Bali is amazing! Bali itu pesonanya tak bakal bikin lupa! Bali itu ....

Ya, ya, ya. Saya cuma bisa manggut-manggut elus lembut janggut mendengar 1001 pujian orang-orang tentang Bali. Entah kenapa, belum pernah sekali pun tebersit niat saya untuk melalak ke Bali sampai akhirnya saya mendapatkan kesempatan itu.

Akhir tahun 2015 saya mengikuti lomba blog bertema kuliner dan saya menulis salah satu kuliner khas asal Medan, yakni sate kerang Bang Rahmat. Hadiah yang dijanjikan adalah uang tunai jutaan rupiah dan melalak ke kota yang onde mande rancak bana, Kota Padang, Sumatera Barat. Sumpah, Mak, sumpah, Pak, saya sama sekali tak berambisi menang. Kebetulan ada lomba dan tema-nya cocok, saya ikutan apa salahnya. Tujuan utama saya murni pengin membantu Bang Rahmat, mengangkat kuliner warisan keluarga beliau ke media online. Sate kerang Bang Rahmat dijamin lomak, namun agak sulit go international. Bang Rahmat mengalami kendala soal teknologi mengawetkan sate kerang tersebut. Saya berharap ada pembaca atau pihak terkait yang bisa membantu Bang Rahmat setelah membaca postingan saya, Kawan CM. Aamiin.

Tak disangka tak dinyana, tulisan saya menang! Amboiii, macam mimpi ditimpa bulan rasanyo. Saya bahkan lupa tanggal pengumuman lomba! Sekian menit saya cuma bisa terpanah manjah dengan wajah merah meronah membaca baris demi baris kalimat pengumuman yang dimesnyen kawan-kawan di media sosial. Saya cuma bisa terpana membayangkan sedapnya nasi padang! “Alamak, awak ke Padaaang! Awak ke Padaaang!” teriak saya sambil lonjak-lonjak kegirangan di tempat duduk. Untung tempat duduknya tak jebol atau kebalik. Kalok sampai tulang pantat kepelekok, kan, awak gagal berangkat.   

Sayang seribu sayang, semakin dekat hari keberangkatan ke Padang, saya dan kawan-kawan pemenang lainnya semakin terombang-ambing kekhawatiran. Pasalnya, asap yang menyelimuti Kota Padang bukannya berkurang, malah bertambah tebal. Apa hendak dikata, destinasi keberangkatan kami diubah ke ... BALI!

Bali?

Ya, BALI!!!

Berbagai insiden seperti kelimpungan mencari baju renang (payah cari baju renang yang muat untuk bodi seksi awak), kehilangan sepatu, sampai delay pesawat, tak mengurangi antusiasme saya untuk melihat pulau primadona pariwisata Indonesia ini. Lha, kenapa tahu-tahu jadi mupeng ke Bali? Entah, saya pulak tak paham. Kayaknya saya kemakan omongan sendiri. Aselik, saya menapakkan kaki pertama kali di Bali dengan dada berdebar. Persis macam orang lagi jatuh cinta haha. Instrumen musik Bali yang saya dengar di Bandara Ngurai Rai terus membuat saya tersenyum. Aroma harum dupa dari parkiran mobil, depan rumah penduduk, sampai di tikungan jalan, menggelitik manis indera penciuman. Rumah penduduk Bali yang rata-rata berkonstruksi ukir tampak begitu unik dan artistik. Yaaasss, I’m in Bali! 

           Kami menginap satu malam di Kuta, kota tujuan utama wisatawan yang ramai, dan satu malam di Ubud, kota seniman yang senyap. Sama-sama di Bali, tapi suasananya totally different. Bersyukur saya bisa merasakan menginap di kedua tempat ini. Lalu, kami diajak melihat proses pembuatan kopi luwak di Bali Pulina, menelusuri asrinya negeri khayangan Penglipuran (‘negeri khayangan’ istilah saya untuk desa adat Penglipuran saking indahnya tempat ituuuh), wisata macam-macam kuliner lomak, dan tur seru ke Pulau Nusa Lembongan.


Biru menggebu Pulau Nusa Lembongan

Negeri khayangan Penglipuran

Kenalan sama biji kopi luwak kering

Icip-icip nasi jinggo yang melegenda

            Ada hal lain yang menarik perhatian saya, yakni polah kawan sekelompok saya, Astari Ratnadya (Tari) a.k.a Raisa versi traveller di Bali. (((POLAH))) Kata pepatah, jika kamu ingin melihat seperti apa sifat asli seseorang, ajaklah dia travelling. Jujur, saya kagum dengan Tari. Dia begitu sigap dan tanggap di lapangan. Boleh saya bilang kalok kemenangan tim kami di berbagai games saat melalak ke Bali, sebagian besar karena kecekatan dan kreativitas dia. Kelihatan yo yang punya jiwa traveller itu. Jadi, siapa bilang travelling cuma buang-buang hepeng? Hah? Hah? Hah? *semoga dia tak baca postingan ini ya Allah* *bahaya, level geernya bakal naik drastis*

 Pengalaman pertama di Bali membuat saya ketagihan. Saya berjanji akan mengajak anak-anak liburan ke Bali. Ikat pinggang di rumah pun semakin kencang. Tiada hari tanpa menabung. Menabung, menabung, dan menabung. Maklum, ada lima anggota yang harus dibawa, termasuk saya. Biaya, tiket pesawat, menginap di hotel, dan karcis masuk ke aneka tempat wisata pastinya butuh biaya yang tak sikit, Kawan CM. Dan, dua tahun kemudian, impian saya terwujud. Pertengahan tahun 2017 saya memenuhi janji mengajak keluarga liburan ke Bali! Libaaasss! :))

Jjs di Kuta

Indahnya pemadangan Gunung Batur


Kami menonton tari kecak di Uluwatu

Monkey Forest Ubud *jangan sampe salah gandeng*

Anak-anak main ke art museum DMZ Bali

Bali ibarat candu. Sekali tak akan pernah cukup. Kalok dapat kesempatan ke Bali, saya pilih ke mana, yaaa? Hmmm, setelah mengingat-ingat, bikin orat-orat di kertas, saya memutuskan ke beberapa tempat ini. Yok, simak, yok!

1. Pantai Lovina
            Atraksi lumba-lumba tak pernah gagal bikin awak meleleh! Dua kali ke Bali, saya belum beruntung menyaksikan lumba-lumba menari di Pantai Lovina. Kabarnya lumba-lumba ini muncul ke permukaan laut ketika matahari terbit. Sekejap aja, jadi benar-benar worth it menunggu mereka muncul. Kenapa berminat menonton atraksi lumba-lumba di sini, padahal di kota jugak ada sirkus lumba-lumba? Wooiii, bedalah menonton yang dari habitatnya langsung. Di arena sirkus, lumba-lumba beratraksi karena mereka berharap makanan. Jika tak menurut perintah instruktur, mereka akan kelaparan. Kasihan, kan? Begitu tahu faktanya demikian, mana tega awak. Setelah menonton aksi lumba-lumba, saya pengin lanjut snorkeling di Pantai Lovina. Wih, gaya. Pengin ‘balas dendam’ ceritanya karena waktu ke Pulau Nusa Lembongan dulu itu saya ogah-ogahan snorkeling. Nyesel!

2. Sungai Ayung
            Mau ngapain ke Sungai Ayung? Rafting, Saudara-saudara! Wajah tegar, tapi sebenarnya nulis kata ‘rafting’ aja dengkul awak gemetar bah. Seumur-umur tak pernah mimpi ikutan rafting. Tapi, hidup cuma sekali. Bolehlah kita memberanikan diri mencoba hal-hal baru. Rafting di Sungai Ayung bukan hanya memacu adrenalin, melainkan jugak menawarkan keindahan pemandangan di sepanjang sungai. Soal keamanan, pastinya harus ada instruktur yang mendampingi karena olahraga rafting berisiko tinggi. Kebayang waktu rafting nanti kawan-kawan pada teriak-teriak heboh, eh, saya malah khusyuk komat-kamit yasinan.  

3. Danau Beratan Bedugul
            Danau Beratan Bedugul ini istimewa karena punya pura bernama Pura Ulun Danu. Masih ingat foto pura di uang kertas Rp50 ribu yang lama? Itulah foto Pura Ulun Danu! Sebetulnya saya lebih pengin melihat Pura Besakih, pura terbesar dan pusat kegiatan dari seluruh pura yang ada di Bali. Sayang, Gunung Agung sedang dalam status awas. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda status awas turun ke status siaga. Nah, Pura Besakih terletak di lereng Gunung Agung.  Tempo hari saya menonton berita di televisi, di sana udah terjadi 570 gempa dalam dan 360 gempa dangkal. Ratusan ribu orang telah mengungsi. Semoga semua baik-baik aja. Aamiin.

Pura Ulun Danu (credit: @habibiyusuf)

            Oiya, tambahan, saya pengin melantak kuliner nasi ayam Kedawetan Ibu Mangku. Katanya belum sah ke Bali kalok belum ke sini. Menu-menunya khas menu Pulau Dewata. Rasanya enak, halal, dan murah! Tuh, kan, paling tak bisa awak dengar kata ‘murah’.

Bali is amazing! Bali itu pesonanya tak bakal bikin lupa! Bali itu ....

Huaaa!

Julia Roberts syuting film Eat, Pray, Love di Bali. Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud dan rombongan pangeran dari Arab Saudi memilih liburan di Bali. Mantan teranyar, Hamish Daud, resepsi pernikahannya di Bali. *Gustiii, yang terakhir ini sukses bikin hatiku tercabique-cabique*

Aaakkk ... awak pengin melalak ke Bali lagi! [] Haya Aliya Zaki 


Halooo anak muda 80 dan 90-an! Yang suka nonton sinetron Losmen di TVRI mana suaranyaaa?

Meski orang Medan (dulu nonton sinetron Losmen pun pas masih tinggal di Medan), awak senangnya luar biasa nonton sinetron yang mengangkat budaya Jawa ini. Tokoh utama Losmen adalah Pak Broto (alm. Mang Udel) dan Bu Broto (Mieke Wijaya), pasangan lawas yang harmonis. Mereka memiliki tiga anak, yakni Pur (Ida Leman), Sri (Dewi Yull), dan Tardjo (Mathias Muchus). Ceritanya Bapak dan Ibu Broto pemilik dan pengelola sebuah penginapan (losmen) bernama Srikandi di Yogyakarta.

Konflik di sinetron besutan sutradara Tatiek W. Maliyati dan alm. Wahyu Sihombing ini tampil begitu menarik dan natural. Di luar dugaan, Mieke Wijaya yang biasanya berperan sebagai tokoh antagonis, luwes sangat berperan sebagai Bu Broto yang ramah, santun, dan welas asih di sini. Dan, ya, setting yang “Jawa banget” sukses bikin saya jatuh hati berkali-kali. Padahal lokasi syutingnya di dalam studio aja. Kapan ada sinetron bagus kayak gini lagi? Kapaaan??? Konon pulak adegan Pak Atmo (Sutopo HS) bermain gamelan. Itu adegan yang paling saya tunggu-tunggu, Kawan CM! Saya sampai membatin, suatu saat harus saya harus ke Yogya. Entah kapan dan macam mana caranya, tapi HARUS!

Sepertinya Allah mendengar doa memelas anak ABG tahun 90-an ini. Saya ditakdirkan berjodoh dengan orang Jawa dan hampir setiap tahun ikut pulang ke kampung halaman suami di Yogya (singgah di Solo dan Klaten jugak). Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan. :))

Pucuk dicinta nasi ulam tiba. Bapak mertua saya (selanjutnya saya sebut: Bapak) hobi melalak pulak. Beliau tampak lebih antusias memperkenalkan macam-macam tempat di Jawa kepada saya (dan menantu-menantu yang lain) dibandingkan suami saya sendiri. -__- Dari tempat wisata candi, pemandangan alam, aneka kuliner, sampai ke tempat belanja belanji produk setempat.

Saya pribadi paling suka melalak ke tempat-tempat usaha kerajinan. Favorit saya kerajinan perak di Kotagede! Tak pernah bosan! Tempo hari saya sempat mewawancara beberapa pegawai tentang uniknya proses pembuatan perak. Kapan-kapan kalok lagi tak malas, saya tulis di blog. (((KALOK LAGI TAK MALAS))) 

Merapi!





Di antara semua kenikmatan travelling tadi, ada satu hal tentang Bapak yang membekas sekali di hati saya. Sebelum bercerita, saya mohon Kawan CM menjauhkan prasangka bahwa cerita saya ini riya karena Bapak sudah melakukannya puluhan tahun jauh sebelum media sosial ada.

Bapak adalah mantan staf ahli menteri di bidang kependudukan. Dulu kadang-kadang saya diajak sowan hari raya ke rumah bapak menteri, nonton acara di istana negara, dan kondangan ke pernikahan artis. Setiap beliau dinas keluar kota atau keluar negeri, saya kecipratan oleh-oleh. Rezeki menantu salehah haha. Namun, sungguh gaya hidup Bapak sehari-hari jauh dari glamor. Rumah termasuk sederhana dan mobil pun biasa saja. Kalok bisa jalan kaki, ke mana-mana pasti Bapak memilih jalan kaki.

Yang membuat Bapak lebih berbeda, setahun dua kali beliau pulang ke Yogya. Kadang kami ikut kadang tidak. Perjalanan ke Yogya selalu memiliki misi. Bapak ingin berbagi ilmu dan berbagi materi demi berusaha memajukan masjid, perpustakaan, dan sekolah di Klaten, kampung kelahiran beliau. Bapak rutin mengundang hampir seratusan perwakilan pengurus di beberapa Kabupaten Klaten untuk berkumpul di rumah Bapak yang di Yogya. Mereka semua disambut dan dijamu laksana tamu istimewa, mereka saling bertukar cerita tentang kemajuan dan hambatan yang dihadapi di daerah masing-masing, lalu sama-sama mencari solusi. Sebagai anak rantau yang cukup berhasil, Bapak urung lupa kampung halaman.

Repot? Dijamin super-repot, tapi tak pernah sekali pun saya mendengar Bapak mengeluh. Tubuh kurusnya gesit mengurus ini itu. Semua dijalani dengan penuh sukacita dan bahagia. Bagi Bapak, hidup adalah pengabdian kepada Allah Swt dan bermanfaat untuk sesama.

“Jangan ragu untuk berbagi ilmu. Ilmu seperti cahaya yang menemanimu di mana saja dan kapan saja. Jangan ragu untuk berbagi rezeki karena rezeki sudah diatur Allah. Bahkan ikan di laut ada rezekinya. Berbagi ilmu tak akan membuat ilmumu habis. Berbagi rezeki tak akan membuatmu jatuh miskin.” - Bapak

Beberapa tahun belakangan saya dan suami berusaha mengikuti jejak Bapak, meski masih secuil. Alhamdulillah, begini rasanya ternyata, yo. Awak sampai merinding dan meneteskan air mata haru saat dipeluk erat ibu-ibu guru sekolahan PAUD dari Klaten. Mereka berterima kasih sekali atas sumbangan laptop dan printer dari kami. Fasilitas ini insya Allah berguna untuk sekolah mereka. God, I’ll never forget this moment. For me, this is my “aha moments”! 

Nah, saya yakin Kawan CM pun punya “aha moments”! Pilih satu yang paling greget dan ikutkan dalam lomba blog Aha Moments Skyscanner Indonesia! Ceritakan “aha moments” yang memberikan inspirasi, pencerahan, semangat, ide baru, dll ketika klen travelling. Dilamar saat travelling? Jumpa sosok yang mengubah diri klen menjadi lebih baik? Terkesan sama kearifan lokal yang lain daripada yang lain? BOLEH! Putar dan putar lagi memori. Ide tidak harus mewah dan “wah”, yang penting klen bisa mengemasnya menjadi sebuah cerita yang sedap untuk disantap. Tak harus udah pernah travelling ke Danau Como dulu baru bisa ikutan lomba blog ini. *Raisa kali, ah* Sila tambahkan materi pendukung seperti foto, video, infografis, dll untuk merebut hati juri. Jiaaa. Ceritakan jugak yo keunggulan Skyscanner Indonesia, sebuah mesin pencari tiket pesawat, hotel, dan rental mobil di seluruh Indonesia. Blend them smoothly. Pastinya Skyscanner Indonesia bisa betul membantu kita mencari lebih banyak “aha moments” saat travelling. :))

Profil juri *batuk*

Lomba blog Aha Moments Skyscanner Indonesia terbagi dua fase, yakni fase 1 (kategori konten, SEO, dan blogger referral) dan fase 2 (kategori voting dan voter referral). Hadiahnya voucher travel senilai Rp33 juta! Contoh tulisan lainnya bisa dibaca di sini, di sini, dan di sini. Ada video yang wajib klen embed jugak. Info lengkap baca di website C2liveDeadline 2 Oktober 2017 pukul 15.00 wib. Catat tanggalnya baek-baek.

Ingat, jangan sampai dicuekin lomba blog yang satu ini. Kenapa? Kesempatan menang Kawan CM cukup besar dengan adanya macam-macam kategori pemenang tadi. Btw, ada yang pengin melalak ke Yogya kayak awak tak? Hadiah vouchernya nanti amat sangat bisa dipakai itu! So, tunggu apa lagi? [] Haya Aliya Zaki