Kota Medan memang dikenal sebagai kota surga bagi para pecinta durian. Musim tak musim, durian selalu ada menggoda di sana. Salah satu tempat jualan durian yang paling dicari adalah Ucok Durian.
            Dulu Ucok Durian terletak di Jalan Iskandar Muda no. 75C–75D Medan. Beberapa tahun lalu, tempatnya masih sederhana, di pelataran parkir ruko. Sekarang? Ucok Durian pindah ke Jalan KH. Wahid Hasyim no. 30–32 Medan. Tempatnya jauh lebih luas dan bangunannya bertingkat. Di sudut-sudut bangunan terpancang beberapa banner brand terkemuka yang menjadi sponsor. Lampu-lampunya terang dan semarak. Kini Ucok Durian tak hanya menjual durian, tapi jugak aneka makanan olahan dari durian seperti pancake durian, es krim durian, durian beku, dll.
Dua puluh tahun lebih berjualan durian, Ucok Durian semakin sukses. Salut sama Bang Ucok. Beliau cuma lulusan SD, tapi jiwa entrepreneur-nya luar biasa. Orangnya gigih dan pantang menyerah. Saya melihat artikel aneka koran ibu kota yang memuat profil dirinya dipajang di dinding bangunan Ucok Durian.      
Ketika saya datang, suasana di Ucok Durian tampak ramai seperti biasa. Mobil dan bentor (becak motor) berjejer parkir. Puluhan pengunjung memadati tempat. Ada yang asyik bercakap sambil makan durian, ada pula yang ikut sibuk memilih durian.
            “Tempat ini tak pernah sepi. Pembelinya selain dari kota Medan sendiri, ada jugak yang dari luar kota seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Bali, bahkan dari luar negeri seperti Malaysia,” demikian kata Zainal Abidin, nama asli 'Bang Ucok' pemilik usaha Ucok Durian. Untuk memenuhi antusiasme pembeli, Ucok Durian dibuka 24 jam setiap hari dalam seminggu. 


Bang Ucok, pemilik usaha Ucok Durian

            Ke Medan kalok belum makan durian, rasanya ada yang kurang. Dan, katanya, durian yang paling lomak di Medan adalah durian Ucok Durian. Tak terhitung kalangan artis dan pejabat yang pernah menyambangi Ucok Durian, bahkan November tahun lalu Presiden Joko Widodo pun sempat menikmati lomaknya durian Ucok Durian. Apa sebetulnya yang membedakan durian Ucok Durian dengan durian di tempat lain?
          Pertama, kualitas durian. Daging durian Ucok Durian mengilap, tebal, dan empuk, bentuknya rapi bersusun macam kucing titun (kucing tidur–istilah Medan). Rasa durian terbagi tiga, yakni durian pahit, manis, dan legit (manisnya sedang). Bang Ucok dan para pegawainya yang bersarung tangan tebal tampak lincah memilih durian sesuai permintaan pembeli. Cukup dengan mencium aroma durian, mereka tahu apakah durian yang mereka pegang itu durian pahit, manis, atau legit.
“Durian yang pahit itu rasanya getir. Aromanya paling menusuk. Orang Medan biasanya suka durian pahit. Kandungan alkoholnya lebih kuat. Kalok pembeli dari kota lain sukanya durian manis atau legit,” jelas Bang Ucok yang keturunan Minang ini. Btw, saya pribadi paling senang durian pahit. Mungkin karena saya asli orang Medan haha. Suami dan anak-anak senang durian manis dan legit.
            Setiap hari Bang Ucok bersama beberapa pegawainya pergi ke berbagai daerah, di antaranya Sidikalang, Sibolga, dan Pematang Siantar, untuk mengambil sekitar 6000 buah durian. Durian yang kualitasnya paling top itu durian asal Sidikalang, menurut Bang Ucok.

Durian Ucok Durian

Kedua, harga. Harga durian di Ucok Durian relatif lebih murah. Kalok lagi musim, yakni bulan Desember dan Januari, harga durian Rp25 ribu saja per buah. Kalok sedang tak musim, harga naik menjadi Rp40 ribu per buah. Seandainya durian yang sudah dibuka tak sesuai rasanya dengan selera pembeli, Ucok Durian akan menggantinya. Gratis! Selain dimakan di tempat, durian bisa dibawa pulang untuk dijadikan oleh-oleh khas Medan. Butir-butir durian dimasukkan ke wadah plastik berbagai ukuran (disesuaikan dengan jumlah butir durian).

Huaaa ... fixed harus segera liburan ke Medan!            
           Lebaran bulan Juni nanti cocok nian pulang kampung sekalian liburan naik pesawat dan menginap di hotel bareng keponakan. Sekali-sekali coba suasana barulah, masa menginap di tempat Mama terus. Nah, giliran hunting tiket pesawat dan hotel ini yang bikin mumet. Di A harga tiket pesawat lebih murah, tapi harga hotelnya lebih mahal. Di B harga hotelnya lebih murah, tapi harga tiket pesawatnya lebih mahal.
Hmmm, kenapa awak tak coba ke Traveloka aja, yo? Cek, ah, apa ada yang baru di fitur aplikasinya. Biasanya saya hobi cek poin. Siapa tahu cukup untuk di-redeem haha. Selama ini saya pilih Traveloka karena cukup mudah memesan tiket pesawat atau booking hotel via aplikasi. Contohnya liburan ke Bali bulan April tahun lalu. Saya booking hotel via aplikasi Traveloka.
Transaksi di Traveloka aman dengan banyak macam metode pembayaran, dari transfer ATM sampai kartu kredit. Transaksi kartu kredit di Traveloka sepenuhnya dilindungi oleh Secure Socket Layer dari teknologi resmi RapidSSL (Verisign Group). Setelah maksimal 1 jam selesai bayaran, saya akan mendapatkan konfirmasi instan dan e-ticket via email. Jika dalam waktu 1 jam klen belum menerima e-ticket, sila hubungi customer service. Jujur, ini tak pernah kejadian sama saya, semoga sama klen pun tidak. Biasanya lancar jaya aja kok.        
Oke, setelah cek via aplikasi Traveloka, saya nemu fitur Flight + Hotel. Rupanya Traveloka membuka pemesanan tiket pesawat dan hotel dalam 1 paket! Saya tinggal memasukkan destinasi, tanggal berangkat + menginap, dan jumlah anggota keluarga yang bakal diajak. Nanti akan keluar pilihan maskapai, waktu penerbangan, dan aneka hotel yang sesuai. Ternyata, memilih paket tiket pesawat + hotel Traveloka ini lebih mudah dan menghemat waktu! Amboooiii, kurang paten apa itu? Kita tak perlu lagi repot-repot memesan tiket dan hotel secara terpisah. Sekarang saya mau mengecek harganya. 
Pesan paket tiket pesawat + hotel Traveloka = Rp5.993.446,00.
Pesan terpisah tiket pesawat dan hotel = Rp6.851.536,00.
Selisih Rp858.090,00 atau sekitar 12,52% lebih murah.





 See, it is cheaper to book together too! Pesan paket tiket pesawat + hotel Traveloka lebih hemat. Hematnya bisa sampai 20% tanpa kode promo apa pun. Selisih hampir Rp800 ribuan tadi lumayan kalilah bisa dipakai untuk pesta durian di Ucok Durian sama keluarga besar sampai puas!
            Kawan CM pengin melalak ke Medan atau ke mana dalam waktu dekat? Cobain fitur Flight + Hotel di Traveloka. Terus, kalok udah sampai Medan, jangan lupa singgah ke Ucok Durian, yo. :)) [] Haya Aliya Zaki


Haaiii, awak balik lagi untuk lanjot cerita 22 Hal yang Saya Amati di Jepang (bagian I). Ayam sori karena diselang-seling postingan iklan. Soalnya, awak, kan, jugak mesti cari duwid duwid duwiiid haha. Seperti biasa, postingan ini terselenggara berkat kerja sama saya dengan Azizah Fatimah (IG @azizah_nf), sepupu yang tinggal di Shiga Prefecture, Jepang. Alhamdulillah dia tak keberatan disandera menjadi informan. Sogokannya cukup pempek telor dan keripik sanjai balado. Oke, mari kita lanjooottt. Di Jepang itu ….

11. biaya hidup tinggi
            Ini udah saya mention di postingan Jepang sebelumnya, yo. Saya kasih contoh, di sini buka taksi 6.500 perak, sementara di Jepang 650 yen (hampir 80 ribu perak). Beda lokasi beda harga. Harga buka taksi di Sapporo lebih mahal sikit daripada di Tokyo. Kalok tak terpaksa, awak malaslah naik taksi. Yaaa … dipikir-pikir ngapain jugak naik taksi wong transportasi umum (selain taksi) di Jepang itu aman nyaman tentram sentosa gemah ripah loh jinawi. 

Contoh lain, jelang musim dingin, harga buah-buahan bakal selangit! Harga satu buah melon bisa mencapai 5000 yen (Rp600 ribu lebih). Yes, saya ulangi, SATU BUAH. Ukurannya kecik pulak. Itu melon sampai dikotakin terus dipitain saking spesialnya, Saudara-saudara! 

So, sekali lagi, melalak ke Jepang setidaknya membuat saya lebih pandai bersyukur. Kata pepatah, seenak-enaknya hujan emas di negeri orang, lebih enak hujan batu di negeri sendiri. Benjol, benjolah situ. Di sini pengin makan buah apa aja ada, apalagi kalok lagi musimnya. Harga relatif terjangkau. Duku sekilo 10 ribu perak, pisang ambon sesisir 15 ribu perak, jeruk sekilo 18 ribu perak, maka nikmat dunia manakah yang kamu dustakan?    

12. masih banyak penjual buku, koran, dan majalah
            Negeri kita mengalami senja kala media cetak. Berbagai media cetak ternama sekelas koran Sinar Harapan, majalah Reader’s Digest Indonesia, dan tabloid Bola tutup usia. Sebagian bertransformasi menjadi media online. Jumlah toko buku dan lapak koran + majalah terus menyusut. 
Akan tetapi, di stasiun-stasiun kereta di Jepang, saya melihat bertebar aneka toko buku. Di minimarket pasti ada lapak koran + majalah. Tempo hari saya sempat memotret satu event book fair di stasiun kereta di Marunouchi. Kalok main ke resto atau naik kereta, dijamin tersaji pemandangan orang Jepang sedang membaca buku, baik buku berhuruf latin maupun kanji. Dari pengalaman ini, tahun 2018 menjadi titik balik saya aktif kembali membaca buku. Di satu sisi, saya memang merasa amunisi menulis kian berkurang. Tulisan flat dan kosakata itu-itu aja. Saya butuh membaca buku, buku, dan buku. 
Toko buku di stasiun
lapak koran dan majalah di minimarket

Book fair di stasiun

13. pintu taksinya menutup otomatis
            Pernah kejadian saya demikian gigih mencoba menutup pintu belakang taksi di Sapporo. Sopir taksi menjelaskan dalam bahasa Jepang, manalah awak paham yekan. Setiap saya mencoba menutup pintu, pintu langsung membal ogah menutup. Sementara itu, sopir taksi terus bercakap entah hapa-hapa, tambah tinggi pulak intonasi suaranya. Hajab! Jantung saya berdegup semakin kencang, tangan mulai gemetar, keringat dingin muncul. Bukan, ini bukan gejala diabetes. Halah. Saya panikdotcom! Entah cemana caranya, akhirnya hidayah itu datang jugak. Begitu saya memilih duduk pasrah dengan tatapan nanar, seketika itu pula PINTU TAKSI MENUTUP OTOMATIIISSS!!!  

Nunggu taksi di Sapporo dengan muka kucel *omak lelaaahhh raun-raun seharian*

14. di mana-mana ada perempuan pakai kimono
            Cukup sering saya jumpa perempuan Jepang dari segala usia, jalan-jalan (termasuk di stasiun dan kereta) memakai kimono, pakaian tradisional Jepang. Mereka kelihatan biasa-biasa aja, tak kaku atau gelisah cemana-cemana. Padahal, kimono itu berlapis-lapis bahannya dan mesti rapat memakainya. Kebayang kalok tiba-tiba klen kebelet pipis dan pengin lari terbirit-birit ke toilet dengan kostum kimono lengkap plus alas kaki geta (sandal kayu tradisional Jepang).    
Kami beruntung mendapat kesempatan memakai kimono di Jepang. Saya dan anak-anak menyewa kimono milik Teh Dewi, muslimah asal Indonesia yang tinggal di Takatsuki. Silaturahim yang luar biasa, kami berjabat tangan bukan cuma demi perkara menyewa kimono. Kapan-kapan saya ceritakan di postingan terpisah.
Fyi, kimono beda sama yukata, yo. Sekilas penampakan kimono dan yukata dari luar mirip, tapi kalok yukata itu bahannya selapis aja dan tak butuh begitu banyak waktu untuk memakainya. Kita bisa membedakan apakah perempuan Jepang udah menikah atau belum itu dari kimono yang mereka pakai. Harga kimono jauh lebih mahal daripada yukata. Menurut Teh Dewi, harga satu set kimono bisa mencapai Rp50 juta.

Terharuuuw melihat anak-anakku mau pakai kimono *srooottt

15. orang Jepang modis-modis
            Orang Jepang modis-modis? Yes! Asyik sangat melototin pakaian musim dingin mereka, terutama para ciwi-ciwi di Kota Tokyo. Selera fashion mereka yang kece selaras dengan derap langkah mereka yang cepat dan bersemangat. So far saya belum pernah jumpa orang berpakaian kumuh di Jepang.   
  
16. rata-rata pada pakai ponsel merek iPhone
            Sepertinya anak muda Jepang fans berat ponsel merek iPhone. Ponsel iPhone X bukan barang langka lagi. Glek. Kalok nini-nini dan aki-aki Jepang lebih senang pakai ponsel flip jadul. 
Kawan saya, Deddy (deddyhuang.com), bercanda, “Jangan sampai Mbak Haya beli iPhone di Jepang!” Apa pasal? Suara shutter kamera iPhone asal sana tak bisa di-silent haha. Ini memang peraturan pemerintah Jepang yang menganut hukum anti-voyeurism. Tujuannya supaya ponsel tak dipakai untuk memotret secara sembunyi-sembunyi. Bakal ketahuan klen kalok mau candid kawan yang lagi ngupil asoy.   


17. ada resto yang cuma menyediakan meja tanpa tempat duduk
            Unik, jelang magrib di Akasaka, mata saya bersirobok dengan resto yang semua pengunjungnya berdiri alias tak disediakan tempat duduk sama sekali! Walah, kalok di sini, kita makan di kaki lima pun disediakan bangku plastik. Semisal klen pulang kerja manalah perut udah kempes (bertolak belakang sama betis yang justru berkonde), masuk ke resto, terus makan minumnya mesti berdiri pulak, apa klen mau? Dijamin naik tensi. Kata Azizah, di Jepang memang ada resto seperti ini. Saya lupa memotret restonya, tapi kira-kira beginilah tampilannya. 

Meja setinggi diafragma dikelilingi oleh beberapa orang

18. di Jepang tak ada pengemis
            Sama kayak di Singapura, saya belum pernah jumpa pengemis di Jepang. Sesedih-sedihnya kondisi orang di jalanan, sekali saya melihat aki-aki lumpuh berjualan tisu dan snack di stasiun MRT di Singapura. Ini jauh lebih terhormat daripada mengemis. Secara blio udah tua dan fisiknya terbatas. Mungkin pantang bagi mereka diberi uang karena belas kasihan.
Ada satu dua gelandangan kami jumpa di Jepang, tapi mereka tetap bekerja menjual barang-barang bekas layak pakai. Mereka bukan pengemis. Berdasarkan data, gelandangan di Jepang tercatat 0,019% dari seluruh jumlah penduduk Jepang (japanindocuteculuture.com, 2013). Sikit, ya.
Semoga negeri kita bisa segera seperti ini. Hati saya seperti dicungkil setiap jumpa anak-anak pengemis di metromini ibu kota Jakarta. Belum termasuk omak-omak pengemis yang menggendong bayi. Bayinya kok macam pingsan terus ya Allah. Entah dicekoki obat apa makhluk tak berdosa itu. :((     

19. rumah di Jepang minimalis
            Kenapa, eh, kenapa di Jepang tak ada rumah gedong? batin saya sambil memandangi rumah-rumah di sana. Rumah gedong maksudnya rumah yang besarnya ampun-ampunan seperti rumah di daerah Pondok Indah, Jakarta.
Rumah di Jepang minimalis. No wonder, ini karena negeri Jepang rawan gempa. Rumah dibangun dengan material gipsum, bukan beton. Selain itu, rumah minimalis memang menjadi karakteristik orang Jepang yang serba-praktis. Semua ruangan fungsional. Barang-barang yang ada ya memang barang-barang yang dipakai. Menurut Azizah, selama di Jepang dia belum pernah melihat orang Jepang kumpul ramai-ramai (arisan, misalnya) di rumah. Mereka senangnya kumpul-kumpul di coffee shop aja. Jadi, untuk apa punya rumah besar?   

20. vending machine terbanyak di dunia
            Jangan khawatir kehausan karena vending machine ada di mana-mana! Di halaman apartemen kami ada vending machine, jalan sekian langkah keluar apartemen ketemu vending machine lagi, dst. Jepang merupakan negara dengan vending machine terbanyak di dunia. Lebih mudah jumpa vending machine daripada jumpa orang naik sepeda motor di Jepang.
Vending machine menjadi solusi karena mahalnya membuka toko retail di sana. Semua serba-otomatis, jadi hemat tenaga pelayan jugak. Harga minuman mulai dari 100 yen (Rp12 ribuan). Selain minuman dingin, tersedia vending machine khusus minuman panas. Minuman kopi, cokelat, enak-enak bikin ngences semua. Btw, vending machine di Jepang tak bakal dijebol tangan-tangan jail meskipun ditempatkan di lorong sepi. Di sini? Awak tak berani jawab aaah hihi.  
Vending machine di Tokyo Station

21. di Tokyo banyak burung gagak
            Usah heran kalok berpapasan sama gerombolan burung gagak yang petantang petenteng (macam preman aja) di atap-atap rumah dan toko di Tokyo. Sayang, saya lupa mengabadikan keberadaan mereka. Takut kepala dipatuk. LOL.
Kabarnya populasi burung gagak terus bertambah di Jepang, terutama di Tokyo. Kurang tahu sebabnya, bisa jadi burung hitam ini kekurangan makanan di habitat mereka. Burung gagak hobi mengais-ngais sampah di dalam kantong plastik. Jangan sembarangan klen meletakkan kantong belanjaan. Nanti jadi sasaran empuk gerombolan burung gagak. Kwaaakkk … kwaaakkk … kwaaakkk ….!  
Satu lagi soal hewan, saya belum pernah sekali pun melihat ada anjing atau kucing liar bertubuh kurus kering, berbuntut patah, atau bermata belek hidup telantar di jalanan di Jepang. Biasanya orang Jepang mengajak hewan peliharaan mereka (mostly anjing) jalan-jalan dalam stroller hewan. Hewan peliharaan mereka tampak sehat terawat didandani pakai baju dan aksesori rambut segala huehue.    

22. tutup gorong-gorongnya cantik!
            Kalok postingan 22 Hal yang Saya Amati di Jepang (bagian I) saya akhiri dengan cerita toilet Jepang yang seru, nah postingan yang ini akan saya akhiri dengan membahas tutup gorong-gorong di Jepang yang tak kalah seru! Tutup gorong-gorong ini disebut manhoru futa.
Klen pernah melihat karya seni mural di tembok-tembok? Cantik, tapi mungkin udah biasa. Bagi saya, tutup gorong-gorong di jalanan di Jepang semacam karya seni baru. Iya, tutup gorong-gorong di sana cantik-cantik! Gambarnya bagus dan dicat warna-warni. Beda kota beda desain, menyesuaikan ciri khas kota tersebut. Kalok saya jalan sambil menunduk di Jepang itu bukan berarti saya sedang mencari uang koin yang jatuh woiii, melainkan lagi penasaran cemana desain tutup gorong-gorong berikutnya yang akan saya temui haha. Ini saya culik foto kaki Azizah sama tutup gorong-gorong di Shiga Prefecture
             
Tutup gorong-gorong yang cantik!

           Last but not least, Jepang merupakan negeri yang melek teknologi canggih, tapi penduduknya tetap kembali ke akar. Tradisi adalah sesuatu yang mereka junjung tinggi betul. Kami beruntung sempat melihat ritual beribadah penganut agama Shinto di Fushimi Inari. Kapan-kapan saya cerita di IG @ceritamelalak. Rencananya kami pengin ikutan upacara minum teh Jepang di Sakai. Sayang seribu sayang tak sempat. Mungkin lain kali kalok ada rezeki kami balik ke Jepang lagi. 



Kami sekeluarga dan Azizah + suami di Fushimi Inari

Selain wisata bersenang-senang, tujuan saya dan suami mengajak anak-anak ke Jepang adalah untuk mengedukasi mereka akan hal-hal baik, terutama karakter sopan santun dan kedisiplinan orang Jepang. Lingkungan yang super-bersih dan serba-teratur, pulak membuat anak-anak betah. Buat Kawan CM yang pengin mengajak keluarga jalan-jalan keluar negeri, mungkin Jepang bisa menjadi destinasi prioritas di bucket list klen.
Next Kawan CM pengin saya membahas apa? Apakah shinkansen, kereta peluru di Jepang dengan kecepatan maksimal 300 km/jam, atau Asahiyama Zoo, tempat kami menonton secara dekat penguin-penguin montok dan lucu? :) [] Haya Aliya Zaki

Salah satu cita-cita mulia sebelum menikah (ehm) adalah saya bakal mendedikasikan diri di dapur, selalu memasak makanan enak dan bergizi untuk keluarga. Sayangnya, kenyataan tak seindah angan-angan, terutama setelah punya buntut tiga. Waktu terasa semakin sempit! Konon pulak saat suami dinas keluar negeri sampai berminggu-minggu. Segala urusan dari domestik, dapur, kerjaan menulis, mesti awak pegang. Beberapa kali kejadian mengambil rapor anak-anak pada tanggal yang sama, itu tuh rasanya pengin membelah diri aja. Selesai ambil rapor si sulung di sekolah A, saya langsung loncat ambil rapor si tengah di sekolah B, sementara rapor si bungsu udah menunggu di sekolah C. LOL.     
Nah, urusan dapur lumayan sering bikin pening. Besok mau masak apa, ya? Semalam udah makan ayam, masa mau makan ayam lagi? Ini ikan cocoknya digoreng, dibumbu kuning, atau disenyumin aja gitu siapa tahu bisa langsung berubah jadi ikan asam manis? Akhirnya, makanan beku pun jadi pelarian terbaik haha.    
Yap, dengan adanya makanan beku, kita tak perlu lagi waktu berjam-jam untuk menyiapkan makanan, Kawan CM. Keluarkan makanan dari dalam kemasan, goreng selama sekian menit, selesai! PRAKTIS, kan? Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap hampir 4000 orang Indonesia, sekitar 68% rutin mengonsumsi makanan beku. Selain praktis, harga makanan beku lumayan murah, stok mudah didapat, dan rasa pulak nikmaaattt.  (tirto.id, 2016).    
Brand makanan beku andalan saya pastilah So Good. Baru-baru ini saya dan kawan-kawan blogger diundang ke acara launching logo dan kemasan baru So Good sekaligus menghadiri talkshow edukasi mengenai pentingnya mengonsumsi protein hewani bersama para narsum yang kece markece di The Hook Resto & Bar, Jakarta (27/2). Penting kali infonya ini buat kita omak-omak pejuang dapur macam kita woi. 
Logo dan kemasan baru So Good
So Good lahir pada tahun 1999. Sejak awal, So Good berkomitmen menghadirkan produk protein hewani berkualitas untuk keluarga Indonesia. Seperti yang kita tahu, logo lama So Good berbentuk kotak dengan sentuhan biru tua dan hijau.
Kini logo lama So Good dipertajam dengan adanya lingkaran emas, di mana lingkaran emas melambangkan trust. Di antara lingkaran emas dan kotak So Good terdapat background berwarna hijau yang memiliki arti fresh dan natural. Insya allah semua produk So Good HALAL.
“Lebih Baik So Good” ~ slogan So Good yang baru


Logo dan kemasan baru So Good

Di logo yang baru ini saya tengok ada banyak simbol. Pak Soegiono (Head of Marketing and New Business Development PT So Good Food) menjelaskan simbol-simbol tersebut. 
- Simbol ayam, daging, ikan, udang, dan telur sebagai sumber protein yang dibutuhkan oleh tubuh.
- Simbol topi chef dan alat masak yang berarti So Good adalah ahli dalam memberikan pengalaman gizi kuliner.
- Simbol senyum dan jempol menandakan rasa puas dan bahagia dari para pelanggan akan hadirnya produk So Good. Yay seru!   
            So Good bekerja sama dengan pemerintah dan instansi-instansi terkait memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menerapkan pola hidup gizi seimbang. Jadi, makan bukan asal kenyang. Sekitar 38,7% anak balita kekurangan gizi dan 58,4% anak perempuan di Indonesia menderita anemia. Cemana mau bersaing sama dunia luar kalok anak-anak kita lemah letoy lesu lunglai kekurangan gizi?  
Manfaat protein hewani
“Pola hidup gizi seimbang memiliki 4 pilar, yakni makanan harus bervariasi, lakukan aktivitas fisik secara rutin, perilaku bersih dan sehat selalu dijaga, dan pantau berat badan supaya tidak overweight atau underweight,” jelas Maria Harfanti (Duta Gizi Japfa Foundation). Apa dan gimana Japfa Foundation akan awak bahas di bawah. Kami sempat menonton video kunjungan Maria ke pabrik So Good di Cikupa, Tangerang. Mau tahu proses pengolahan ayam dari peternakan sampai ke meja makan kita? Yok, sekarang giliran klen yang menonton videonya. 


Ayam-ayam di pabrik So Good tak disuntik hormon dan semua bebas formalin. Ayam dipotong di rumah potong ayam bersertifikasi dan diproses mengikuti kaidah ISO. Aman, bersih, sehat, dan halal.
Selama menjadi duta gizi, Maria berpesan bahwa penting sekali berkolaborasi dengan pemangku kepentingan masyarakat di daerah yang mereka kunjungi. Lalu, edukasi kepada orangtua dan anak-anak tentu berbeda. Kalok kepada anak-anak biasanya Maria memberikan edukasi berbentuk games dengan bahasa yang mudah dipahami.      
Selain ayam, So Good punya produk ikan, udang, sosis, dll. Kami sekeluarga suka makan pangan hewani. Rasanya nikmat dan gurih! Kata Prof. Hardinsyah, MS., PhD. (Ketua Umum PERGIZI Pangan Indonesia), rasa gurih itu berasal dari asam glutamat yang ada di dalam protein pangan hewani. Protein bermanfaat untuk regenerasi sel-sel yang rusak, pembentukan hormon, meningkatkan kekebalan tubuh, pembentukan gen, berperan dalam kesehatan kulit-rambut-otot, dan masih banyak lagi.
            Tip memilih daging ayam yang bagus sbb: daging tampak segar, warna daging berwarna putih kemerahan (tak pucat), dan tak banyak mengandung air. Tip memilih ikan sbb: insang berwarna merah dan jika daging ikan ditekan, tak nampak cekungan. Daging ayam dan ikan tak boleh berbau busuk atau formalin.   
 
Prof. Hardinsyah, MS., PhD.
Beku bukan berarti tak bagus
            Sebagian orang mengira kalok makanan beku itu tak bagus, padahal produk dibekukan untuk mencegah bakteri berkembang biak. Sekali lagi, tak ada pengawet yang ditambahkan ke produk So Good. Cukup simpan di dalam freezer pada suhu -18oC. Insya allah nutrisi dan rasa tetap terjaga. Produk aman dikonsumsi sebelum tanggal kedaluwarsa. Saran saya, sebaiknya Kawan CM tak membeli produk So Good yang tak disimpan di dalam freezer oleh penjual.   
Kolaborasi So Good dengan Japfa Foundation
            Demi mendukung program pemerintah menerapkan pola hidup gizi seimbang, So Good menggandeng partner yang memiliki visi dan misi sama, yakni Japfa Foundation
Japfa Foundation berdiri pada Maret 2015. Fokusnya mengembangkan potensi kaum muda melalui pendidikan teknologi pangan dan gizi. Jadi, kalok klen pengin belajar ilmu tata rias atau penerbangan, jangan masuk ke Japfa Foundation, yo. Salah besar itu bah. 
Pak Andi Prasetyo (Head of Japfa Foundation) menjelaskan bahwa gerakan Japfa Foundation bukan “cuma” bagi-bagi makanan ke suatu daerah. Gerakannya lebih masif daripada itu. Rencananya nanti akan ditempa generasi penerus yang berkecimpung di di dunia wirausaha sosial pangan dan gizi. Keuntungan yang didapat dari berwirausaha, sebagian digunakan untuk mendukung program pangan dan gizi selanjutnya. Japfa Foundation berkolaborasi dengan pihak pemerintah, swasta, akademisi, media, blogger, dan industri seperti PT So Good Food. Semoga kolaborasi ini membawa dampak perbaikan gizi di negeri kita.     
Btw, beberapa bulan lagi kita menyambut bulan suci Ramadhan. Jelas kita butuh bahan makanan yang praktis dan bergizi untuk sahur keluarga. Cocok kalilah kalok awak nyetok aneka produk So Good di freezer nanti. Udah tak adalah itu namanya mati gaya di dapur. Cemana dengan Kawan CM? Klen suka produk So Good yang mana aja? [] Haya Aliya Zaki