“Liburan besok pengin ke mana hayooo?” tanya saya ke anak-anak.
“Aku pengin lihat hewan, Ummi!” jawab Shafiyya langsung.
Ooow, baiklah. Berhubung suami harus lembur sampai akhir tahun, mustahil acara melalak kami jauh-jauh. By the power of googling saya coba mencari tahu tempat wisata anak di Tangerang. Pucuk dicinta nasi lomak tiba. Saya nemu info wisata edukasi BFC Mini Farm di Tangerang.  



Kami tiba di TKP pukul 09.00 wib. Pakai Waze aja, tak payah mencari lokasi. Tempatnya luas sekitar 5000 m2.  Lapangan parkir muat 6 bus besar. Hari masih pagi suasana masih sepi. Selesai membayar tiket, kami langsung ikut pemandu wisata. Oiya, tiket Rp75 ribu per orang sudah termasuk biaya pemandu wisata, makanan untuk hewan, dan souvenir.  
Landak mini
            Sejak nonton film SING, anak-anak pengin sangat melihat penampakan Ash, eh, landak haha. Kesampaian juga akhirnya, meskipun bukan landak hutan. DI BFC Mini Farm anak-anak mengamati landak mini yang warna durinya rada bule. Landak makhluk nocturnal alias makhluk yang aktif pada malam hari. Ih, kok sama kayak awak. :)) Landak mini betina hamil selama 35 hari dan bisa melahirkan anak sampai 8 ekor. Puting susu ibu landak ada 10, jadi tak rebutan menyusu. Malah bisa tambo yekan. Ada sekitar 400 ekor landak mini di BFC Mini Farm. Anak-anak diajak untuk memberi makan dan memandikan landak mini. Takut-takut jugak megang ujung durinya walaupun sebenarnya penasaran. Fyi, landak mini pandai berenang!  

Kura-kura
            Setelah main ke BFC Mini Farm, kami jadi paham kalok kura-kura bukan satu jenis yang seperti kami tonton di serial kartun Pada Zaman Dahulu aja. :))
Kura-kura kaki gajah asal Sumatra

Kura-kura leher pendek asal Ambon

Kura-kura leher panjang asal Papua

Kelinci
            Wisata melihat kelinci mungkin biasa. Kalok wisatanya lari-larian mengejar kelinci? Seru! Anak-anak sekalian olahraga. Oiya, saya baru tahu. Kelinci tak boleh dikasih makan sayur fresh. Lebih baik sayur yang layu supaya pencernaannya tak bermasalah. 

Lobster
Pernah makan lobster air tawar? Hampir semua menjawab pernah. Tapi, memegang langsung lobster air tawar capit merah, berani? Nah, di sini klen bisa uji nyali. :)) Anak-anak diajak berburu lobster di kolam. Jadi, bawalah baju ganti mereka nanti, yo.
Pemandu wisata: “Begitu lahir, lobster udah bisa makan sendiri, enggak usah disuapin.”
Shafiyya: “Tuh, Uthon, lobster aja makan sendiri. Besok-besok Uthon jangan disuapin Ummi lagi, ya.” *nyenggol Uthon*
Uthon: *diem sebentar* “Terus, dia bisa pakai baju sendiri jugak gak, Om?” *muka polos dan serius*
Saya: “….”


Btw, saya tertarik mendengar penjelasan pemandu wisata tentang beternak lobster. Lobster betina mampu membawa 400–1000 telur di tubuhnya. Setelah dipelihara 5–6 bulan, lobster siap didistribusikan ke restoran-restoran. Kawan CM yang ingin menyantap lobster saos padang atau saos manis, sila langsung memesan di TKP. Per kg sekitar Rp 100–200 ribu. Yummy! 
Pukul 13.00 wib selesai menyantap lobster saos padang, kami bersiap pulang. Hati senang perut kenyang. Ini cerita liburan ke BFC Mini Farm versi kami. Anak-anak bukan sekadar tengok-tengok hewan lucu, melainkan jugak panen pengetahuan. Pemandu wisatanya sabar, komunikatif, dan informatif sekali. Plus bisa bahasa Inggris! Kelihatan beliau benar-benar mencintai pekerjaannya dan pastinya mencintai hewan. Tak sia-sia kami membayar tiket segitu tadi. 

Di whiteboard saya membaca cukup banyak jadwal rombongan yang akan main ke BFC Mini Farm. Rata-rata rombongan sekolah. Jika Kawan CM dan keluarga ingin wisata dengan selesa, ada baiknya telepon BFC Mini Farm sebelum datang. Jangan datang bertepatan dengan jadwal main rombongan lain.
Kawan CM tertarik main ke BFC Mini Farm? Atau, malah udah pernah? Bolehlah share tempat wisata anak yang lain di Jabodetabek di sini. Yok! :) [] Haya Aliya Zaki 
BFC Mini Farm
Alamat: Kp. Tegal Rotan RT 03/07 no. 123 Desa Sawah Baru, Ciputat, Bintaro (seberang Bintaro Exchange Mall)
Hari buka: setiap hari (termasuk Natal dan Idulfitri)
Jam buka: 09.00-17.00 wib 
Tiket: Rp75 ribu/orang
Telp: 08128098908




Semenjak nonton drama musikal Khatulistiwa yang patennya ke mana-mana itu, saya mencamkan dalam hati bahwa suatu saat saya akan bawa anak-anak menonton drama musikal kalau saya mampu. Menurut hemat saya, aksi menonton drama musikal yang menghibur sekaligus mendidik semacam ini harus dipupuk dan perlu disyiarkan seluas-luasnya. Syedaaaph. :)
Eh, kayaknya cepat kali doa awak diijabah, Kawan CM. Beberapa hari lalu saya membaca IG penulis kesohor Dewi Lestari yang menyebutkan bakal ada teater musikal Raksasa untuk audiens segala umur (khususnya anak-anak) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dan … GRATIS! Makjang, serius gratis? Secepat kilat saya mendaftar. *kebetulan saya ada keturunan Flash sikit* Alhamdulillah dapat 2 tiket. Satu buat saya dan satu lagi buat Shafiyya. Horeee!
Cakap punya cakap, rupanya teater musikal Raksasa merupakan gawean Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bekerja sama dengan Komunitas Jendela Ide. Dalam rangka memperingati Hari Antikorupsi Internasional jugak sebenarnya. Teater musikal Raksasa digelar tanggal 22–23 Desember 2016 (Kamis dan Jumat). KPK yakin, pendekatan seni dan budaya kepada generasi muda mampu membangun karakter terpuji. Ada 10 nilai integritas yang disisipkan secara apik di dalam cerita, yakni jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, adil, dan sabar. “Pencegahan korupsi harus dilakukan dengan berbagai cara dan dilakukan sejak dini,” kata Saut Situmorang, Wakil Ketua KPK. Sutradara teater musikal Raksasa, Marintan Sirait, ikut mengamini.




Mulia sangat ya niat KPK. Yang bikin awak tambah salut, anak-anak dan remaja bukan cuma jadi penonton! Puluhan dari mereka terlibat sebagai pemain, musisi, dan tim artistik. Proses produksi berlangsung selama 5 bulan.     
Saya dan Shafiyya dapat jatah menonton hari Kamis pukul 15.00 wib. Kami tiba pukul 14.30 dan terkesima dengan antrean penonton. Ramainyeee. Banyak anak SD dan SMP berbaris ditemani guru. Mereka memakai seragam sekolah masing-masing. Berhubung saya mendaftar sebagai media/blogger, saya bisa masuk lebih cepat (beda antrean sama yang umum). Kira-kira pukul 16.00 wib acara dimulai. Molor satu jam, tapi tak apalah. Saya paham pusingnya panitia mengurus panjangnya antrean penonton yang rata-rata anak-anak. Selain itu, saya dan Shafiyya berjanji, apa pun yang akan terjadi kami harus tetap happyyyy hihihi. 
Teater musikal Raksasa berkisah tentang 8 orang anak bernama Yogi, Rey, Nana, Togo, Ririn, Melodi, Tom, Bibus, dan anjing lucu bernama Lilu, yang bertualang ke hutan. Di hutan, mereka berpapasan dengan Djundi, penggembala domba. Djundi meminta tolong kepada anak-anak untuk menemaninya menemui tiga raksasa. Pasalnya, ketiga raksasa itu sudah mencuri domba-dombanya!   


Siapa pulak yang tak kembut diajak ketemu raksasa yekan. Tapi, anak-anak kadung kasihan melihat Djundi, jadilah mereka mengabulkan permintaan di penggembala domba ini. Di tengah perjalanan, mereka baru sadar bahwa misi mereka bukan lagi cuma mengambil balik domba-domba Djundi. Mereka mendapat tugas melawan Omora, pemimpin Kota Mesin yang keji, dan menghidupkan kembali Pohon Harapan. Singkat cerita, jika mereka tak memiliki 10 nilai integritas tadi, mereka tak akan mampu menunaikan tugas. Pertunjukan yang terdiri atas 6 babak ini berakhir pukul 17.15 wib.
Kalau saya perhatikan, kostum dan properti pemainnya sederhana. Dari awal sampai akhir pertunjukan, tokoh anak-anak memakai semacam cape (blus tanpa lengan dengan bukaan depan). Beda anak beda warna cape. Sebagian besar properti berasal dari bahan kardus yang dimodifikasi kreatif. Saya paling suka video mapping-nya. Seru sangat waktu melihat adegan anak-anak kejeblos ke dunia bawah tanah. Kayak jatuh betulan! :)) Musiknya cantik. Semua pandai bernyanyi. Kabarnya, seluruh elemen pertunjukan tercipta berkat gagasan para anak-anak dan remaja ini. Waaah!  



Rangkaian acara teater musikal Raksasa bukanlah selebrasi semata, Kawan CM. Anak-anak dan remaja kita diajak untuk menikmati proses, menghayati nilai integritas, dan berpartisipasi dalam gerakan antikorupsi. Epik! Shafiyya senang dan saya yakin dia meresapi pesan-pesannya. Apalagi dia dapat buku cerita teater musikal Raksasa yang berilustrasi dan full colour dari kakak-kakak panitia. Dalam perjalanan pulang kami asyik membahas lagi pertunjukan tadi. Oiya, sebenarnya Shafiyya pengin berfoto dengan tokoh Larasati Naga Air di dekat pintu keluar, tapi penonton udah berjubel berdiri di sana. Ya sutralah. Harapan kami, semoga semakin banyak pendekatan seni dan budaya kepada generasi muda seperti ini nanti. Kami tunggu! :) [] Haya Aliya Zaki    


            “Makanya, cakaplah, supaya tak salah paham!”
            Kalimat ini udah ada sejak zaman purbakala, Kawan CM. Maksudnya, jangan menyimpan apa-apa sendiri. Kalok belum tahu, tanya atau bicara. Setop menduga-duga apalagi berprasangka. Nanti malah salah. Jatohnya dosa pulak. Betul? *benerin kerudung instan zaskia mecca*
            Sekarang ini cakap-cakap bisa melalui media apa aja, baik media sosial atau aplikasi. Aplikasi chat yang paling sering saya pakai tentulaaah … WhatsApp! :)) Meski begitu, saya bukan orang yang terlalu suka berkombur tak jelas haluan. Berkombur itu memang sor rasanya, tapi tahu-tahu awak nangis karena waktu terbuang percuma. Grup chat saya yang aktif cuma grup chat anak sekolah dan kerjaan. 
             Menurut hemat saya, perusahaan yang membuka layanan live chat (terutama yang 24 jam) adalah perusahaan yang benar-benar memperhatikan pedih perih konsumen. Fyi, live chat lebih menguntungkan daripada call center karena saat live chat kita bisa nyambi kerjaan yang lain. Saya pernah komplain via chat ke situs online shop pukul 11 malam dan DIBALAS! Balasannya baik sangat. Emejing! Janji pun terpatri dalam hati *tsaah* bahwa saya akan jadi konsumen setia mereka. :) 
         Udah cukup banyak penelitian yang menyebutkan bahwa live chat meningkatkan penjualan perusahaan. Salah satunya studi ATG Global Consumer Trend yang menemukan bahwa 90% dari konsumen menganggap bahwa live chat membantu mereka selama proses pembelian berlangsung. Ada jugak survei emarketer.com yang menemukan bahwa 63% lebih konsumen mungkin bakal balik lagi ke situs yang memiliki fasilitas live chat. NAH!  
iCar Asia Limited (ASX: ICQ), pemilik jaringan portal otomotif nomor 1 di ASEAN, tampaknya merasakan hal yang sama. Baru-baru ini mereka merayakan keberhasilan platform komunikasi baru di Indonesia untuk bisnis Mobil123.com. Hanya seminggu sejak diluncurkan, platform tersebut telah mendapatkan tingkat adopsi yang kuat dari ribuan penjual dan pembeli, di mana mereka berkomunikasi menggunakan teknologi LIVE CHAT!
iCar Asia jugak meluncurkan aplikasi untuk dealer mobil. Aplikasi dealer khusus dikembangkan demi memenuhi kebutuhan dealer mobil. Fyi, aplikasi dealer terpisah dari aplikasi konsumen. Chat merupakan fitur kunci aplikasi dealer. Dealer mobil dapat mengelola lead, menyimpan informasi serta pertanyaan dari konsumen, dan semua percakapan di satu tempat secara efektif. Selain itu, dealer dapat berbagi foto dan lokasi. Beberapa fitur telah diintegrasikan ke dalam aplikasi sehingga memudahkan dealer mengelola akun, membuat iklan, dan mengelola iklan. Lebih dari 2,1 juta orang pengguna aktif per bulan di Mobil123.com, diharapkan pengguna fasilitas chat ini akan tumbuh secara eksponensial dalam beberapa minggu mendatang. Kawan CM udah bisa instal aplikasi Mobil123.com di Google Play Store atau Apple App Store. iCar Asia berencana untuk meluncurkan fungsi chat dan aplikasi dealer di Malaysia dan Thailand dua bulan lagi.

Aplikasi Mobil123.com

Dengan peluncuran baru ini maka saluran desktop, mobile, dan aplikasi dealer serta aplikasi konsumen telah memiliki layanan chat yang terhubung di semua platform. Paten! Pastinya jadi pengalaman yang menyenangkan bagi pengguna, yo.
 “Sekitar 135 juta orang connected melalui aplikasi chat di Thailand, Malaysia, dan Indonesia, dengan 79 juta sendiri ada di Indonesia,” kata iCar Asia CEO, Hamish Stone. Wow, gedenya jumlah di Indonesia! :)) Dengan menjadi digital otomotif marketplace pertama yang memberikan ini di kawasan ASEAN, posisi kepemimpinan pasar semakin kuat, demikian pula nilai yang diberikan kepada penjual dan pembeli.

Hamish Stone

Stone menambahkan, “Sebagai bagian dari pengembangan aplikasi, kami meningkatkan kemudahan proses pemasangan iklan. Dealer bisa membuat iklan hanya dalam waktu beberapa menit, dengan atau tanpa koneksi internet. Kami berharap kemitraan bisnis Mobil123.com dengan dealer semakin erat.”
Semoga ke depannya semakin banyak inovasi. Sebagai konsumen, saya dan Kawan CM senang nian. Tuh, penting, kan, fasilitas live chat buat perusahaan? Kalok komunikasi efektif, proses jual beli tambah lancar. Klen punya pengalaman seputar live chat dengan perusahaan? Yok, share di sini! :) [] Haya Aliya Zaki

Alkisah dalam mitologi Yunani hiduplah seorang pemuda yang gantengnya ampon-amponan bernama Narcissus. Maklum aja, bapaknya Dewa Sungai dan mamaknya bidadari. Semua orang senang melihat wajah Narcissus. Suatu hari, ketika sedang berburu, Narcissus merasa haus. Dia pun membungkuk hendak mengambil air di dekat pancuran. Ditengoknyalah bayangan wajahnya di air. “Amboiii, ganteng sangat! Siapa itu?!” batin Narcissus, terkejut. Siang malam dia mengagumi wajah di dalam air yang tak lain dan tak bukan adalah wajahnya sendiri. Akhirnya Narcissus tak peduli lagi sama lingkungan sekitar, termasuk sama peri Echo yang diam-diam mencintainya. Cerita komplet ada di buku ketiga Metamorphoses karya Ovid, seorang penyair Romawi. Narcissus ini menjadi cikal bakal istilah “narsis” yakni julukan untuk orang yang cinta berlebihan kepada dirinya sendiri. Orang-orang yang selfie-nya kebablasan, sering diejek, “Narsis kali kau bah!”
Saya senang melihat foto kawan-kawan yang selfie selama masih dalam dosis normal haha, kecuali kalok dia beauty blogger yang pekerjaannya memang mesti selfie memperlihatkan wajah setelah make up atau setelah pakai skin care. Selfies for positive purposes. Kita pun jadi terinspirasi yekan.
Bagi saya, selfie merupakan salah satu cara menyimpan jejak peristiwa demi dikenang sampai nanti. Entah kenapa, sensasi ber-selfie ria ini berasa beda aja dibanding berfoto biasa. Setuju? Saya selfie di momen-momen yang ingin saya ingat. Contoh, selfie di depan standing banner buku yang baru terbit, selfie saat nonton konser, selfie menghadiri acara penting, selfie setelah berhasil menurunkan berat badan *huhuy*, selfie sama anak-anak, dst. Selfie paling berkesan adalah selfie bersama anak-anak yatim di sebuah acara di bulan Ramadhan. Terharuuu hiks! Foto-foto selfie tersebut manjur jadi mood booster di kala galau. Pandang foto selfie, teringatlah kenangan manisnya. :) Kadang awak selfie untuk membunuh bosan, tapi selfie yang ini lebih sering disimpan sendiri (tak diaplot di medsos).
Selfie yang bikin suami semangat kerja :p

Selfie, eh, wefie lagi nonton konser Tommy Page *ketahuan umur*

Selfie horor buat nakutin followers hag hag hag

Selfie paling berkesan bersama anak-anak yatim (can you see my watery eyes?)

Jika bicara soal selfie so pasti kita jugak bicara soal ponsel yang support aktivitas ini, Kawan CM. Cukup banyak ponsel yang menawarkan spek paten, namun ada satu yang bikin saya terngangah manis manjah. Kenapaaah? Resolusi kamera depannya woooiii diklaim terbesar di dunia, yakni 20 megapiksel (MP)! Mau tahu apa ponselnya? Yak, Vivo V5! Alamak, apa jadinya wajah awak kalok selfie pakai ponsel Vivo V5? :))
Panjang umur, saya dapat undangan ikutan acara launching ponsel Vivo V5 di Ritz Carlton Hotel, Jakarta (23/11). Acara launching-nya mewah. Munculnya Agnez Mo, brand ambassador Vivo V5, dari balik panggung bikin acara tambah meriah! Agnez dipilih jadi brand ambassador Vivo V5 karena doi dianggap sebagai sosok yang paling sesuai dengan values yang diusung brand Vivo V5. Energik, positif, dan berprestasi.   
Menurut James Wei (CEO Vivo Indonesia), kata “Vivo” berasal dari bahasa Romawi, yang berarti yel yel penyemangat untuk para petarung. Cocoklah kalok “Vivo” dipakai jadi brand ponsel yang berkarakteristik muda dan dinamis. Saat ini Vivo udah terdaftar di lebih dari 100 negara di dunia sejak tahun 2014. 

Launching Vivo V5 di Ritz Carlton Hotel, Jakarta (23/11)

Berhubung awak blogger yang baik budiman, senang berkawan, serta gemar makan (entah hapa hubungannya), kelebihan dan kekurangan Vivo V5 awak buat berupa poin-poin runtut seperti ini. Mudah-mudahan Kawan CM lebih mudah mencerna infonya. Yok, simak!

Yay for Vivo V5!
1. 20 MP front camera with selfie softlight
            Kekuatan utama Vivo V5 ada pada kamera.
Seperti yang udah saya sebut sebelumnya, kamera depan Vivo V5 memiliki resolusi terbesar di dunia 20 MP dengan selfie softlight. Lebih gede resolusinya daripada kamera belakang yang 13 MP. “Sensor kamera Vivo V5 eksklusif menggunakan sensor Sony IMX376 dengan focal length 1/2.78 inci yang memungkinkan cahaya lebih banyak masuk,” jelas Kenny Chandra (Regional General Manager Vivo Indonesia). Hasil selfie lebih detail, tidak pecah meski di-zoom, dan natural.
Selain itu, kamera dilengkapi dengan bukaan f/2.0 sehingga selfie pada malam hari bukan masalah. Cahaya flash tidak tajam. Ini hasil saya selfie dengan Vivo V5. Acem klen rasa?   

Selfie dengan Vivo V5
 
Foto pakai kamera belakang (blur background bisa diatur pakai mode professional)


2. Face Beauty Mode 6.0
            Belum puas, saya mencoba selfie pakai Face Beauty Mode 6.0. Alamak, pori-pori segede lobang sumur lenyap! Lobang-lobang bekas jerawat yang terkutuk cuss hilang! Meski begitu, selfie saya tetap kelihatan natural, kan? Kawan-kawan di Instagram prefer selfie saya yang pakai Face Beauty Mode 6.0 ini hehe.

Face Beauty Mode 6.0

3. Slim and stylish body
            Setiap melihat ponsel, bodi selalu jadi perhatian pertama saya. Mamaaakkk ... udah tak zamanlah ya pakai ponsel yang tebelnya setebel batu bata! Vivo V5 unibody design, berbahan metal, dan kokoh. Slim dan ringan hanya 154 gram. Dimensi 153.8x75.5x7.6 mm. Dua garis metallic glow di bodi belakang adalah antena. Kalok pakai Vivo V5, awak jadi makin gaya. *sisiran* Kesannya pakai ponsel mahal. Padahaaal? Nanti belakangan awak kasih tahu harganya.  

Vivo V5 tampak depan
 
Vivo V5 tampak belakang


4. Layar 5.5 inch dengan 2.5 D corning gorilla glass
            Layar ukuran 5.5 inch membuat Vivo V5 lumayan enak digenggam dengan satu tangan. Resolusi layar 1280x720 piksel. Berkat 2.5 D corning gorilla glass, layar jadi lebih kuat dan relatif aman.  
5. Eye protection mode
            Cahaya biru dari layar ponsel menyebabkan mata cepat lelah. Solusinya, malam hari kita bisa menyalakan eye protection mode sehingga layar berubah kuning dan cahaya lebih redup. Lebih nyaman untuk mata. 
 
Eye protection mode

7. Faster fingerprint unlocking
            Cuma butuh 0.2 detik! Tak perlu pencet home button lama-lama apalagi sampai jebol.
6. Hi-Fi music
            Kaum urban sekarang hobinya motret dan dengerin musik. Melalak aja kita ke mana gitu pasti ketemu orang lagi motret atau dengerin musik dari ponsel. Kata James Wei, "Itulah sebabnya Vivo fokus pada kamera dan musik." Sensor AK4376 membuat kualitas audio Vivo V5 lebih baik. Rasio signal-to-noise 115 dB. Semakin tinggi dB semakin apik. Audio Vivo V5 lebih baik 2,5 kali dibandingkan pendahulunya Vivo V3 Max yang punya rasio signal-to-noise 105 dB.
7. Smart split 2.0
            Pernah klen palak karena lagi asyik-asyiknya nonton video streaming, terus ada pesan WhatsApp masuk? Tahu-tahu ketutup aja layar videonya. Pakai Vivo V5, tak bakal kejadian lagi macam tu. Kita bisa nonton video streaming sekalian jawab pesan WhatsApp. Layar terbagi dua!  
8. 4 GB RAM + 32 GB ROM
Terakhir, jeroannya cemanaaa? Vivo V5 punya spek dalam 4 GB RAM, 32 GB internal memory expandable memory up to 128 GB, prosesor octa-core 64-bit Mediatek MT6750, dan android 6.0 Marshmallow. Koneksi 4G LTE.
Dengan semua kelebihan di atas, harga Vivo V5 dibanderol jreng jreng jreng ... Rp3.499.000,00! Value for money smartphone. Acara launching Vivo V5 dan pengalaman saya pegang-pegang sekejap Vivo V5 sila ditengok di video di bawah ini.


Nay for Vivo V5!
1. Hybrid dual SIM
            Slot 2 sim card menyatu dengan slot external memory card. Kita bisa memasukkan 2 sim card ATAU 1 sim card + 1 external memory card. Sila pilih. Jadi, tak bisa kalok 2 sim card + 1 external memory card dimasukkan sekaligus ke Vivo V5. Beda dengan Vivo V3 yang dedicated slot.
2. Using MediaTek Chipset
            Harga prosesor MediaTek memang ramah di kantong, tapi untuk urusan kinerja lebih joss Exynos dan Snapdragon. Hanya, kinerja ponsel bukan dipengaruhi prosesor thok, melainkan jugak faktor lain.
3. No fast charging feature
            Vivo V5 tak punya fast charging feature. Lama cas baterai berkapasitas 3000 mAh ini kira-kira 1, 5 jam. Fyi, jangan khawatir baterai ponsel Vivo V5 klen drop atau rusak kalok klen lupa mencabut charger. Soalnya, begitu baterai penuh, aliran listrik dari charger ke ponsel otomatis terputus. Dengan syarat, klen pakai charger asli ponsel Vivo V5, bukan charger ponsel merek lain. Etapiii ... janganlah pulak sering-sering lupa cabut charger. Mantan aja masih diperhatiin, masa ponsel klen sendiri enggak? *eh*
3. Non-removable battery
Sebenarnya ini mungkin tak bisa dibilang kekurangan Vivo V5 jugak. Hari gini rata-rata baterai ponsel udah pada non-removable. Bodi belakang yang bisa bolak-balik dibuka dan baterainya diganti-ganti, justru bikin baterai (bahkan ponsel) rentan kerusakan. Udah tahu kan rules utama supaya baterai ponsel awet? Yap, hindari memakai ponsel (apalagi buat main games) saat ponsel sedang dicas. Pastikan ponsel dicas ketika memang udah low bat. Kalok baterai belum penuh, janganlah kejam kali main cabut charger aja.
            Kek mana, Kawan CM? Kira-kira udah ada bayangan untuk ponsel asal Cina yang satu ini, yo? Sila menimbang-nimbang sebelum membeli. Saya pribadi pengin punya, tak mau kalah sama Captain America yang pakai ponsel brand Vivo di film Captain America: Civil War. *uhuk* Oiya, Vivo V5 warna gold sudah beredar di Indonesia sejak tanggal 1 Desember 2016. Rose gold menyusul. Limited edition-nya space grey.
Beli Vivo V5 di konter resmi bakal dapat macam-macam aksesori orisinal, seperti phone stand, tempered glass, i-ring, dan tongsis. Selfie makin mantap. Garansi 24 bulan a.k.a 2 tahun. Semakin lama waktu garansi semakin bagus.
Pesan (sok) bijak saya, jangan sampai selfie membuat kita jadi “orang asing” di tengah keramaian seperti kisah Narcissus. Niatnya mau menangkap momen, tapi yang ada kita malah kehilangan momen. Yang lain pada happy berkombur dan bersenda gurau, eh, kita selfie terus sampai acara bubar. Rugi, kan? Nah, pastikan selfie klen diambil pakai ponsel Vivo V5, ponsel pertama yang memiliki resolusi kamera depan terbesar di dunia, yakni 20 MP. Bahasa Bataknya: take your perfect selfies for saving your perfect memories with Vivo V5! Sodaaap! :)) [] Haya Aliya Zaki


Akhirnyaaa ... pementasan drama musikal Khatulistiwa tiba! Saya dan kawan-kawan blogger berasa mendapat kehormatan karena diundang nonton bareng selebritas pada hari Jumat (18/11)  di TIM, Jakarta. *uhuk* Pementasan drama ini sendiri baru dibuka untuk umum pada keesokan hari dan lusanya (Sabtu dan Minggu). Pastilah kami tak menyia-nyiakan kesempatan langka. Sekalian pengin nostalgia zaman SMA waktu pentas drama sekolahan. Kebetulan dulu itu awak jadi penulis naskah dan salah satu pemainnya. :))
 Banyak kisah pahlawan yang ditampilkan pada drama musikal Khatulistiwa. Mungkin karena saya berasal dari Sumatra, chemistry kisah pahlawan Tjoet Njak Dhien (Aceh) dan Sisingamangaradja XII (Sumatra Utara) yang paling kuat bagi saya. Menetes air mata menonton adegan Tjoet Njak Dhien ditangkap Belanda dan Lopian tewas ditembak Belanda. Sumpah, kalau bukan karena drama musikal Khatulistiwa, mungkin saya tak bakalan tahu bahwa Tjoet Njak Dhien punya putri bernama Tjoet Gambang dan Sisingamangaradja XII punya putri bernama Lopian. Tjoet Gambang dan Lopian jugak pahlawan, Kawan CM!   

Kami duduk di balkon


Meski pertunjukan berlangsung selama 4 jam, saya tak merasa bosan sama sekali. Kami diajak menikmati kisah kepahlawanan dari berbagai daerah, mulai masa kedatangan VOC hingga era kemerdekaan. Cara penyampaiannya unik, yakni flash back melalui penuturan seorang ayah kepada anak-anaknya. Duh, mendadak nyesal awak tak bawa anak-anak. :( Berikut beberapa hal yang paling menarik perhatian saya dari pementasan drama musikal Khatulistiwa

VOC datang
Sumpah Pemuda

Tentara Jepang


Akting
Akting para talent usah diragukan lagi, yo. Saya senyum-senyum menonton Rio Dewanto yang fasih berperan jadi Sisingamangaradja XII yang bersuku Batak. Demikian pulak Teuku Rifnu Wikana (asli Siantar) pas nian berperan jadi H.O.S Tjokroaminoto yang bersuku Jawa. Salut terutama kepada talent anak-anak. Akting mereka natural sangat. Ketika kami diundang menyaksikan latihan drama musikal Khatulistiwa beberapa waktu lalu, sutradara Adjie N.A berjanji bahwa akting anak-anak drama musikal Khatulistiwa beda sama akting anak-anak di sinetron masa kini yang lebay dan dibikin-bikin macam orang dewasa. Dan, ucapan Adjie N.A terbukti. Sayang, saya urung memiliki kesempatan mewawancara anak-anak ini setelah akhir acara. Soalnya mereka harus lekas pulang istirahat. Besok dan lusanya mereka pentas lagi. 

Rio Dewanto (paling kanan) sebagai Sisingamangaradja XII
Teuku Rifnu Wikana sebagai H.O.S Tjokroaminoto

Flash back seorang ayah bercerita kepada anak-anaknya

Musik
            Apalah artinya sebuah pertunjukan tanpa musik yang indah yekan. Nah, drama musikal Khatulistiwa musiknya luar biasa. Musiknya betul-betul menentukan suasana hati. Saya paling suka musik pembuka yang heroik, musik di adegan Tjoet Nyak Dhien, dan lagu-lagu yang dinyanyikan Sita Nursanti ‘RSD’ (Dewi Sartika). Bravo penata musik Ifa Fachir! Makasih jugak udah RT tweet-tweet awak tempo hari. *eh*
Dialog dan nyanyian
            Awalnya saya dan kawan saya, Lidya, menyangka semua pemain lip sync. Tapi, setelah kami tengok-tengok, ternyata tidak. Dialog dan nyanyiannya langsung, bukan lip sync. Masing-masing talent memakai personal mic (clip on). Kebayang tak klen semua dialog dan nyanyian (termasuk tarian) selama 4 jam itu dihafal di dalam kepala! Latihan yang memakan waktu hampir satu tahun membuahkan hasil.
Kostum
Penata kostum Auguste Soesastro memberi warna khas untuk kostum setiap daerah. Misal, kostum Makassar warna marun, kostum Aceh warna abu-abu, kostum tentara Belanda warna cokelat, dst. Jadi tak bingung. Kostumnya paten. Kebayang kalok awak yang jadi penata kostum kayaknya udah semaput duluan mikirin mulai urusan ukuran, warna, sampai model. Yang main ratusan talent woiii. Ampon!
Properti
Seru tauk memperhatikan properti drama musikal akbar kayak gini. Segala rumah adat bisa didorong-dorong keluar masuk panggung dalam waktu sekian detik. Paling epic itu adegan Tjoet Njak Dhien yang ditangkap Belanda saat hujan geluduk. Layar transparan diturunkan. Daaan, ternyata layar tersebut punya lampu kelap-kelip yang memberi efek seperti hujan. Ditambah sound system mendukung, jadilah adegan hujan geluduk yang diinginkan. Mantap. Yok, kita lihat di video.


Drama musikal Khatulistiwa bukan cuma melibatkan pakar seni, melainkan jugak pakar sejarah, Asep Kambali. Insya Allah kisah sejarah yang ditampilkan akurat.
Oiya, kabarnya keluarga para pahlawan diundang menonton pementasan perdana. Pun beberapa sekolah, yayasan, dan panti asuhan. Harapannya, kisah patriotik pahlawan tersebar luas, khususnya kepada generasi muda. Untuk kawan-kawan di luar Jabodetabek yang tak bisa nonton, semoga kebagian dapat DVD-nya, yo. Nanti ada ribuan DVD Film Khatulistiwa yang akan dibagikan ke seantero nusantara. DVD berisi dokumenter drama musikal Khatulistiwa, infografis sejarah Indonesia, dan rekaman lagu-lagu Indonesia di pementasan drama musikal Khatulistiwa.
Mauliate godang atas undangannya, Sun Life Financial Indonesia, salah satu pendukung drama musikal Khatulistiwa. Tak ada satu pun yang bisa menjamin masa depan kita selain Allah Swt. Namun, kita bisa mengatur rencana, salah satunya dengan cara bikin asuransi. Sun Life Financial Indonesia menyiapkan aneka asuransi sesuai kebutuhan. Tinggal tunjuk. Kalok belum paham, jangan khawatir. Staf Sun Life Financial Indonesia siap membantu. 
Tiara Josodirdjo


Rasanya makin cinta Indonesia. Begitu hebatnya perjuangan para pahlawan kita dulu dan kita masih sering menyeletuk dengan nada sepele, "Yaaah ... mau berharap apa. Namanya jugak Indonesia." Tak malukah? Titip doa untuk semua pahlawan pemberani kami di surga. Last but not least, respek saya setinggi-tingginya kepada Tiara Josodirdjo dan tim dari Josodirdjo Foundation yang menggagas hadirnya drama musikal Khatulistiwa. Sebelumnya, Josodirdjo Foundation sukses membuat acara sosial tentang seni dan budaya; Pertunjukan Bawang Merah bawang Putih dan Kampung Anak Indonesia (2012). Jangan lelah berkarya. Kami tunggu #AksidariHati yang berikutnya! :) [] Haya Aliya Zaki