Konser Bruno Mars “The Moonshine Jungle Tour" Jakarta (2)

Konser Bruno Mars "The Moonshine Jungle Tour" Jakarta (1)

       Jantung saya kebat-kebit melihat omak-omak rambut panjang merepeeet terus sepanjang antrean. Untunglah antre di lantai dua tidak selambreta leleta di lantai satu. Akhirnya, saya sampai juga di depan pintu masuk.

Oiya, saya belum cerita. Yang bikin rada sedih, camilan yang saya bawa harus di-drop semua di dekat pintu masuk di lantai satu. Satu botol air mineral, sebungkus permen, dan satu lembar roti maryam yang uenak kali seolah melambai pasrah mengucapkan selamat berpisah. Jelas saya menolak!

Tiket di-scan


“Ini, kan, bukan nonton bioskop, Bu. Semua makanan dan minuman harus ditinggal di sini,” jawab bapak petugas berkumis melintang.

Saya memonyongkan mulut. Ya, ya, enggak usah dipertegas, toh, Pak, kalau saya belum pernah nonton konser keren kayak gini. “Nanti kalo saya haus kek mana, Pak?” tanya saya seraya menatap nanar pada camilan-camilan tersebut.

“Nanti di dalam dikasih Aq**, kok, Bu,” jawab bapak petugas dengan wajah tambah ketat.

Hm, okelah. Minimal bisa minum, pikir saya. Saya mengingat-ingat tempat bapak petugas meletakkan camilan saya. Kalau konser bubar, mau saya ambil lagi rencananya hihihi. Enggak mau rugi weee. Selain makanan dan minuman, penonton juga tidak boleh membawa botol kaca/kaleng, senter, pointer, petasan, alat peledak.

Di depan pintu masuk, tiket di-scan. Semua penonton dipakaikan gelang. Pukul 19.00 saya berhasil mendarat sempurna di dalam ruangan konser. Yeay, berhasil! Berhasil! Berhasil! *nari ala Dora* *lap keringet*

Sumuk gara-gara antre tadi langsung terobati. Soale AC di dalam ruangan konser MEIS dingiiin! Wiiih … memang ruangan konser yang ciamik. Bersih-sih-sih-siiih. Pantas saja bapak petugas ngotot saya tidak boleh bawa makanan dan minuman ke dalam. Panggung besar tertutup tirai membuat dada berdebar. Akankah Bruno Mars keluar dari balik sana? Di kanan kiri panggung ada layar. Kabarnya, MEIS adalah tempat konser favorit para promotor. Beyonce dan Jennifer Lopez pernah tampil di sini. Mantap!

Kiri panggung

Kanan panggung

Saya masih berdiri planga-plongo di depan panggung. Gerombolan penonton silih berganti masuk seradak-seruduk. Bolak-balik saya terdorong ke depan. Kadang-kadang kaki keinjek. Auuu! Pengin marah, ini kaki masih dipakeee!

Teriakan “Brunooo …! Brunooo …! Brunooo …!” dari para ABG terdengar. Beberapa ABG berpakaian minim berdiri di dekat saya. Selain berteriak-teriak, mereka juga sibuk nunal-nunul ponsel canggih dalam genggaman. Tongsis-tongsis mulai bermunculan.


Tongsis paling panjang yang pernah saya lihat

Di dekat saya juga ada penonton omak-omak dan bapak-bapak. Ada yang rombongan dan ada yang sendirian. Berasa punya teman senasib, saya melipir di dekat omak-omak yang sendirian anteng main games. Doi tidak merasa terganggu sama sekali dengan kondisi sekeliling. Beda dengan saya yang memandang dengki kepada penonton berpasangan. Kek mana enggak dengki, yang laki-laki bolak-balik membelai rambut yang perempuan, membujuk supaya sabar nunggu. Hadeuuuh … saya, kan, jadi ingat belaian suami huhuhu. *buang mukak* 

Selfie muka manis

Eh, begitu noleh ke belakang, mata langsung berbintang-bintang. Kursi berwarna merah berbaris cantik. Jaraknya sekitar sekian belas meter dari saya. Hm, kebayang dalam gerakan slow motion, bokong saya menduduki bantalan kursi yang empuk itu. Nikmatnyaaa. Kaki sudah pegal-pegal, nih!

Kursi merah

“Mbak, Mbak, nanyalah,” sapa saya kepada penonton omak-omak yang anteng main games. “Ini tiket saya. Saya duduk di mana?”

Si mbak terdiam sebentar. “Lho, ini, kan, Green Ticket, Mbak. Jadi, kita berdiri di depan gini. Enggak duduk,” jawabnya santai.

Waks! Seketika saya teringat kalimat ‘free standing’ di keterangan tiket. *tepok jidat* Ciyus? Berarti saya berdiri sampai konser selesai?! Begitu?! Baiklah! Sekarang masih pukul 19.30. Menurut jadwal, konser mulai pukul 20.00. Terus, selesainya kapaaan? Belum tahu. Encok jangan kambuh, please ….  

Waktu berjalan suaaaangat lambat. Aksi desak-desakan dan dorong-dorongan masih berlanjut. Mana sinyal ponsel senin kemis. Gagal, deh, upload foto-foto dan bikin status supaya teman-teman sirik hihihi. Untung masih bisa SMS-an sama eyangnya anak-anak di rumah. Sementara, bapak petugas berkumis melintang dkk ‘memainkan kemahirannya’ melempar botol Aq** ke arah penonton free standing yang berseru kehausan. Pak, Pak, kirain dibagi satu-satu. Sudah pasti yang dapat penonton yang berdiri di barisan depan doang. Kalau melempar ke belakang dikit, kepala kami benjol, dong.

Selfie muka bete

Pukul 20.15 masih belum ada tanda-tanda penyanyi bernama asli Peter Gene Hernandez ini keluar. Tongsis sudah tarik ulur. Sebagian penonton, termasuk para ABG tampak mulai lemas. Ada yang jongkok, bahkan cuek duduk di lantai. Saya kasih minyak kayu putih supaya mendingan. Kebiasaan omak-omak, ya. Selain camilan, segala minyak kayu putih, hand sanitizer, tisu, saputangan, hansaplast, semua lengkap dibawa. Diam-diam saya bersyukur sudah mengisi perut dengan sepiring somay telur dan satu lembar kue maryam sebelum berangkat. Sampai sekarang, alhamdulillah belum merasa lemas sama sekali. Tanpa makan barang sesuap dan minum barang seteguk. *kayak lagu dangdut* Meski, teteup, tenggorokan seret pol. Heran, padahal dulu kalau disuruh berdiri upacara setengah jam aja mata berkunang-kunang. Dasaaarrr!

Penonton yang lemas

“Brunooo …! Brunooo …! Brunooo ….!” teriak para ABG tidak sabaran. Rombongan ibuk-ibuk dan bapak-bapak tidak ikut berteriak, tapi bahasa tubuh mereka seolah mendukung sikap para ABG hihihi.

Tidak berapa lama, terdengar suara panitia meminta penonton menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum konser dimulai. Diiringi musik, kami nyanyi sama-sama. Saat bernyanyi, dua layar besar menampilkan bendera merah putih. Duh, kenapa saya jadi terharu, ya? Hiks.

Penonton MEIS

Menit demi menit berlalu. Kirain setelah itu Bruno Mars bakal nongol. Ternyata, enggak. Selama berdiri, saya sering-sering menekuk lutut. Dari informasi yang pernah saya baca, berdiri terus-menerus tanpa menekuk lutut, bisa membuat seseorang pingsan.

Pukul 21.05. Sudah telat 1 jam! Teriakan para ABG masih terdengar bersahut-sahutan walau agak melemah. Hhh … sebenarnya, saya sendiri sudah hampir tidak kuat menunggu. Tapi, di sisi lain, saya enggan melewatkan kesempatan langka ini. Belum tentu besok-besok saya punya kesempatan lagi. Kali aja pengalaman ini bisa jadi bahan buat tulisan di naskah novel remaja? Iya, kan, Kawan CM? Atau, buat tulisan di blog? Lagian, tanggung amat kalau mau pulang, kan? Di tengah kegalauan, tiba-tiba ….

“Hellooo ….” [bersambung] Haya Aliya Zaki

8 Comments "Konser Bruno Mars “The Moonshine Jungle Tour" Jakarta (2)"

  1. Konser bruno mars ini kemarin informasinya tersebar loh, tapi memang harus ke jakarta jadi yah nggak ada uangnya, lebih baik cari yang lainnya. itu gambarnya ada yang pakai tongsis panjang yah mak

    ReplyDelete
  2. wah blog baru ya mak...melalak artinya apa nih , pasti bahasa medan ya hehehe. lagu-lagi Bruno mars enak-enak nonton live pasti lebih asik...

    ReplyDelete
  3. Bruno duuhh mupeng neh, btw itu tongsis ga kurang panjang? :)

    ReplyDelete
  4. Ya ampuuunnn judulnya upacara di konser Bruno ya? Berdiri terus :)))

    ReplyDelete
  5. Brunooooo .... brunooo


    uups....

    Tsah... si Kakak nonton konser ga ada ngajak-ngajak yaaaa

    ReplyDelete
  6. Huahaha... kebayang mak Haya menatap dengki mereka yang dielus sambil dibilang sabar... cup cup... sabar ya, mak.... :))))

    ReplyDelete
  7. cant stop myself from laughing :)))))

    ReplyDelete
  8. Hayaaa....notonnya sendirian? Aje gile...nekaaat abis gegara mau nonton si Bruno. Bruno, bruno, brunooo...

    ReplyDelete

Jadilah golongan orang-orang beruntung, yakni orang-orang yang komen sesudah membaca. #eaaakkk