Yang tinggal di Jabodetabek pasti udah paham sepaham-pahamnya sama yang namanya macet, khususnya lalu lintas Jakarta. Intensitas kemacetannya amat sangat tinggi sekali. Belum lagi ditambah pembangunan infrastruktur yang aduhai di sana sini. Jalanan lagi pada heboh dipacul-paculin. Pastinya yang dikorbankan karena macet. Waktu, tenaga, dan uang. Stres!  

Lalu, apa yang Kawan CM lakukan di saat macet? Biasanya mendengar radio, bolak-balik mainin ponsel, atau buka laptop. Iya, kan? Dua pilihan terakhir rada riskan, menurut Bang Napi. Bisa mengundang marabahaya. Waspadalah, waspadalah, waspadalah!

Tim Blue Bird memahami masalah penduduk Jakarta. Bertempat di Conclave, Jakarta (18/11) Blue Bird meluncurkan fasilitas In-Taxi Entertainment (ITE) di armada taksi regular. Cocok banget buat Kawan CM yang sering bermacet ria di jalanan.

Direktur PT. Blue Bird, Tbk, Andre Djokosentono
            Hmmm … weekend ke mana yang istimewa, ya? Kalau jalan-jalan, makan, dan nonton film di mal mah udah biasa banget. Nah, setelah membaca woro-woro akun Twitter @Nutrisi_Bangsa tentang Festival Kota Layak Anak di Plaza Tenggara Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, saya mantap mengajak Shafiyya ke sana. Yap, weekend ini rencananya jadi “me time” kami berdua. Memangnya ada apa aja di Festival Kota Layak Anak? Banyak! Ada aktivitas mendongeng, perpustakaan keliling, crafting, berkebun, talkshow dengan para pakar, yoga bareng, dan … food bazaar! Yum!

            Festival Kota Layak Anak berlangsung 7 – 8 November 2015. Kerja sama yang apik antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dengan PT. Sarihusada. Tanggal 7 November 2015, Menteri PPPA, Yohana Yembise, membuka acara. Beliau berkata, “Festival Kota Layak Anak dimaksudkan untuk membuka kesadaran berbagai pihak bahwa semua anak wajib dipenuhi hak-haknya. Tagline yang dipakai: Semua Anak, Anak Kita.” Jadi, kalau Teman-teman melihat seorang anak mendapat perlakuan KDRT, misalnya, segeralah bertindak. Jangan ragu karena anak itu bukan anak kita. Ingat tagline yang disampaikan Ibu Menteri; Semua Anak, Anak Kita.

Sebagian orang berpikir, anak-anak hanyalah mereka yang berumur 1 – 4 tahun. Padahal, tidak. Berdasarkan UU No. 23/2002 Perlindungan Anak, definisi anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih berada dalam kandungan. Ada 5 hak dasar anak yang harus dipenuhi, yakni hak sipil (akta kelahiran), hak terhadap lingkungan keluarga, hak pendidikan, hak kesehatan, dan hak perlindungan khusus. Booth di Festival Kota Layak Anak diberi nama sesuai 5 hak anak ini.

Saya memilih datang hari Minggu. Pukul 09.30 wib kami sampai di GBK. Wah, sudah ramai! Kami kehabisan paspor huhuhu. Rupanya terik matahari tidak mengurangi antusiasme pengunjung. Rata-rata pada bawa keluarga. Yes, memang cocok banget menghabiskan family time di Festival Kota Layak Anak. 


Rame!
              “Mba, ini Bali bagian mana? Cakep banget!”

          “Huaaa … Desa Penglipuran? Lucky you, Mba! Belum tentu kalau tur ke Bali diagendakan ke sini.”

           “Wah, ini kan tempat syuting favorit di sinetron FTV! *ketahuan banci FTV*”

        Itu sebagian komentar teman-teman saat saya posting foto selfie dengan background Desa Penglipuran, Bali, tanggal 30 Oktober 2015 lalu. Jujur, sebelum ke sini, saya sama sekali no clue seperti apa Desa Penglipuran. Itinerary sudah diterima dari panitia tim Jelajah Gizi Bali, tapi saya sengaja tidak mencari tahu. Wes biar jadi surprais aja.

Selfie di Desa Penglipuran
         Apakah Kawan CM penggemar kopi, terutama kopi luwak? Berarti postingan saya cocok menjadi teman minum kopi hari ini. :) Saya pribadi bukan penikmat kopi, tapi ajakan tim #JelajahGiziBali ke Bali Pulina tanggal 30 Oktober 2015 untuk melihat perkebunan kopi dan proses pengolahannya hingga menjadi kopi luwak, pastinya dengan senang hati saya penuhi!

Hari gini siapa yang tidak kenal kopi luwak? Kopi luwak berasal dari biji kopi kualitas terbaik hasil cerna hewan luwak. Fyi, pencernaan luwak sangat sederhana. Biji kopi (biasanya kopi arabika) yang dimakan akan dikeluarkan lagi utuh bersama kotoran. Eits, utuhnya bukan sembarang utuh. Di dalam percernaan luwak, biji kopi difermentasi. Kadang tercium aroma harum seperti pandan. Rasanya dijamin nikmat! Kopi luwak aman untuk lambung karena tidak asam. Kadar kafeinnya juga rendah (0,5%). Ini yang membuatnya istimewa. Harga satu kg kopi luwak asli Bali Pulina mencapai Rp4 juta. Secangkir Rp50 ribu. Mahal? Di luar negeri, harga secangkir kopi luwak malah lebih fantastis, yakni Rp500 ribu – Rp500 juta! Wow! Itu belinya pakai duit apa kertas koran, ya? Hihihi.  

Ketika matahari tepat di atas kepala, kami sampai di Bandara Ngurah Rai, Bali. Perjalanan naik bus dari bandara menuju Bali Pulina sekitar dua jam. Meski agak mengantuk, mata saya tidak bisa terpejam sedikit pun. Saya asyik mengamati kanan kiri sambil mendengarkan penjelasan gaet. Rumah-rumah batu dengan ukiran khas Bali dan bangunan pura di sudut-sudut rumah tampak cantik dan unik. Well, boleh, kan, saya norak-norak bergembira? Jujur aja ini memang pengalaman pertama saya ke Bali. Jadi, rasanya excited abis!

            Dari penjelasan gaet, saya baru tahu bahwa di Bali tidak boleh ada gedung yang tingginya melebihi lima belas meter. Bukan apa-apa, Bali rawan gempa. Selain itu, orisinalitas daerahnya harus tetap terjaga. Bahkan, menurut gaet, ada kejadian-kejadian “mistis” saat gedung-gedung pencakar langit dibangun. Rata-rata lantai kamar hotel pun cuma sampai tingkat empat.  

            Sejenak saya ingat perjalanan dari Medan ke Berastagi. Jalanan berkelok-kelok biasanya membuat perut saya mual. Tapi, kali ini berbeda. Alhamdulillah, saya sehat walafiat, Saudara-saudara! Di beberapa titik mendekati lokasi, mobil antre berbaris. Rupanya mobil para bule. Mereka berhenti menikmati pemandangan sawah ijo royo-royo. Retribusi yang dibayar oleh wisatawan biasanya digunakan warga setempat untuk melaksanakan upacara keagamaan. Kalau disuruh memilih liburan ke pantai atau gunung, saya lebih memilih gunung, seperti Bali Pulina. Segaaarrr … tubuh berasa diselimuti hawa sejuk! Saya rindu cuaca gunung. Maklum, sampai sekarang kemarau masih melanda Jakarta dan sekitarnya. Oiya, “Pulina” sendiri artinya “kuno”. “Bali Pulina” berarti “Bali kuno”. 

Bali Pulina

Jangan lupa kacamata :v
             “Oiya, boleh tak kita ajak Bapak-Ummi?” tanya suami pelan.

            Liburan ke Singapura bareng Bapak-Ummi? ulang saya dalam hati. Maret lalu kami berencana liburan sekeluarga ke Singapura. Tidak saya sangka, suami berniat mengajak kedua orangtuanya, Bapak-Ummi. Sekian detik saya terdiam dan kemudian tersadar. Liburan terakhir bareng Bapak-Ummi adalah liburan ke Yogya pada Desember 2012. Berarti udah sekitar tiga tahun kami tak liburan bareng orangtua!

          Hm, ya, ya, kenapa pulak tidak sekarang? Saya mengangguk sambil tersenyum. Satu anggukan saya membuat mata suami berbinar semangat. Dia pun mulai mengatur perencanaan seperti booking hotel, memesan tiket, dll.

     Semua biaya mulai dari hotel, tiket pesawat, akomodasi, dst, kami yang menanggung. Saat membuat itinerary, saya dan suami cakap-cakap. Dia pernah menginap di bandara atau masjid untuk mengirit biaya dinas ke luar negeri. Maklum, suami bukan pegawai perusahaan besar. Dia dan beberapa temannya merintis perusahaan sendiri. Segala bujet diusahakan irit semampunya. Tapi, demi ngirit, tak mungkin, kan, kami mengajak orangtua menginap di bandara atau masjid juga? Konon pula cuma liburan satu malam. So, kami memilih booking hotel kecil yang nyaman dan berlokasi strategis (dekat masjid, Singapore Zam Zam Restaurant, dan stasiun MRT). Tepatnya di daerah Arab Street. Setelah booking hotel yang cocok, suami memesan tiket pesawat pp.

Saya bersyukur hidup bersama orang-orang yang cukup well-organized. Dulu Mama, kini suami. Pokoknya, soal perencanaan, mereka rapi! Berada di dekat mereka lumayan mengurangi level keseleboran saya haha! Liburan ke Singapura kali ini, suami usul melalak ke S.E.A Aquarium, Resort World Sentosa. Kenapa? Begini, waktu saya diundang tim majalah Reader’s Digest Indonesia ke S.E.A Aquarium pada Januari 2015, saya cerita ke suami bahwa suatu saat saya bakal bawa anak-anak ke sana. Ikannya banyak luar biasa dan lucu-lucu! Anak-anak dijamin sonaaang! Rupanya suami ingat itu. Bapak-Ummi? Sama! Mereka tidak pernah menonton tayangan lain di teve selain tayangan yang “berbau-bau” fauna. Bapak yang paling sor.  



Jalan-jalan ke Butterfly Garden di Bandara Changi 

Di Singapura, suami menawarkan Bapak-Ummi jalan-jalan naik taksi. Tapi, Bapak-Ummi memilih naik MRT ke mana-mana. Mau cari suasana baru, katanya. Suami selalu memimpin jalan di depan, Bapak-Ummi di tengah, saya paling belakang. Ritme langkah disesuaikan sama kemampuan Bapak-Ummi. Sesekali kami bertanya apakah Bapak-Ummi mau istirahat. Untung suami sudah menghafal baik rute-rute MRT. Insya Allah tidak pakai acara kesasar. Liburan ala ala “get lost” bareng kawan mungkin bisa menjadi pengalaman cetar. Kalau sama orangtua? Janganlaaah. Kasihan. Baidewei, ternyata naik MRT menjadi salah satu pengalaman seru kami selama di Singapura!

Belajar beli tiket MRT

Seru-seruan di dalam MRT

Somebody found Cindrella's shoe in Orchard MRT Station :D

            Namanya liburan, pasti ada hal-hal di luar dugaan, Kawan CM. Bapak-Ummi senang membeli oleh-oleh setiap bepergian. Sebelum pulang, kami berinisiatif mengajak mereka membeli oleh-oleh murah meriah di Bugis Street. Senangnya melihat wajah mereka yang semringah saat memilih oleh-oleh ini itu. Saya berencana mau cuci mata *bukan cuci toko, ya* di daerah Orchard Road juga. Siapa tahu ada barang-barang unik yang menarik untuk dibeli. Tapi, rupanya Bapak pengin shalat dan istirahat di Masjid Al-Falah. Saya mengalah. Kami memutar haluan. Tak lama, hujan deras turun disertai angin kencang. Gusti, payahnya mencari taksi! Mission impossible naik MRT. Padahal, beberapa jam lagi kami harus sampai di bandara untuk pulang ke Indonesia. Begitu ada taksi berhenti, suami mendahulukan saya, Sulthan, Shafiyya, dan Bapak-Ummi supaya langsung berangkat ke bandara. Suami dan Faruq menunggu taksi berikutnya. Setelah dapat, mereka bertiga ke hotel mengambil koper-koper, kemudian menyusul kami ke bandara. Mulanya kami semua memaksa masuk berjejal di dalam taksi hohoho. Muat, puuun. :p Tapi, sopir taksi mencak-mencak menolak. “You can’t do that! Sorry! Sorry!” serunya. Sopir taksi strict banget sama peraturan. Kalau dipikir-pikir, demi kebaikan kami juga, sih.

Terus, insiden kedua. Saking ngefansnya sama nasi briyani, saya cuma ingat membeli nasi briyani Singapore Zam Zam Restaurant untuk lauk makan malam kami semua. :)) Sulthan tidak mau makan malam karena sudah makan nasi gurih sore-sore. Saya lupa kalau Bapak tidak suka nasi briyani dan kondisi perutnya sensitif. Makanan yang pedas dikit bisa bikin Bapak diare. Alhamdulillah, ternyata Bapak-Ummi malah doyan nasi briyani yang satu ini. Kesehatan perut juga aman. Hanya, lain kali jadi pelajaran buat saya supaya jangan lagi-lagi lupa haha!

Nasi briyani yang menggetarkan kalbu :))

Insiden terakhir dan insiden yang paling saya ingat. Ummi kehilangan cincin di hotel! Isi lemari sudah dibongkar, seprai sudah diangkat, laci meja sudah diperiksa, cincin tetap tidak ketemu. Duh, niat awalnya pengin hepi hepi, tapi kenapa akhirnya malah kayak gini? Mood saya mulai melorot turun. Cari punya cari akhirnyaaa cincin Ummi ketemu juga! Di mana, coba? Di dalam tong sampah, Saudara-saudara! Wkwkwk. Tanpa sadar Ummi ikut membuang cincinnya ke tong sampah saat membuang bungkus makanan. Pfiuh. *lap keringet jagung*

            Bagi saya pribadi, liburan itu penting! Mungkin kita bisa mendapat wawasan dengan membaca koran atau menonton televisi. Namun, rasanya berbeda jika dibandingkan dengan beneran jalan-jalan dan bertemu banyak orang. Pernah mendengar pepatah banyak berjalan banyak yang dilihat? Yap, makna pepatah ini luas nian! Selain untuk refreshing, ada nilai-nilai yang saya pelajari di setiap perjalanan. Contoh, kebaikan hati seorang ibu keturunan Cina muslim yang mengambilkan mukena saat melihat saya kebingungan di Masjid Angullia, Singapura. Saya bertemu tour guide yang gigih belajar dan sangat komit dengan profesinya. Biasa mendengar cerita tentang budaya antre yang apik di Singapura? Kalau melihat sendiri, tetap bakal takjub! Efek melihat warga Singapura antre ini sangat membekas, terutama pada Faruq, sulung saya. Pulang dari Singapura, Faruq saya kasih jempol untuk urusan antre. Dan, masih banyak cerita lainnya. Jalan-jalan sama orangtua, pastinya kami belajar bertoleransi dan melatih kesabaran. Hasilnya? Kedekatan emosional yang sangat mahal harganya! Semoga bisa menjadi teladan untuk anak-anak kami kelak.

Ayo tebak, yang mana untanya?

Senang bisa menyenangkan orangtua

Great moment!


      Kawan CM punya rencana melalak beberapa waktu ke depan? Kalau memungkinkan, ajak orangtua tercinta juga, ya! Sekalian share yuk pengalaman paling berkesan selama perjalanan! ^^ [] Haya Aliya Zaki