So Good” ~ slogan So Good yang baru


Logo dan kemasan baru So Good

Di logo yang baru ini saya tengok ada banyak simbol. Pak Soegiono (Head of Marketing and New Business Development PT So Good Food) menjelaskan simbol-simbol tersebut. 
- Simbol ayam, daging, ikan, udang, dan telur sebagai sumber protein yang dibutuhkan oleh tubuh.
- Simbol topi chef dan alat masak yang berarti So Good adalah ahli dalam memberikan pengalaman gizi kuliner.
- Simbol senyum dan jempol menandakan rasa puas dan bahagia dari para pelanggan akan hadirnya produk So Good. Yay seru!   
            So Good bekerja sama dengan pemerintah dan instansi-instansi terkait memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menerapkan pola hidup gizi seimbang. Jadi, makan bukan asal kenyang. Sekitar 38,7% anak balita kekurangan gizi dan 58,4% anak perempuan di Indonesia menderita anemia. Cemana mau bersaing sama dunia luar kalok anak-anak kita lemah letoy lesu lunglai kekurangan gizi?  
Manfaat protein hewani
“Pola hidup gizi seimbang memiliki 4 pilar, yakni makanan harus bervariasi, lakukan aktivitas fisik secara rutin, perilaku bersih dan sehat selalu dijaga, dan pantau berat badan supaya tidak overweight atau underweight,” jelas Maria Harfanti (Duta Gizi Japfa Foundation). Apa dan gimana Japfa Foundation akan awak bahas di bawah. Kami sempat menonton video kunjungan Maria ke pabrik So Good di Cikupa, Tangerang. Mau tahu proses pengolahan ayam dari peternakan sampai ke meja makan kita? Yok, sekarang giliran klen yang menonton videonya. 


Ayam-ayam di pabrik So Good tak disuntik hormon dan semua bebas formalin. Ayam dipotong di rumah potong ayam bersertifikasi dan diproses mengikuti kaidah ISO. Aman, bersih, sehat, dan halal.
Selama menjadi duta gizi, Maria berpesan bahwa penting sekali berkolaborasi dengan pemangku kepentingan masyarakat di daerah yang mereka kunjungi. Lalu, edukasi kepada orangtua dan anak-anak tentu berbeda. Kalok kepada anak-anak biasanya Maria memberikan edukasi berbentuk games dengan bahasa yang mudah dipahami.      
Selain ayam, So Good punya produk ikan, udang, sosis, dll. Kami sekeluarga suka makan pangan hewani. Rasanya nikmat dan gurih! Kata Prof. Hardinsyah, MS., PhD. (Ketua Umum PERGIZI Pangan Indonesia), rasa gurih itu berasal dari asam glutamat yang ada di dalam protein pangan hewani. Protein bermanfaat untuk regenerasi sel-sel yang rusak, pembentukan hormon, meningkatkan kekebalan tubuh, pembentukan gen, berperan dalam kesehatan kulit-rambut-otot, dan masih banyak lagi.
            Tip memilih daging ayam yang bagus sbb: daging tampak segar, warna daging berwarna putih kemerahan (tak pucat), dan tak banyak mengandung air. Tip memilih ikan sbb: insang berwarna merah dan jika daging ikan ditekan, tak nampak cekungan. Daging ayam dan ikan tak boleh berbau busuk atau formalin.   
 
Prof. Hardinsyah, MS., PhD.
Beku bukan berarti tak bagus
            Sebagian orang mengira kalok makanan beku itu tak bagus, padahal produk dibekukan untuk mencegah bakteri berkembang biak. Sekali lagi, tak ada pengawet yang ditambahkan ke produk So Good. Cukup simpan di dalam freezer pada suhu -18oC. Insya allah nutrisi dan rasa tetap terjaga. Produk aman dikonsumsi sebelum tanggal kedaluwarsa. Saran saya, sebaiknya Kawan CM tak membeli produk So Good yang tak disimpan di dalam freezer oleh penjual.   
Kolaborasi So Good dengan Japfa Foundation
            Demi mendukung program pemerintah menerapkan pola hidup gizi seimbang, So Good menggandeng partner yang memiliki visi dan misi sama, yakni Japfa Foundation
Japfa Foundation berdiri pada Maret 2015. Fokusnya mengembangkan potensi kaum muda melalui pendidikan teknologi pangan dan gizi. Jadi, kalok klen pengin belajar ilmu tata rias atau penerbangan, jangan masuk ke Japfa Foundation, yo. Salah besar itu bah. 
Pak Andi Prasetyo (Head of Japfa Foundation) menjelaskan bahwa gerakan Japfa Foundation bukan “cuma” bagi-bagi makanan ke suatu daerah. Gerakannya lebih masif daripada itu. Rencananya nanti akan ditempa generasi penerus yang berkecimpung di di dunia wirausaha sosial pangan dan gizi. Keuntungan yang didapat dari berwirausaha, sebagian digunakan untuk mendukung program pangan dan gizi selanjutnya. Japfa Foundation berkolaborasi dengan pihak pemerintah, swasta, akademisi, media, blogger, dan industri seperti PT So Good Food. Semoga kolaborasi ini membawa dampak perbaikan gizi di negeri kita.     
Btw, beberapa bulan lagi kita menyambut bulan suci Ramadhan. Jelas kita butuh bahan makanan yang praktis dan bergizi untuk sahur keluarga. Cocok kalilah kalok awak nyetok aneka produk So Good di freezer nanti. Udah tak adalah itu namanya mati gaya di dapur. Cemana dengan Kawan CM? Klen suka produk So Good yang mana aja? [] Haya Aliya Zaki

4 Comments "Saat Mati Gaya di Dapur Saatnya So Good Beraksi"

  1. Setuju banget Mamaaak, apalagi judulnya ituuu gue banget. Hahaha.
    Di saat butuh masak cepat tapi rasanya lezat, So Good jadi andalan yang pastinya disukai banget sama anak-anak.

    Tapi asli masih penasaran sama yang varian ayam potong. Belum ada di Palopo, huhuu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga sebentar lagi masuk ke Palopo. So Good teman sejati pejoeang dapoer seperti kita. :))))

      Delete
  2. Aku dari dulu konsumen setia So Good. Praktis,enak pulak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mbak. Pertolongan pertama untuk kita yang waktunya mepet-pet-pet-pet.

      Delete

Jadilah golongan orang-orang beruntung, yakni orang-orang yang komen sesudah membaca. #eaaakkk