Shalat Ied di Masjid Raya Medan


Tak terasa yo tahun ini Lebaran jatuh pada bulan Juni, Kawan CM. Entah kenapa awal tahun begini saya udah mikirin beli tiket pesawat aja haha. Pulang ke kampung halaman merupakan momen yang paling saya nanti. Selain silaturahim keluarga, beberapa kali Lebaran saya rayakan dengan wisata religi ke masjid-masjid di kota Medan yang kental akan nuansa Melayu Deli.
            Nah, kami pernah shalat Ied di Masjid Raya Medan a.k.a Masjid Raya Al-Mashun. Pastinya sebagian dari Kawan CM udah familiar sangat sama masjid ini. Masjid Raya terletak di Jalan Sisingamangaraja, Medan. Jaraknya 10 kilometer dari Polonia dan 200 meter dari Istana Maimoon. Persis di seberang depan masjid ada Madani Hotel. Tak jauh dari Madani Hotel, ada pulak Garuda Plaza Hotel. Setiap tahun di bulan Ramadhan dan Syawal, kedua hotel tersebut menawarkan tarif promo menginap dimulai dari tiga ratusan ribu rupiah per malam.  


Masjid Raya Medan


Kembali ke Masjid Raya. Masjid ini dibangun oleh Sultan Ma’moen Al-Rasjid Perkasa Alamsyah dari Kesultanan Deli pada tahun 1906. Kabarnya, biaya pembangunan sepenuhnya dari Sultan Deli. Berdasarkan keterangan yang awak baca di prasasti, masjid ini pertama kali dipergunakan pada tanggal 19 September 1909. Dulu keluarga Sultan Deli selalu melaksanakan shalat berjamaah di sini. Sampai sekarang masjid masih dipakai untuk beribadah, termasuk untuk shalat Ied.


Saya masih ingat, waktu itu shalat Ied di Masjid Raya dimulai tepat pukul 8 pagi. Uniknya, saat shalat Ied, semua pengurus masjid berpakaian adat Melayu lengkap! Khatibnya pun memberikan khotbah dari mimbar yang tinggi. Memang lain daripada yang lain. :) 

Pengurus masjid berpakaian adat Melayu lengkap

Mimbar khatib yang tinggi

Tempat bilal azan dan mengaji


Selesai shalat dan mendengarkan khotbah, saya pusing-pusing menengok area masjid. Total luas wilayahnya sekitar 1 hektar. Ukuran masjid yang didominasi warna kuning dan hijau ini sangat besar. Bangunannya terbagi tiga, yakni bangunan utama, tempat wudhu, dan pintu gerbang. Model bangunannya segi delapan. Ornamen di dalam merupakan perpaduan budaya Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Pilar-pilar indah terbuat dari marmer tampak kokoh menyangga langit-langit dalam. Masya Allah. Menara masjid terletak di sebelah kiri, agak jauh dari bangunan masjid. Di sebelah kiri masjid juga ada taman teduh dengan kolam air mancur. Malam hari, lampu air mancur yang berwarna biru menyala. Sayang seribu sayang, masjid semegah ini tak dirawat baik. Kaca jendela pecah di sana-sini. Kebersihannya pun kurang betul. Nasib masjid ini hampir sama dengan Istana Maimoon. Sedih kali hati awak. Semoga jadi perhatian pemerintah Kota Medan. :(


Langit-langit masjid

Kolam air mancur

Di belakang taman, terbentang makam Sultan Deli XII dan Sultan Deli XIII beserta keluarga. Saya menyempatkan diri untuk berziarah dan berdoa di sana. Tak sengaja saya melihat lelaki tua berbaju putih menunduk sambil terisak perlahan di sudut makam. Rupanya beliau adalah Tengku Laksmana, adik dari atok (kakek) Sultan Deli XIV. Wah, kesempatan langka. Bolehlah kiranya saya mengajak salah seorang keluarga kerajaan ini bercakap-cakap dan mengambil gambar sekejap hehe. 

Makam Sultan Deli XII

Saya dan Tengku Laksmana


      Usai ziarah, saya melihat para jamaah salat Ied riuh mengerubungi seseorang berpayung emas di halaman masjid. Siapakah gerangan beliau? Rupanya beliau adalah Pemangku Kesultanan Deli. Para jamaah berebut ingin berfoto bersama. Wah, kesempatan langka lagi! Saya juga tak mau ketinggalan foto-foto walaupun seadanya. Ramai pulak, awak kejepit sana-sini. Sekadar info, Pemangku Kesultanan Deli bernama Tengku Hamdy Osman Deli Khan Al-Haj. Gelarnya Raja Muda Deli. Beliaulah yang melaksanakan tugas-tugas kerajaan selama Sultan Deli XIV yang bernama Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam, belum dewasa. Sekarang Sultan Deli XIV berada di Makassar (kakek Sultan Deli XIV mantan Gubernur Sulawesi Selatan). Kelak, jika sudah dewasa, dia akan pulang ke Istana Maimoon. 

Pemangku Kesultanan Deli


Wisata religi ke masjid-masjid di kota Medan menambah kebanggaan saya sebagai orang asli Medan, mempertebal semangat spiritual, dan tentunya memperluas wawasan sejarah. Kapan-kapan saya bagi cerita lagi soal wisata religi yang lain, ya. Kawan CM punya pengalaman datang ke Masjid Raya Medan jugak? Share, yok! :) [] Haya Aliya Zaki

6 Comments "Shalat Ied di Masjid Raya Medan"

  1. Ngebaca tulisan di blog ini selalu keinget ibunya sahabat saya, kalo ngomong ya logatnya pakai "awak" gini. Berhubung belum pernah ke Medan, dan cuman tau kulinernya ... Saya jadi pengen soto medan nih Mbak *eh loh :))))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wiiih soto Medan itulah enak kaliii. Pas Ke Medan Lebaran tahun lalu aku makan soto Medan SInar Pagi. :)) Di Jakarta juga ada kok. Cobain soto Medan 1930 Pak Syamsudin, Ki.

      Delete
  2. Mbak,kapan ke Medan lagi kabar-kabar ya biar ketemu.hehehe
    Saya stay di Medan.
    Oya,kalo ke mesjid raya gunakan aja mukena gratis yang tersedia karena yang sewa sudah dilarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, salam kenal, Kak Ririn. Insya Allah kita kopdar, ya. Pengin ketemu Kak Molly jugak. :D

      Delete
  3. Aku beberapa kali shalat tarawih disini, biasanya selama ramadhan ada bazar tapi lupa awak namanya..dan selalu rame belum lagi kulinernya ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bisa buka puasa di situ, Kak Tuty. Kuliner Medan gak nahanlah.

      Delete

Jadilah golongan orang-orang beruntung, yakni orang-orang yang komen sesudah membaca. #eaaakkk