Teater Musikal “Raksasa”, Tontonan Anak dan Remaja untuk Membangun Budaya Antikorupsi


Semenjak nonton drama musikal Khatulistiwa yang patennya ke mana-mana itu, saya mencamkan dalam hati bahwa suatu saat saya akan bawa anak-anak menonton drama musikal kalau saya mampu. Menurut hemat saya, aksi menonton drama musikal yang menghibur sekaligus mendidik semacam ini harus dipupuk dan perlu disyiarkan seluas-luasnya. Syedaaaph. :)
Eh, kayaknya cepat kali doa awak diijabah, Kawan CM. Beberapa hari lalu saya membaca IG penulis kesohor Dewi Lestari yang menyebutkan bakal ada teater musikal Raksasa untuk audiens segala umur (khususnya anak-anak) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dan … GRATIS! Makjang, serius gratis? Secepat kilat saya mendaftar. *kebetulan saya ada keturunan Flash sikit* Alhamdulillah dapat 2 tiket. Satu buat saya dan satu lagi buat Shafiyya. Horeee!
Cakap punya cakap, rupanya teater musikal Raksasa merupakan gawean Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bekerja sama dengan Komunitas Jendela Ide. Dalam rangka memperingati Hari Antikorupsi Internasional jugak sebenarnya. Teater musikal Raksasa digelar tanggal 22–23 Desember 2016 (Kamis dan Jumat). KPK yakin, pendekatan seni dan budaya kepada generasi muda mampu membangun karakter terpuji. Ada 10 nilai integritas yang disisipkan secara apik di dalam cerita, yakni jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, adil, dan sabar. “Pencegahan korupsi harus dilakukan dengan berbagai cara dan dilakukan sejak dini,” kata Saut Situmorang, Wakil Ketua KPK. Sutradara teater musikal Raksasa, Marintan Sirait, ikut mengamini.




Mulia sangat ya niat KPK. Yang bikin awak tambah salut, anak-anak dan remaja bukan cuma jadi penonton! Puluhan dari mereka terlibat sebagai pemain, musisi, dan tim artistik. Proses produksi berlangsung selama 5 bulan.     
Saya dan Shafiyya dapat jatah menonton hari Kamis pukul 15.00 wib. Kami tiba pukul 14.30 dan terkesima dengan antrean penonton. Ramainyeee. Banyak anak SD dan SMP berbaris ditemani guru. Mereka memakai seragam sekolah masing-masing. Berhubung saya mendaftar sebagai media/blogger, saya bisa masuk lebih cepat (beda antrean sama yang umum). Kira-kira pukul 16.00 wib acara dimulai. Molor satu jam, tapi tak apalah. Saya paham pusingnya panitia mengurus panjangnya antrean penonton yang rata-rata anak-anak. Selain itu, saya dan Shafiyya berjanji, apa pun yang akan terjadi kami harus tetap happyyyy hihihi. 
Teater musikal Raksasa berkisah tentang 8 orang anak bernama Yogi, Rey, Nana, Togo, Ririn, Melodi, Tom, Bibus, dan anjing lucu bernama Lilu, yang bertualang ke hutan. Di hutan, mereka berpapasan dengan Djundi, penggembala domba. Djundi meminta tolong kepada anak-anak untuk menemaninya menemui tiga raksasa. Pasalnya, ketiga raksasa itu sudah mencuri domba-dombanya!   


Siapa pulak yang tak kembut diajak ketemu raksasa yekan. Tapi, anak-anak kadung kasihan melihat Djundi, jadilah mereka mengabulkan permintaan di penggembala domba ini. Di tengah perjalanan, mereka baru sadar bahwa misi mereka bukan lagi cuma mengambil balik domba-domba Djundi. Mereka mendapat tugas melawan Omora, pemimpin Kota Mesin yang keji, dan menghidupkan kembali Pohon Harapan. Singkat cerita, jika mereka tak memiliki 10 nilai integritas tadi, mereka tak akan mampu menunaikan tugas. Pertunjukan yang terdiri atas 6 babak ini berakhir pukul 17.15 wib.
Kalau saya perhatikan, kostum dan properti pemainnya sederhana. Dari awal sampai akhir pertunjukan, tokoh anak-anak memakai semacam cape (blus tanpa lengan dengan bukaan depan). Beda anak beda warna cape. Sebagian besar properti berasal dari bahan kardus yang dimodifikasi kreatif. Saya paling suka video mapping-nya. Seru sangat waktu melihat adegan anak-anak kejeblos ke dunia bawah tanah. Kayak jatuh betulan! :)) Musiknya cantik. Semua pandai bernyanyi. Kabarnya, seluruh elemen pertunjukan tercipta berkat gagasan para anak-anak dan remaja ini. Waaah!  



Rangkaian acara teater musikal Raksasa bukanlah selebrasi semata, Kawan CM. Anak-anak dan remaja kita diajak untuk menikmati proses, menghayati nilai integritas, dan berpartisipasi dalam gerakan antikorupsi. Epik! Shafiyya senang dan saya yakin dia meresapi pesan-pesannya. Apalagi dia dapat buku cerita teater musikal Raksasa yang berilustrasi dan full colour dari kakak-kakak panitia. Dalam perjalanan pulang kami asyik membahas lagi pertunjukan tadi. Oiya, sebenarnya Shafiyya pengin berfoto dengan tokoh Larasati Naga Air di dekat pintu keluar, tapi penonton udah berjubel berdiri di sana. Ya sutralah. Harapan kami, semoga semakin banyak pendekatan seni dan budaya kepada generasi muda seperti ini nanti. Kami tunggu! :) [] Haya Aliya Zaki    

3 Comments "Teater Musikal “Raksasa”, Tontonan Anak dan Remaja untuk Membangun Budaya Antikorupsi"

  1. Saya suka dengan drama-drama musikal. Kayaknya seru nonton yg Raksasa ini. Btw, KPK sekarang banyak terobosannya yak. Ini bisa menjadi bagian edukatif juga. Kapan ya ada di Serang? Ngareeep ...

    ReplyDelete

Jadilah golongan orang-orang beruntung, yakni orang-orang yang komen sesudah membaca. #eaaakkk