Biasanya apa yang bikin malesin setiap kita diajak menonton film religi?

Diceramahi. Digurui. Dinasihati. Secara terang-terangan.

Well, insya Allah film Kalam-Kalam Langit berbeda, al least itu yang saya rasakan.

Sebelum menulis review ini, saya membaca komen Mbak Eno di blog saya yang satu lagi di postingan berjudul Selembar Asa Milik Mbah Sopiyah. Fyi, Mbah Sopiyah adalah nenek berumur 80 tahun yang setiap hari jalan kaki 10 km demi berjualan kue. Daripada mengemis, Mbah Sopiyah memilih berjualan kue-kue manis.

“Yang membedakan (Mbah Sopiyah dengan para pengemis) adalah harga diri.  Bahkan, ada orang yang penampilannya kinclong kinyis-kinyis, tapi hobinya minta-minta.” - Mba Eno


“Kalau aku jalan-jalan ke Jakarta, Kakak bawa aku ke dokter kulit yang paling bagus, ya? Tengoklah jerawat aku ini tak sembuh-sembuh,” pinta adik cowo saya, memelas.

Saya membayangkan adik saya ngomong sambil mengelus-elus wajahnya yang penuh jerawat (lebih tepatnya bisul kecil-kecil). Mohon maaf karena berbagai pertimbangan, fotonya tidak saya tampilkan di sini ya, Kawan CM. Adik saya yang tinggal di Medan itu bukannya tak pernah ke dokter. Sudah dikasih obat jerawat, sembuh, kambuh, sembuh, kambuh, sembuh, kambuh. Alamak masak itu-itu aja kerjanya? Bolak-balik ke dokter? Bukannya dokternya tak bagus. Saya ditelepon mungkin karena adik menganggap saya pernah kuliah dengan bekgron kesehatan, maka saya lebih bisa menyampaikan keluhannya secara runtut kepada dokter. Mungkin juga karena ada faktor yang belum terungkap dari penyakit adik saya ini. *macam detektiiip aja* Mungkin juga karena dia lagi kumat manjanya sama kakaknya hag hag hag.

Ketika adik saya sampai di Jakarta, saya memenuhi janji menemaninya ke dokter kulit. Langsung saya ceritakan semua keluhan, yakni bisul kecil-kecil yang tumbuh tak berkesudahan di wajahnya.

“Dok, cemana kalau dia dites alergi?” tembak saya langsung.

 “Nah, itu juga maksud saya,” sahut dokter, tersenyum.

Gayung bersambut, kami pun semangat. Adik saya dites dengan macam-macam alergen, mulai dari debu, cokelat, durian, sampai kecoa. Pokoknya alergennya buanyaaak. Dan, akhirnya adik saya divonis mengidap alergi debu dan beberapa macam makanan, terutama telur!

“Jadi, bukan cuma telur yang harus dihindari. Semua makanan berbahan telur juga harus dihindari,” saran dokter.

Seketika adik saya pun puyeng karena dia termasuk makhluk omnivora alias hobi pemakan segala.
***
Maka, topik seputar alergi (terutama pada 1000 hari pertama kehidupan) yang akan dibahas di acara Nutritalk (24/3) di Double Tree Hotel, Jakarta, langsung bikin saya kepo kiri kanan atas bawah depan belakang. Saya pengin risiko alergi pada adik tidak terulang pada anak-anak saya nanti. Acara Nutritalk yang rutin diselenggarakan Nutrisi untuk Bangsa - Sarihusada ini mendatangkan dua pakar mumpuni, yakni Prof. DR. Dr. Budi Setiabudiawan, SpA(K), Mkes. (Konsultan Alergi Imunologi Anak FK Universitas Padjadjaran) dan DR. Dr. Rini Sekartini, SpA(K). (Konsultan Tumbuh Kembang Anak RSCM).  MC dan moderatornya Lula Kamal, kembaran saya yang juga dokter.