Selama ini kalo kalok klen mendengar nama kota yang satu ini pasti yang kebayang di kepala klen adalah: DODOL.

Kota apakah itu?

Yak, Kota Garut! Mayoritas orang yang saya tanya memang mengatakan “dodol”. Sudah sedemikian legendarisnya julukan Kota Dodol disematkan ke Garut, Kawan CM.

Selain Kota Dodol, Garut memiliki julukan lain, yaitu Switzerland Van Java. Julukan tersebut diberikan karena Garut merupakan penghasil cokelat di Pulau Jawa. Kota yang pernah disinggahi aktor Charlie Chaplin ini juga dikenal sebagai penghasil domba terbaik. Wisata alamnya? Jangan ditanya, banyak kali dan paten semua! Klen mau nyium harumnya bunga edelweiss? Haelah, di Garut ada! Satu lagi, tempat romantis seperti Kampung Sampireun pulak eksis di Garut. Kawan CM yang mau pesan hotel atau penginapan di Garut bisa lewat Traveloka. Tanah sunda memang kaya. Awak yang orang Medan ini pun mengakui. :)) Tinggal kek mana kita anak bangsa (((ANAK BANGSA))) ini mau merawatnya. Haseeek.

Berkunjung ke Garut past tak lengkap tanpa mencicipi kuliner khasnya. Jika selama ini dodol adalah kuliner khas Garut yang kita tahu, berikut saya gelar kuliner lain khas Garut yang wajib kalian coba. Simak, ya!

1.  Baso aci
Baso aci terbuat dari aci, disajikan dengan bumbu dan kuah. Sebelum menyantap, rebus terlebih dahulu supaya lebih nikmat.

2. Moring garutan
Moring ini camilan yang tersedia dalam berbagai macam rasa seperti pedas, keju, barbekyu, dan lain-lain. Cocoklah buat kawan duduk berleha-leha.

3. Burayot
Burayot terbuat dari beras merah, kacang merah, dan gula merah. Burayot mudah dijumpai di toko-toko yang menjual oleh-oleh khas Garut.

Burayot (credit: katasaya.com)

4. Dorokdok
Dorokdok itu kerupuk kulit dari kulit sapi, kemudian diolah dengan campuran bumbu rempah istimewa. Cara membedakan dorokdok dengan kerupuk kulit biasa cukup mudah karena langsung terlihat dari warnanya. Warna dorokdok lebih hitam dan rasanya juga gurih!

5. Opak bungbulang
Camilan ini sudah lumayan hits karena rasanya dan renyah di mulut. Nama “bungbulang” sendiri diambil dari nama sebuah kecamatan di Garut yang populer oleh batu akik dan pantainya (Pantai Ranca Buaya). Unik, opak bungbulang dimasak dengan cara dibakar di perapian. Aroma asap masih terhirup ketika opak akan dimakan.

Opak bungbulang (credit: JelajahGarut.com)

6. Ladu Malangbong
Ladu malangbong terbuat dari beras ketan. Jajanan ini diperkenalkan oleh masyarakat Malangbong, Garut. Mari kita coba keunikan rasanya!

Ladu malangbong (credit: JelajahGarut.com)

7. Soto Garut
Soto Garut sebenarnya tidak jauh beda dengan soto ayam pada umumnya. Tapi, biasanya soto Garut itu pakai nasi dicampur suwiran ayam, potongan telur, kecambah, bawang goreng, dan kuah yang gurih.

8. Es Goyobod
Jika klen berkunjung ke alun-alun Kota Garut, jangan lupa mencicipi es goyobod. Minuman ini terbuat dari tepung kanji. Penyajiannya dicampur dengan sirup, avokad, dan agar-agar. Menikmati es goyobod di siang hari? Segaaarrr!

9. Chocodot
Chocodot adalah cokelat isi dodol yang tidak bisa dilepaskan dari warisan kuliner khas Garut. Salah satu oleh-oleh yang paling dicari wisatawan saat ke Garut.


Nah, itu dia 9 kuliner khas Garut selain dodol. Betul, kan, Garut itu kaya? Alamnya indah, kulinernya juga banyak. Acem, sor klen? Ayo, melalak ke Garut! []

Saya memelototi e-mail yang baru saya terima dari penyelenggara lomba.

Barang-barang yang harus dibawa:
1. Baju ganti
2. Pakaian untuk bermain air di pantai atau pakaian untuk menyelam
3. Perlengkapan mandi
4. Sunblock
5. Sandal
6. Sepatu olahraga
7. Obat-obatan jika diperlukan.

Melalak kali ini bukan melalak biasa, Kawan CM. Melalak kali ini merupakan melalak istimewa. September tahun lalu, saya terpilih sebagai salah satu pemenang lomba blog Jelajah Gizi Bali. Yippiiie! Which is saya dan beberapa kawan blogger lain akan melalak ke Bali selama beberapa hari! Ya iyalaaah kalok judulnya Jelajah Gizi Medan itu artinya melalak ke Medan. :p Semua tiket pesawat, penginapan, dan makan-makan ditanggung. Bisik-bisik tetangga, di sana bakal digelar games dan perlombaan seru berhadiah hepeng jeti-jetian! Makjang siapa yang tak mupeng yekan. Tambahan pulak, ini kali pertama saya ke Pulau Dewata. Saya pengin pengalaman di sana bakal jadi pengalaman yang berkesan. Makanya, semua perlengkapan harus betul-betul disiapkan. Tapiii ....

Mata saya kembali memelototi e-mail.

SEPATU OLAHRAGA.

Sepatu olahraga .... sepatu olahraga .... Mmm ... what?!

Seketika saya sadar, saya belum punya sepatu olahraga! Hajaaab! Ketahuan selama ini males olahraga. *biar dramatis, ada adegan petir sambar-menyambar* Demi melalak gratis ke Bali, malam itu jugak saya meluncur ke mal terdekat untuk membeli sepasang sepatu olahraga!

Pukul delapan malam, saya masih belum nemu sepatu olahraga yang cantik dan cocok. Padahal, besok subuh saya sudah harus berangkat dari rumah Cileduk ke bandara Soetta. Saya belum nemu sepatu yang cantik dan cocok di kaki serta cocok di kantong. Namanya juga omak-omak irit mengarah ke pelit. *minta dijambak*

Saya pun duduk kelelahan di depan sebuah shopping centre gede. Tak jauh dari saya ada toko sepatu TOMKINS. Saya baru ingat, saya pernah menghadiahi adek laki-laki saya di Medan sepatu TOMKINS warna putih kombinasi merah. Saya terngiang-ngiang apa yang dia ucapkan via telepon beberapa waktu lalu.

Adek: “Makasih ya, Kak. Sepatunya belum lapuk walaupun udah dipakai bertahun-tahun. Mana gaya, lagi.”
Saya: “Oh, jelaslah. Sepatu impor ituuu.” (asbun)
Adek: “Ah, masa, Kak? TOMKINS itu produk lokal!”
Saya: “Hah?” (kejungkel) “Serius kauuu? Kupikir itu sepatu impor?”

Dengan muka merah padam karena ketahuan kombur molotup alias ngibul, saya pun googling asal usul sepatu TOMKINS. Ondeeeh, yang betulnya sepatu ini asli Indonesia! Perusahaan yang memproduksi adalah PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk. Pabriknya ada di Gedebage, Bandung, Jawa Barat. Paten, kan? Kualitas produk lokal tak kalah sama produk luar negeri. Bangga!

Saya menjentikkan jari. Aha, kenapa saya tak beli sepatu TOMKINS aja? Toh adek saya sendiri sudah mengakui mantapnya kualitas sepatu TOMKINS. Dua kali lompat ala Spiderman, sampailah saya ke toko sepatu itu. Pilah pilih, hati saya jatuh pada Lazarus Grey Tosca nomor 40. Desainnya sporty, tapi cantik! Unik, saya tak perlu repot mengikat tali sepatu. Tali sepatunya sudah disetel sedemikian rupa dari sananya. Harga Rp300 ribuan. Alhamdulillah, lumayan terjangkau, Kawan CM.     

Credit: www.tomkins.id



Singkat cerita, jadilah saya melalak ke Bali pakai sepatu TOMKINS. Kami melihat proses pembuatan kopi luwak di Bali Pulina. Kami melongok kearifan lokal di Desa Penglipuran. Kami main-main di Pantai Nusa Lembongan. Kami menginap di Kuta. Aaah, masih banyak lagi! Seperti yang saya sebutkan di atas, melalak kali ini bukan melalak biasa. Kami didampingi oleh profesor ahli gizi. Selain melalak dan berkenalan dengan kuliner Bali, kami jugak diberi wawasan soal gizi dan manfaat masing-masing kulinernya. Perjalanan yang menyenangkan dan sarat ilmu. 

Acara Jelajah Gizi Bali diwarnai games dan perlombaan. Berkat sepatu TOMKINS, saya bisa lincah bergerak ke sana kemari. Lupa umur hihihi. Soalnya sepatu ini ringan dan enak kali dipakai! Meski sepatu baru, kaki saya tak ada itu yang namanya lecet-lecet. Biasanya, kan, kalok sepatu baru perlu penyesuaian dulu. Awal-awal pakai, mesti kaki lecet-lecet dikit. Nah, sepatu TOMKINS beda! Kabar paling menyenangkan adalah saat malam puncak. Tim saya dan kawan-kawan terpilih sebagai tim terbaik Jelajah Gizi Bali 2015 yeaaay! Alamak hadiahnya bikin dompet gemuk. Sepatu TOMKINS salah satu sahabat perjalanan yang ingin saya ucapkan terima kasih. :)

"Give a girl the right shoes and she can conquer the world." - MM

Saya yang pakai topi cokelat dan sepatu TOMKINS!

KUTA!
Tim terbaik Jelajah Gizi Bali 2015 yeaay!

Kawan CM yang pengin beli sepatu TOMKINS, tak usah heboh keringetan mencari kayak saya dulu. Kini sepatu TOMKINS bisa dibeli online di www.tomkins.id. Tinggal duduk manis di depan laptop, klik foto sepatu yang disuka, dan add to cart (masukkan ke keranjang). Hemat waktu! Sepatu untuk laki-laki, perempuan, anak-anak, ada. Segala ukuran pun tersedia. Model dan warnanya cakep-cakep. Sepertinya saya bakal beli lagi untuk hadiah ulang tahun anak saya bulan depan. :)




Kalau saya punya acara memberi workshop keluar kota, saya selalu pakai sepatu TOMKINS. Nyaman maksimal buat jalan jauh. Hampir satu tahun sepatu TOMKINS menjadi sahabat saya. Meski sering dipakai, sepatu ini tetap awet. Intermezzo, kebetulan beberapa bulan belakangan saya sedang fokus menganut gaya hidup sehat. Sepatu TOMKINS setia menemani saya olahraga jalan kaki keliling kompleks maupun sekadar menggenjot Obytrex (semacam sepeda statis) di rumah. Pilihan sepatu yang tepat sangat penting untuk menghindari cedera saat olahraga. Senangnya olahraga tanpa waswas bareng sepatu TOMKINS. Saran saya, kita harus punya minimal sepasang sepatu olahraga di rumah. Nanti sepatu olahraga ini seolah-olah “memanggil-manggil” kita supaya rajin olahraga haha! Poinnya, sayang, kan, udah punya sepatu olahraga, tapi tak dipakai. Lagipula, sehat itu harta paling berharga. Betul tak? :) 

Kawan CM ada yang sedang butuh sepatu baru? Bisa jadi sepatu TOMKINS jawabannya, terutama jika Kawan CM butuh sepatu untuk aneka aktivitas gerak dan melalak. So, siapa bilang sahabat setia selama perjalanan hanya teman yang melangkah bersisian? :) [] Haya Aliya Zaki

NB: Semua foto milik pribadi kecuali foto pertama
"Kamu mencuri mimpiku, tapi aku suka kamu yang mencuri mimpi aku." - Rania

Maaf, ya, Kawan CM kalok judul postingannya terkesan alay. Saya tak bisa bikin judul postingan yang lebih bagus selain ini hahaha! Soalnya filmnya bikin baper betoool!

Jelang Lebaran 2016 bioskop kita semarak oleh jembrengan film Indonesia, antara lain Rudy Habibie, Sabtu Bersama Bapak, Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (Jilbab Traveler LSIK), dan Koala Kumal. Di antara jembrengan film Indonesia ini, saya dan suami memilih nonton Jilbab Traveler LSIK terlebih dahulu di 21 Center Point Mall, Medan (5/7).


Alasannya?

Pertama, kami ingin melihat scene pemandangan salju di Korea hag hag hag. Siapa tahu bisa ke sana bareng. Aamiin! Kedua, kami ingin menikmati kembali akting keren Morgan Oey. Yap, soalnya kami kadung kesengsem sama akting pemuda bermata sipit ini sejak nonton film Assalamualaikum Beijing. So, big no no kalau sampai melewatkan film terbarunya. Ketiga, trailer filmnya saya suka. Diawali dengan cerita tentang Ibnu Bathuthah, penjelajah muslim yang menjadi rujukan dunia. Saya bukan traveler, tapi kalimat pembuka trailer-nya somehow bikin hati saya bergetar. Alamak!   


Jujur, saya belum baca novel Jilbab Traveler LSIK. Jadi tak ada ekspektasi apa-apa sebelum nonton. Ketika novel ini terbit, saya malah mbatin, mungkin Mbak Asma Nadia sekadar mengikuti tren anak muda yang sedang gandrung-gandrungnya dengan K-Pop. Namun, setelah menonton filmnya, saya menarik kuat-kuat prasangka saya. Kenapa? Dengar-dengar, cerita Jilbab Traveler LSIK merupakan semi biografi Mbak Asma. Dengar-dengar, tokoh Hyun Geun itu memang EKSIS! Okelah, supaya lebih enak cakap-cakapnya, saya langsung ke sinopsis cerita ala ala saya aja, ya.

Rania Timur Samudra (Bunga Citra Lestari) kerap melanglang buana hingga suatu ketika ayahnya jatuh sakit. Di sela-sela sakitnya, ayah Rania mengulang harapan-harapannya. Beliau ingin Rania menjadi “mata dan kakinya” untuk melihat dunia. Melalui traveling, Rania bisa berbagi ilmu dan kasih kepada orang banyak.

“Sarjana bukan satu-satunya sayap agar kau bisa keliling dunia, Rania.”

Di sini saya mencoba memaknai kalimat ayah Rania. Meski belum membaca novel Jilbab Traveler LSIK, saya lumayan tahu kisah hidup Mbak Asma melalui buku-buku sebelumnya. Sejak kecil hingga remaja Mbak Asma digerogoti macam-macam penyakit, mulai dari gegar otak sampai tumor. Mbak Asma tidak bisa mengecap pendidikan perguruan tinggi karena keterbatasannya ini. Saya berasumsi bahwa kalimat ayah Rania di atas adalah kalimat penyemangat. Rania a.k.a Mbak Asma tidak boleh putus asa mengejar mimpi dan cita-cita. Dan, Rania bahagia bisa mewujudkan harapan ayahnya. Dunia traveling sendiri memang panggilan jiwanya.  

Di satu sisi, ibu Rania selalu ingin anak-anaknya bahagia dengan pilihan mereka. Namun, di sisi lain, beliau kerap didera rasa khawatir setiap Rania berada di negeri orang. Apakah baik jika seorang muslimah ke mana-mana tanpa didampingi mahram?

Siapa sangka, ayah Rania meminta Rania untuk mengunjungi Baluran, sebuah daerah di Jawa Timur. Di Baluran, cinta ayah dan ibu Rania bersemi. Pertemuan tak disengaja antara Rania dan seorang pemuda asal Korea Selatan, Hyun Geun (Morgan Oey) di Baluran, membuka konflik cerita. Hyun Geun meremehkan keindahan wisata di Indonesia. Rania tidak terima. Dia mengajak Hyun Geun dan Alvin, sahabat Hyun Geun (Ringgo Agus Rahman) untuk melihat Kawah Ijen. Kawah Ijen adalah danau kawah yang unik dan indah. Di sini dijumpai fenomena api biru. Selain di Ijen, api biru juga ada di Islandia. Catet, hanya dan hanya ada di dua lokasi ini di dunia, Kawan CM! Paten, kan?

Hyun Geun puas dan mengakui bahwa Indonesia memang betul-betul indah. Bahkan, Hyun Geun instantly fall in love dengan Rania. Sebaliknya, Rania sebal karena Hyun Geun terlalu blakblakan dan cuek. Dia semakin menjauhi Hyun Geun setelah tahu dia kehilangan momen terbesar dalam hidupnya gara-gara mengantar Hyun Geun melihat Kawah Ijen. :((

Rania memutuskan berhenti traveling dan menemani ibunya di rumah. Saudara-saudara Rania, Kak Tia (Tasya Nur Medina) dan Bang Aeron (Indra Bekti), mulai gencar menjodohkan Rania dengan Ilhan Gandari (Giring Ganesha). Hingga suatu hari Rania mendapat undangan menjadi peserta Writing Residence di Gangwon, Korea Selatan. Setelah Baluran, Indonesia, Rania dan Hyun Geun ditakdirkan bertemu di Gangwon, Korea Selatan. 

Rania dan Ilhan. Hyun Geun dan Jeong Hwa.

Keduanya sudah ada yang memiliki. Padahal, Rania dan Hyun Geun sebenarnya saling cinta. Apakah mereka bisa bersama?

Tema-nya mungkin biasa, yakni cinta segitiga. Tapiii … spirit tentang muslimah berhijabnya ini yang luar biasa. Jilbab bukan penghalang muslimah berprestasi. Jangan takut menggali ilmu di negeri orang, termasuk di negeri muslim minoritas. Saya sangat terkesan dengan pesannya. Hingga saat ini Mbak Asma sudah mengunjungi 60 negara dan 310 kota di dunia. Waaaw. 


Menurut saya, semua scene terhubung dengan logika yang baik. Kenapa Hyun Geun terpaksa minum alkohol ketika disuruh ayah Jeong Hwa (padahal Hyun Geun menolak karena dia muslim). Kenapa ibu Rania seolah resah, padahal Rania sudah mantap menentukan akan menikah dengan siapa. Saya jadi ingat mama saya. Beliau resah ketika saya juga resah, walau tak ada satu kata pun yang keluar melalui bibir saya. Hm, naluri ibu, ya. Kenapa Rania ingin ada yang menemani langkahnya mengelilingi bumi Allah, semua terasa masuk akal.        

Lega, tidak ada kontak fisik antara lawan jenis di film ini. Saya suka, jilbab Rania selalu menutupi dada. Akting BCL, Morgan, Giring, Ringgo Agus saya acungi jempol. Akting Morgan melebihi ekspektasi saya dan suami. Makin matang! Akting Ringgo Agus lucu dan menggemaskan (halah) pas sebagai bumbu penyedap film. Cuma, saya agak kek mana gitu waktu nengok Ringgo Agus a.k.a Alvin tepuk-tepuk pipinya pakai pelembap Wardah (produk sponsor) hihihihihi. Btw, tokoh Hyun Geun memang EKSIS! Dia sahabat Mbak Asma dari Korea Selatan. Hyun Geun memiliki komunitas fotografer yang beranggotakan 7000 orang. Hyun Geun dan Mbak Asma bersahabat sudah 10 tahun, tapi tidak ada urusan cinta-cintaan sama sekali. Tokoh Hyun Geun sekadar "dipinjam" untuk film.

Scene yang paling saya suka di film Jilbab Traveler LSIK: Rania menggenggam salju dan salju tersebut perlahan luruh dari tangannya. Scene yang saaangat manis.


Jilbab Traveler LSIK asli bikin baper tak berkesudahan ketika saya tetiba berasa jadi Rania dadakan, ikutan bingung milih antara Hyun Geun dan Ilhan. Ini efek saking menghayati filmnya, Kawan CM. :)) *terus dikasih hadiah cubitan sayang sama suami* Film selesai, saya nangis termehek-mehek di kursi mikirin perasaan salah satu cowo yang rela berkorban melepas Rania. Lirik soundtrack Aku Bisa Apa bikin baper jadi tingkat dewi. Suami sampai narik-narik baju saya supaya keluar dari bioskop. Katanya, “Ummi, please. Filmnya udah kelar, nih. Nanti ditinggal pulang sama mbak-mbak bioskop.” :))

Mata bengkak keluar dari bioskop
Postingan saya di Instagram di-like BCL :))

Yuk, nonton Jilbab Traveler LSIK di bioskop, Kawan CM! Semangat berhijab. Semangat menggali ilmu. Semangat membuka lembar demi lembar cakrawala di hadapanmu. Never give up on your dreams.  


Cerita Melalak kasih apresiasi 4,5 dari 5 bintang. [] Haya Aliya Zaki