Pengin beli rumah di Jakarta, rasanya udah terlalu semak. Pemandangan gedung-gedung pencakar langit kontras dengan pemandangan rumah-rumah kumuh di pinggir sungai. Macet pulak di mana-mana. Kata orang-orang, tinggal di Jakarta bikin kita tua di jalan. Ini belum lagi cakap soal harga. Tolong! Perut awak langsung mulas, Mak!

Rumah impian klen yang kayak apa, Kawan CM? Berdasarkan survei, ada 5 kriteria rumah impian, yakni lokasi dekat ke mana-mana, harga terjangkau, rumah nyaman, keamanan terjamin, dan menguntungkan untuk investasi.  

Terus, ada tak solusi buat yang pengin punya rumah impian di sekitaran Jakarta? Nah, PT Bumiraya Utama bekerja sama dengan PT Fontana Bangun Cemerlang sedang dalam tahap mengembangkan proyek Martadinata Residence. Ini proyek pertama mereka dan semoga bukan proyek terakhir.  

Martadinata Residence adalah hunian eksklusif di atas tanah seluas 4,6 hektar. Lokasi di Jalan R.E Martadinata, Ciputat, Tangerang Selatan. Tepatnya berada di jalan utama Ciputat–Parung yang diapit oleh ruas tol Cinere–Serpong sepanjang 10,14 km, Antasari–Depok 21,07 km, dan JORR 2 Extension yang diperkirakan akan beroperasi pada akhir tahun 2019. Lokasi cukup strategis karena dekat dengan kantor, rumah sakit, sekolah, mal, dst.



Sepertinya masih banyak investor yang belum melirik daerah Tangsel yang di dekatnya akan dibangun banyak ruas tol ini. “Soal kenyamanan, kami membangun rumah berdesain minimalis modern terdiri atas 2 lantai. Bahan-bahan yang digunakan untuk membangun rumah tentu material berkualitas terbaik,” jelas Pak Harso Halim (Direktur Utama Fontana Land) dalam sambutannya di acara peresmian pembangunan proyek Martadinata Residence di Marketing Office Martadinata Residence, Tangsel (13/2). Tersedia 3 tipe rumah berdasarkan luasnya, yakni Jasmine, Lavender, dan Lily.

Awak jabarkan sikit beberapa keuntungan tinggal di sini. Jaringan listrik underground. Tak belibet atap rumah kita sama sangkutan kabel-kabel listrik yekan. Ada free wifi! Allahu akbar! Senangnyaaa! Ngeblog bakalan lancar jayaaa acha acha. Fasilitas kolam renang, trek joging, gym, danau buatan, dll.

Sistem keamanan di Martadinata Residence 24 jam 7 hari berupa akses kontrol satu pintu, CCTV, dan Command Center. Command Center ini semacam ruangan untuk memonitor semua kejadian di area Martadinata Residence. Hasil pantauan bisa dijadikan dasar informasi dalam mengambil keputusan oleh berbagai pihak. Kalok ada kejadian darurat, pihak keamanan dapat bertindak cepat.  

Bu Airin Rachmi Diany, S.H., M.H., Mkn (Wali Kota Tangsel) turut hadir meresmikan proyek pembangunan Martadinata Residence. Amboi, salut kali awak sama ibuk wali kota satu ini. Orangnya cantik, cerdas, dan energik. Beliau udah meetang meeting 3 tempat dari pagi sampai tengah hari. Awak? Awak mendengarnya aja udah lelaaahhh.  

Minggu ini Bu Airin akan meeting dengan Pak Sandiaga Uno untuk membahas MRT. Rencananya MRT tak akan berhenti di Stasiun Lebak Bulus. “Kami sedang mengusahakan supaya MRT, LRT, atau apa pun namanya itu bisa melalui Pasar Jumat dan masuk ke daerah Tangsel,” kata Bu Airin.

Bu Airin berharap, pembangunan proyek Martadinata Residence membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Oiya, beliau meminta Pak Harso membangun balai warga untuk tempat pertemuan masyarakat. Berbeda dengan warga Jakarta, rasa guyub di Tangsel lebih kuat.  


Bu Airin meresmikan pembangunan proyek Martadinata Residence

Martadinata Residence merupakan refleksi kebutuhan hunian kaum urban. Lokasinya cukup dekat dengan Jakarta. Cocok buat Kawan CM yang sehari-harinya mencari nafkah di Jakarta atau buat investasi pun boleh. Insyaallah harga naik terus. Pembangunan 300 unit rumah dimulai bulan April 2018 dan diperkirakan selesai bulan Desember 2018. Tak pala lama, yo. Jauh lebih lama penantian cinta Cinta kepada Rangga. Berapa purnama? Ratusan! *pengucapan ala ala iklan wafer*

Kawan CM yang tertarik sila menghubungi Martadinata Residence Marketing Office via telepon (021) 29446289 atau kirim e-mail ke info@martadinataresidence.co.id. Kalok harga rumah lain udah em-eman, harga di sini dimulai Rp750 juta aja per unit. [] Haya Aliya Zaki

Haiii ... kalok di postingan sebelumnya saya cerita tentang liburan ke Jepang, kali ini saya mau membahas sesuatu yang masih belum jauh-jauh dari Jepang, yakni tentang acara jalan-jalan kami para blogger ke pabrik perakitan Mitsubishi Motors, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) di GIIC Deltamas, Bekasi, pada hari Kamis lalu (7/2).

Pabrik seluas 51 hektar ini diresmikan oleh Bapak Presiden RI Joko Widodo pada 25 April 2017. Rencana total produksi 60.000–240.000 unit per tahun.  Mitsubishi Motors merupakan perusahaan Jepang yang memproduksi kendaraan terutama mobil. Nah, MMKSI sendiri adalah distributor resmi kendaraan Mitsubishi Motors di Indonesia. 

Kabarnya, kendaraan Mitsubishi Motors udah eksis di Indonesia sejak 40 tahun lalu. Udah lama kali, yaaa. Istilahnya, udah jaminan mutu. Mitsubishi XPANDER (selanjutnya saya sebut “XPANDER”) laris manis di pameran GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show) 2017. XPANDER mendapat peringkat bintang 4 dari ASEAN New Car Assessment Program (NCAP). Tahun 2017 menjadi tahun gemilang bagi Mitsubishi Motors di Indonesia. Bravo!

Blogger jalan-jalan ke pabrik Mitsubishi Motors Indonesia (credit: mobil123.com)

XPANDER nan laris manis  
“Penjualan XPANDER yang laris manis di luar ekspektasi kami. Terima kasih atas kepercayaan dan loyalitas konsumen Indonesia kepada produk kami,” kata Mr. Kyoya Kondo (President Director MMKSI). XPANDER dijual di Indonesia bulan September 2017. Tiga bulan pertama pesanan mencapai lebih dari 50.000 unit, padahal targetnya 3.000–4.000 unit per bulan. Tahun ini rencananya XPANDER akan dijual ke Filipina dan di beberapa negara ASEAN lainnya.  

Demi berusaha memenuhi pesanan konsumen Indonesia, MMKSI menambah shift produksi di pabrik perakitan. Mitsubishi Motors komit, XPANDER tak hanya jadi produk dengan penjualan terbaik melainkan jugak dipasarkan dalam jangka waktu yang lama.

XPANDER low MPV idola
Menurut saya, tak heran XPANDER jadi low MPV idola. Kapasitas mesin 1500 cc dengan 104 tenaga kuda. Desain cantik dan futuristik. Kabin senyap. Interior dalam lega, salah satunya karena bagian atap mengadopsi desain “floating roof”. Setir bisa dinaikkan, diturunkan, ditarik, dan didorong. Fitur keamanan tak perlu diragukan lagi. Di belakang ada tiga titik seat belt, bukan cuma dua.

“Omotenashi merupakan kelebihan utama dari XPANDER. Omotenashi dalam bahasa Jepang berarti keramahan untuk memuaskan tamu. Ada 19 titik tempat penyimpanan di dalam mobil. Pastinya keluarga Indonesia punya banyak kebutuhan, apalagi momen mudik. Bawa sepatu tak cukup satu, bawa tas tak cukup dua, bawa boneka tak cukup tiga, dst. Meski begitu, space kaki tetap luas. Filosofi omotenashi Jepang diterapkan untuk memuaskan keluarga Indonesia,” jelas Rifat Sungkar (Product Ambassador Mitsubishi Motors Indonesia). XPANDER punya USB charging di depan, tengah, dan belakang. Usah khawatir ponsel lowbat. Daaan, info yang paling penting buat omak-omak adalah bahan bakarnya IRIT! :))))   

Filosofi omotenashi

Rifat Sungkar (Product Ambassador Mitsubishi Motors Indonesia)

Kesimpulan, XPANDER diproduksi dengan menggunakan standar kualitas tinggi dan teknologi canggih. Soal teknologi, Jepang memang tak ada matinya, Kawan CM. Harga XPANDER lebih bersahabat dibandingkan mobil merek lain dengan model dan fitur yang sama. XPANDER Ultimate memiliki harga tertinggi Rp245.350.000,00.

Fasilitas yang ramah lingkungan
            MMKSI memproduksi XPANDER dan Pajero Sport. Fasilitas untuk memproduksi kedua item mobil ini diklaim udah ramah lingkungan. Air limbah didaur ulang untuk menghemat penggunaan air tanah. MMKSI jugak menggunakan air hujan dengan persentase daur ulang sekitar 70%, demikian kata Mr. Takao Kato (Director Non-Executif MMKSI). Sesuai dengan prinsip Mitsubishi Motors, yakni menghasilkan produk yang andal dan fasilitas yang ramah lingkungan.


Mr. Takao Kato (Director Non-Executive MMKSI)

Sesi test drive
Jreng jreng jreng setelah keliling pabrik, tibalah saatnya sesi test drive di track yang telah dirancang oleh tim Rifat Drive Labs. Tujuannya supaya kami merasakan sendiri selling point dari XPANDER. Kalok bahasa Bataknya, “Feeling is believing.” Rasakan dulu, baru percaya yekan. Apa? Saya yang nyopir? Tentu tidak! Saya kan hobinya melamun dan merangkai kata di jalan, cocoknya duduk manis jadi penumpang aja. LOL.

   Suspensi belakang XPANDER diambil dari sang legendaris, Mitsubishi Lancer Evolution. Kami nyoba melewati beberapa polisi tidur dan tak terasa cemana-cemana goncangannya di belakang. Betul kata Rifat, suspensinya empuk. Terus, nyobain remnya. Track diguyur air sabun supaya licin dan mobil direm tiba-tiba. Remnya mantap! Rem depan cakram dan rem belakang tromol. Terakhir, XPANDER dibawa zig zag. Allahu akbar, awak langsung mekik-mekik baca Yasin! Ih, memang dasarnya awak penakut, Mak! Mobil ngebut sikit aja, jantung pengin melorot. Padahal, kontrol mobil tetap stabil meskipun jalan zig zag, tak limbung kayak pengalaman naik mobil low MPV yang lain.

Mohon maaf saya tidak insert foto-foto kami di dalam pabrik karena mematuhi peraturan dari MMKSI. Yang pasti pabriknya bersih. Semua pegawai menaati safety induction. Makasih atas kesempatannya Komunitas Indonesia Social Blogpreneur (ISB) dan mobil123.com! Mobil123.com adalah portal otomotif nomor satu yang tepercaya, menghubungkan penjual dan pembeli kendaraan pada satu automotive journey (membeli-memiliki-menjual kendaraan). Kami jadi tahu lebih dalam tentang proses perakitan mobil Mitsubishi Motors dari tahap stamping, welding, painting, assembling, sampai vehicle inspection. Tak boleh sembarangan, apalagi yang menyangkut standar keselamatan sopir dan penumpang. So, next kita ke mana lagi, ya? :) [] Haya Aliya Zaki

Seperti yang udah saya ceritakan di postingan 10 Perlengkapan yang Wajib Dibawa Saat Liburan Musim Dingin di Jepang, kami sengaja mengambil liburan 8 hari di Jepang supaya bisa lebih selow senang-senang dan cari wawasan baru. Ini jenis travelling yang saya suka. Saya paling tak bisa jalan-jalan diburu-buru waktu. Pernah sekali PP Jakarta-Singapura-Jakarta berdua sama suami. Alamak, rasanya “tersiksa”. Kami jalan kayak orang kebelet di ujung. Bawaannya pengin cepat-cepat terus. Berfoto cepat-cepat, makan siang cepat-cepat, dan belanja pun cepat-cepat! Akhirnya awak pun sesak napas. LOL.

Alhamdulillah, liburan kali ini di Jepang, saya bisa mengamati beberapa hal. Pertanyaan yang terlintas di kepala, saya gali lebih dalam dari Azizah Fatimah (IG @azizah_nf), sepupu saya yang tinggal di Shiga Prefecture, Jepang. Dia udah cukup fasih berbahasa Jepang jugak. Tempo hari Zizah sempat menemani kami jalan-jalan seharian ke Kyoto dan sekitarnya. Kami banyak bercakap soal Jepang dan kebiasaan penduduknya.

Oke, ini dia rangkuman hasil pengamatan saya. Yok, kita breakdown satu per satu. Di Jepang itu ….

1. senyap
            Kesan ini langsung berasa waktu saya menjejakkan kaki di New Chitose Airport, bandara di Sapporo. Beberapa hari di Jepang saya belum pernah mendengar bunyi klakson, suara orang mengobrol kencang-kencang, atau seperti kata Upit (heiupito.com), tak ada suara babang-babang jualan getuk lindri sambil nyetel lagu Nella Kharisma (yaaa iyalaaah, Pit!). Semua serba-tenang. Sesekali aja kedengaran suara ambulans. Suka!

Kondisi ini bertolak belakang dengan kondisi di Hong Kong International Airport (kami transit beberapa jam di HKIA). Suara orang berbicara riuh kedengaran di sana-sini, termasuk gerabak gerubuk suara baki (untuk menaruh tas dll saat pemeriksaan di bandara). Kata suami yang udah beberapa kali dinas keluar negeri, kondisi ini belum ada apa-apanya dibandingkan Tiongkok atau India. Penduduknya sering cakap teriak-teriak macam orang berantam, padahal bukan sedang berantam.
          
2. BERSIH!
            Soal kebersihan, Jepang memang juaranya! Kawan CM pasti udah sering dengar, kan? Jepang itu bersiiih-sih-sih, padahal kami jarang jumpa tong sampah di sana. Penduduknya udah punya kesadaran, seandainya tak jumpa tong sampah pun, mereka akan simpan sampah mereka untuk dibuang di tong sampah di rumah. Pernah sekali saya melihat secuil sampah kertas di stasiun. Sampah itu langsung dipungut oleh penjaga stasiun dan dibuang ke tong sampah. 

            Jadi, saya sering bingung kalok presenter teve kita ngomong, “Hujan menyebabkan banjir.” Apakah mereka tak tahu kalok salah satu penyebab banjir adalah sampah yang dibuang sembarangan? Kenapa hujan yang disalahkan? Hujan itu rahmat. Bayangkan, hampir ribuan ton sampah dibuang ke Kali Ciliwung setiap hari. Cemana pulak tak mengundang banjir.


BERSIH!

3. sulit mencari makanan halal
            Soal ini saya udah pernah cerita di postingan 10 Perlengkapan yang Wajib Dibawa Saat Liburan Musim Dingin di Jepang. Rata-rata resto hanya menjual pork. Kaldu ramen dari rebusan daging dan tulang pork. Topping pizza daging pork. Jika mereka menjual beef, biasanya mereka masak beef dan pork dalam satu dapur. Sama aja tetap awak tak bisa makan. Camilan seperti permen jugak mengandung gelatin babi. Belum termasuk makanan dan minuman yang mengandung alkohol. Kawan CM yang muslim dan akan mengajak anak traveling ke Jepang, mungkin sebaiknya membawa camilan sendiri dari rumah.

            Klen yang pengin makan makanan halal, googling dulu lokasinya. Ramen ada yang halal kok. Btw, saya merekomendasikan resto The Kebab Factory di Asakusa. Seumur-umur makan kebab, inilah kebab yang paling lomak rasanya! Harga lumayan bikin kantong koyak. Kami beli 3 porsi nasi kebuli dengan lauk daging kebab total harga hampir 7000 yen (Rp800 ribuan). Yaaa sekali-sekali bolehlah buat pengalaman. Bonus pemandangan babang-babang keturunan Turki yang ganteng. Halah.



4. penduduknya sopan-sopan
Cara mereka bicara, melayani, dll itu sopan sangat. Bahasa tubuh mereka saat menaruh koin kembalian di nampan aja kelihatan haluuus gitu hahaha. Saya pernah mengambil video kereta bandara yang sedang melaju di Tokyo Station. Saya baru selesai ketika pintu kereta terbuka selama beberapa detik. Keasyikan mengambil video, saya tak menyadari kehadiran pria Jepang di sebelah saya. Dia melihat ke arah saya sambil memberi isyarat dengan sopan apakah saya udah selesai atau belum. Saya mengangguk dan mempersilakan dia masuk ke kereta sambil tersenyum malu.    

5. penduduknya rajin antre
            Persis kayak yang saya lihat di Singapura, penduduk Jepang penganut budaya antre yang taat. Antrean masuk macam-macam wahana di Tokyo Disneyland itu panjang, tapi karena antreannya rapi, tahu-tahu udah giliran kita aja. Pengalaman main di Tokyo Disneyland akan saya tulis terpisah. Contoh paling gampang dan bisa dilihat sehari-hari ya mereka selalu antre (antre yang benar-benar baris lurus) sebelum masuk kereta. Tak pernah sejarahnya ada yang menyerobot masuk.  

6. anak-anak di Jepang mandiri
            Entah udah berapa kali saya membaca dan mendengar tentang anak-anak Jepang yang mandiri. Dan, waktu liburan tempo hari saya menyaksikannya sendiri. Suami duduk bersebelahan dengan anak perempuan berumur 7 tahun di kereta dari Sapporo ke Asahikawa Station. Anak itu tak didampingi orangtua atau orang dewasa. Perjalanan di kereta lumayan lama sekitar 2 jam. Begitu sampai di Asahikawa Station, si anak dijemput oleh ibu dan saudaranya.

            Menurut saya, kondisi anak bepergian tanpa teman ini didukung oleh lingkungan Jepang yang aman. Rasanya mission impossible kita melepas anak kita melenggang, sementara kita masih disergap rasa takut anak kita dipepet begal. Anak perempuan pulak. Jepang minim kriminalitas. Kata Azizah, beberapa kali dia ketinggalan barang di suatu tempat, ketika dia kembali, barang tersebut masih ada. Tugas koban (polisi) di sini biasanya menanggapi aduan orang-orang karena tetangga mereka yang bising, menilang pengendara yang tak punya SIM, dan sejenisnya. 
  
7. penduduknya jarang yang bisa bahasa Inggris
            “No, no English.” Ini kalimat yang sering saya dapat setiap saya mengajak orang-orang di Jepang berbahasa Inggris. Alhasil, kami pun berkomunikasi pakai bahasa isyarat. Mari mainkan tangan, mari mainkan bibir, mariii. Jangan khawatir, tak perlu sampai goyang ngebor kok. LOL. Orang Jepang memang terkenal super-bangga dengan bahasanya sendiri. Mereka jarang bisa bahasa asing, tapi mereka bisa membuat penduduk negara lain belajar bahasa mereka. Hebat, yo. Cuma yang repot itu waktu kami main ke Tokyo Disneyland. Makjang, semua atraksi dan omongan gaet di wahana pakai bahasa Jepang! Kami manggut-manggut sambil elus janggut ajalah. Ecek-eceknya ngerti gitu. Saya kepikiran, apa lain kali kami main lagi ke Disneyland, tapi yang di Hong Kong karena pakai bahasa Inggris. Nasiiib.

Btw, Kawan CM bisa memanfaatkan Google translate untuk menerjemahkan huruf kanji di mana pun di Jepang seperti di kemasan makanan, plang petunjuk, dll. Scan aja pakai ponsel, nanti terjemahannya muncul.   

8. penduduknya selalu naik transportasi umum
            Semasa di Jepang, cuma 2 kali saya jumpa orang naik sepeda motor. Ojek? Jelas tak ada. Jumlah mobil di jalan raya pun bisa dihitung dengan jari. Jalan raya sering lengang. Sebagian orang bilang, Jepang jago memproduksi kendaraan (mobil dan sepeda motor), tapi bukan untuk mereka pakai. Yang memakai adalah penduduk di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ih, kok cerdik kali?

Kereta dan sepeda jadi transportasi utama. Jinrikisha (becak yang ditarik tenaga manusia) hanya untuk wisata. Jinrikisha ada di Arashiyama (Kyoto) dan Asakusa (Tokyo). Babang-babang jinrikisha bisa sekalian jadi pemandu wisata. Sebagian dari mereka bisa berbahasa Indonesia seketek-seketek. Tarif sekali naik jinrikisha selama 15 menit itu 4000 yen (Rp500 ribu). Terkejut klen? Sama hahaha. Klen yang punya hepeng lebih, silakan coba naik jinrikisha. Saya pass dulu. :p

Ke mana-mana naik kereta
Orang Jepang senang naik sepeda
Jinrikisha, becak yang ditarik manusia

Kalok jaraknya tak pala jauh, ke mana-mana lebih enak jalan kaki. Ngiler awak nengok trotoar di Jepang yang lebar dan bersih. Pejalan kaki benar-benar dimanjakan di sini. Usah takut nabrak gerobak babang ketoprak atau mijak jengkol jualan inang-inang di kaki lima. Hm, kapan ya Indonesia bisa macam ini? Berkhayal dulu tak apalah. :)

9. tak ada penduduk yang overweight
            Di Jepang, hampir tak pernah saya jumpa orang overweight, apalagi obesitas (obes). Orang Jepang concern menjaga kesehatan, salah satunya karena pemerintah mengenakan denda kepada penduduk yang obes. Semua penduduk Jepang mendapat jaminan pelayanan kesehatan dari pemerintah dan pemerintah menjaga pengeluaran over budget pengobatan penyakit komplikasi karena obes. Prinsipnya, lebih baik mencegah daripada mengobati. Ada undang-undang khusus yang mengatur. Itulah sebabnya olahraga jadi mata pelajaran penting di sekolah selain math dan science.

            Kebiasaan penduduk Jepang mendukung program kesehatan pemerintah, yakni kebiasaan naik kereta dan naik sepeda tadi. Fyi, kalok mau naik kereta kan kita mesti jalan kaki ke stasiun. Lumayan jalan kakinya. Di stasiun, naik turun tangga. Tak ada becak. Tak ada ojek. Naik taksi? Mahalnya bikin kejang-kejang. Mimpi kalok mau malas-malas. So, di Jepang klen otomatis langsing. Beda sama di sini, pengin main ke simpang aja kita bisa order gojek hihihi.   

10. toiletnya canggih!
            Sedingin apa pun suhunya di luar sana, rasanya nyaman bleh begitu ndeprok di toilet umum di Jepang. Dudukan toiletnya hangaaat hahaha. Air cebokannya jugak hangat. Toilet di Jepang banyak tombol, tapi klen tak akan bingung menggunakannya. Petunjuknya jelas, ada tulisan dan gambar.

Toiletnya canggih

            Mohon mangap kalok postingan ini berakhir dengan cerita toilet. Cemana, dah bosan belum klen baca cerita saya? :)) Apakah ada yang punya pengalaman berbeda? Share di sini yok. Saya masih punya 12 poin lagi untuk dibahas. Besok-besok lanjut ke postingan 22 Hal yang Saya Amati di Jepang (bagian II). Bhaaayyy!  [] Haya Aliya Zaki

Jangan terlalu percaya sama semua yang klen lihat di media sosial. Kepada Kawan CM yang follow akun IG @hayaaliyazaki dan @ceritamelalak, ketahuilah bahwa di balik senyum manis (manis?) saya selama liburan di Jepang, ada hati yang menjerit karena … KEDINGINAN! HAHAHA!

Awal Januari 2018 kami membulatkan tekad 8 hari liburan musim dingin di Jepang. (((MEMBULATKAN TEKAD))) Etapi serius, memutuskan berlibur saat musim dingin sekeluarga tentu bukan kepergian tanpa persiapan. Kita kan makhluk ceriwis yang hidup di negara beriklim tropis. Baru kali ini kami liburan cukup lama di negeri orang. Perjalanan PP naik pesawat aja makan waktu hampir 2 hari. Tujuan utamanya supaya bisa lebih selow senang-senang dan cari wawasan baru di Negeri Matahari Terbit.

Kami sekeluarga berencana menikmati salju beberapa hari di Sapporo, selanjutnya main ke Tokyo, Kyoto, Osaka, dll. Fyi, bentuk salju itu persis seperti es serut, tapi tak boleh dimakan. Salju mengandung bakteri dan polutan. Salju yang berada di atas tanah kemungkinan membawa pecahan batu, kaca, kayu, dll. So, jangan coba-coba memasukkan salju ke minuman es campur klen ya woooiii. Demikian. 

Sebelum berangkat, saya membayangkan betapa kerennya kalok awak bicara, mulut keluar asap macam aktor dan aktris di film-film Barat. Betapa asyiknya membuat boneka salju ala ala Olaf. Betapa serunya bermain ski es betulan (bukan bermain ski es ecek-ecek di mal). Norak kaliii.



Brrrr!!!

Sayangnya, mimpi-mimpi itu buyar seketika karena begitu keluar dari apartemen, kaki saya gemeteran. Suhu -4oC, Mak! Anak-anak ketawa geli nengok umminya udah pakai baju 3 lapis, tapi jalan tetap sambil menggigil dan bicara dengan gigi gemeletuk. Dibandingkan suami dan anak-anak, ternyata saya yang paling tak tahan udara dingin bah. Girang luar biasa setiap masuk kereta, taksi, atau resto karena udaranya berubah hangat. Berikut saya share perlengkapan yang saya bawa saat liburan musim dingin di Jepang.

1. obat-obatan
            Seperti biasa, setiap bepergian, saya siap sedia membawa obat-obatan seperti obat penurun panas, obat mag, obat tetes mata, vitamin, dll. Setelah membaca blog Arif Rahman (backpackstory.me), saya memutuskan membawa Afrin jugak. Afrin adalah obat untuk hidung tersumbat karena flu, demam, sinusitis, dan alergi. Siapa tahu anak-anak alergi udara dingin. Alhamdulillah, Afrin tak dipakai.   

2. daily face cream
            Cuaca dingin bikin kulit muka kering. Kadang kulit muka kelihatan terkelupas saking keringnya. Suhu yang rendah menyebabkan kelembapan ikut rendah. Kami sekeluarga memakai daily face cream merek Natur-E. Cocok.

3. lip balm
            Ini udah pada pahamlah, ya. Biar bibir tak kering dan nampak sensual. Di Jepang, beberapa kali saya melihat bapak-bapak memulas lip balm dengan santainya di depan umum. Lip balm berlaku untuk semua pemilik bibir di dunia, bukan cuma kaum hawa. 

4. jaket
            Saya khawatir sangat anak-anak kedinginan, makanya saya membawakan mereka 1 orang minimal 2 jaket. Setelah saya coba, bahan jaket yang dipakai anak-anak bikin badan lebih hangat daripada bahan jaket yang saya pakai (lihat foto di bawah). Kawan CM yang pengin beli jaket di Uniqlo silakan, pengin beli di factory outlet (FO) jugak silakan. Harga di FO pastinya lebih murah meriah manjah.

            Suami mengingatkan manfaat lain membawa jaket lebih dari satu, yakni supaya foto-foto kami tampak lebih bervariasi hahaha. Pakai baju apa tak begitu penting karena ke mana-mana baju kami tertutup jaket. Otomatis yang kelihatan di foto nanti jaketnya thok. Hmmm, betul jugak.

            Saya terbantu dengan pakaian dalam long john dan rok celana. Pakaian dalam long john saya beli di Uniqlo. Rok celana bisa dibeli di akun IG @rocellasby. Rok celana ini lebih hangat dipakai daripada celana jeans. Nyaman buat jalan kaki karena bahannya katun stretch. Meski rok tersingkap angin, kaki kita tetap aman karena di baliknya ada celana, kan. 


Rok celana beli di akun IG @rocellasby
  
Jujur kacang ijo, packing baju (terutama jaket) ini bikin awak pening. Saya memilih melipat baju, jaket, dan celana ala army. Lebih hemat tempat di koper. Video tutorial army roll bisa klen cari sendiri di YouTube, yo.

5. kupluk
            Biar lebih gaya (halah), saya memakai hat scarf baggy (satu set kupluk dan penutup leher berbahan wol halus). Hat scarf baggy bisa dipakai perempuan dan laki-laki.

6. syal
Dinginnya musim dingin ini tak pernah saya bayangkan dan rasakan sebelumnya. Selain badan, muka dan leher ikut kedinginan, terlebih kalok angin bertiup kencang. Saya lebih senang memakai penutup leher berbahan wol karena praktis tinggal masukkan aja. Anak-anak jugak. Sementara, suami lebih senang memakai syal. Beda selera. Kalok dinginnya masih tak mempan, terpaksa pakai face mask full (seluruh muka ditutup hanya mata yang kelihatan).

Hat scarf baggy

Syal

Scarf for kids

7. earmuffs (penutup telinga)
            Saya membawa beberapa earmuffs, tapi rupanya satu pun tak terpakai di Jepang. Pakai kupluk aja untuk menutup telinga udah cukup.

8. sarung tangan dan kaus kaki
            Sarung tangan betul-betul jadi pahlawan saya dari cuaca dingin. Perjuangan setiap mau motret karena harus buka sarung tangan. Dinginnya ya ampuuun. Kawan CM bisa membeli sarung tangan touch screen supaya tak perlu repot membuka sarung tangan setiap mau memotret atau menyentuh ponsel. Kaus kaki saya pakai di luar dan di dalam apartemen. Tak bisa awak tidur kalok tak pakai kaus kaki. 

9. sepatu
            Jalanan di salju cukup licin. Pakai sepatu tertutup dan alas sepatu yang bergerigi supaya tak terpeleset.

10. makanan
            Berdasarkan info dari saudara saya yang tinggal di Jepang, makanan halal cukup sulit didapat di sana (bahkan camilan permen pun mengandung gelatin babi). Ini terbukti. Kalok tak googling di mana resto makanan halal, rasanya kami bingung bakal makan di mana. Rata-rata resto hanya menjual pork. Seandainya mereka menjual beef, mereka memasak beef dan pork di dalam dapur yang sama. Tetap aja tak bisa awak makan yekan.

            Kasihan anak-anak kalok urusan makan sampai bikin sutris. Konon pulak Sulthan yang hobinya makan. Saya berinisiatif membawa lauk dari rumah seperti ikan sipetek, rendang, dan telur asin. Lebih irit jugak. Lumayan, dengan membawa lauk ini, saya tinggal membeli nasi instan di minimarket. Btw, nasi di Jepang rasanya enaaak dan haruuum. Kurang tahu jenis berasnya apa. Harga nasi instan 400 yen untuk 6 porsi (Rp50 ribu). Sekali-sekali makan di luar, okelah.    

Ikan sipetek enak dan gurih beli di akun IG @ikankriuk

Btw, saya sempat dicegat petugas di Hong Kong International Airport karena dikira membawa telur mentah, padahal ini telur asin, Koooh. Alhamdulillah telur asin lolos. Selameeet selameeet. LOL. Belakangan saya dikasih tahu Mbak Tesya (tesyablog.com), membawa makanan ke sebuah negara ada aturannya. Makanan yang dengan mudah kita temukan di Jepang, tak boleh kita bawa dari Tanah Air. Hanya, sepertinya peraturannya tak terlalu ketat atau cemana. Tempo hari semua lauk yang saya bawa aman-aman aja di bandara di Jepang. Suami bolak-balik dinas keluar negeri membawa makanan dari sini, tak pernah ada masalah. Saudara saya yang tinggal di Jepang beberapa kali membawa makanan berolahan daging, jugak tak pernah ada masalah. Meski begitu, ada baiknya Kawan CM membaca peraturannya di www.customs.go.jp/english/summary/passenger.htm sebelum membawa aneka makanan ke sana. 

Seminggu lebih merasakan musim dingin membuat saya tambah pandai bersyukur. Selama ini saya sering merepet menghindari terpaan sinar matahari, tapi sehari setelah pulang liburan, saya sengaja berdiri lama-lama di bawah sinar matahari, menikmati setiap jengkal kehangatan yang saya damba selama di Jepang hahaha. Lebay. Makasih ya Allah sungguh nikmat karunia-Mu.

Nah, sepertinya ini aja yang bisa saya share. Nanti dipikir-pikir lagi kalok ada yang perlu ditambahkan. Kawan CM punya rencana liburan musim dingin dalam waktu dekat? Kalok iya, di manakah? Share yok di sini! :) [] Haya Aliya Zaki