Museum di Tengah Kebun?

Saya mengernyit di depan pagar museum. Seumur-umur saya baru tahu ada yang namanya Museum di Tengah Kebun, Kawan CM. Seorang gaet berpenampilan sedikit nyentrik, membuka pagar museum yang tinggi.

Museum di Tengah Kebun tampak depan
Menyusuri Lorong Mesin Waktu

Mirza Djalil

Gaet bernama Mirza Djalil ini mengajak saya dan kawan-kawan blogger menyusuri jalan sepanjang 60 meter. “Jalan panjang ini disebut Lorong Mesin Waktu,” katanya. Mirza keponakan pemilik museum, Pak Sjahrial Djalil (Djalil). Sehari-hari Mirza tinggal di museum untuk mengelola, sekaligus merawat museum.

  Hm, Lorong Mesin Waktu, nama yang cocok, pikir saya. Semakin ke dalam, kami semakin merasa seperti bukan sedang berada di Jakarta, melainkan seperti berjalan dari kota modern menuju tempat yang asri dan teduh. Hijau di mana-mana. 

Jangan tercengang, Kawan CM. Museum di Tengah Kebun benar-benar milik pribadi Pak Djalil. Semua biaya pembelian dan perawatan benda bersejarah berasal dari kocek Pak Djalil sendiri. Meski milik pribadi, macam-macam penghargaan sudah diraih, antara lain Museum Terbaik se-Jakarta Non-Pemerintah, Museum Tercantik, dan Museum Penataan Terbaik. Angkat topi untuk kepedulian Pak Djalil. Beliau gigih mengembalikan warisan milik negeri dan mengumpulkannya. Semua berawal dari hobi. Ya, hanya dari hobi. Berbagai lelang di Inggris dan Amerika beliau ikuti. Beberapa benda bersejarah tersebut memang sudah tercerai-berai hingga ke mancanegara. Selama 48 tahun, pria keturunan Minang ini keliling bumi 26 kali demi Museum di Tengah Kebun. Hingga kini ada sebanyak 2.481 barang bersejarah dari 63 negara dan 21 provinsi terkumpul. Setiap barang punya tim penilai sejarah dan tim penilai material.

Kalok ditengok-tengok, sebenarnya bentuk Museum di Tengah Kebun, ya, seperti rumah. Sebelum tinggal di sini, Pak Djalil tinggal di Menteng bertahun-tahun. Beliau bercita-cita memiliki rumah berlahan luas. Tahun 1976 rumah didapat, tahun 1980 rumah dibangun, kemudian dijadikan Museum di Tengah Kebun. Luas tanah 4.200 m2, di mana luas kebun 3.500 m2 dan luas bangunan 700 m2.    

Di halaman depan persis pintu masuk museum, saya melihat pohon dari zaman Triassic alias zaman 248 juta tahun lalu. Tahu klen film Jurassic Park yang bercerita tentang dinosaurus, kan? Nah, zaman Triassic ini lebih lama daripada zaman Jurassic. Kayu pohonnya, sih, sudah seperti membatu. Berbeda dengan museum lain, Museum di Tengah Kebun memakai material bekas. Bata merahnya berusia 400 tahun. Pintunya pun dari abad ke-18.

Penghargaan untuk Museum di Tengah Kebun

Kelapa kembar COCO-DE-MER (Afrika abad ke-20)

Bata merah (Batavia, awal abad ke-16)

Pohon zaman Triassic

Layaknya sebuah rumah, Museum di Tengah Kebun juga memiliki dapur dan kamar mandi. Dapurnya perpaduan gaya Eropa dan budaya Jawa. Sementara, di kamar mandi tetap dipajang benda-benda bersejarah. Finally, yang paling bikin saya berdecak kagum adalah ketika kami benar-benar menginjak kebun Museum di Tengah Kebun! Indahnyaaa! Kebun dirawat sangat baik oleh Mirza, dkk. Menurut Mirza, orang-orang yang melihat foto pengunjung yang berada di kebun sering diduga sedang berada di Bali, bukan di Jakarta. Wajar. Kalau sudah di dalam, rasanya memang seperti bukan di Jakarta. Ada kolam renangnya pulak.

Dapur

Table manner

Kamar mandi




Di kebun, benda-benda bersejarah juga ada. Salah satunya arca Ganesha, arca terbesar yang ditemukan di dalam tanah. Beratnya 3,5 ton. Wah, wah, kebayang berapa duit harganya ini, ya? So, Kawan CM jangan kaget kalau pernah melihat ada arca yang tangannya buntung atau kepalanya kepenggal. Penyebabnya, dicuri orang! Ck ck ck tangan dan kepala saja, misalnya, harganya sudah supermahal. Menurut saya, beruntung negeri kita punya orang seperti Pak Djalil. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, pria yang sekarang berusia 74 tahun ini punya misi mulia menyelamatkan warisan nenek moyang kita yang kaya. Jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang serakah dan tidak bertanggung jawab. Juga, salut kepada Mirza yang mau mengabdikan dirinya untuk mengelola dan merawat museum. Demi misi mulia, beliau mengubur cita-cita menjadi seorang fashion designer. 

Replika prasasti Kerajaan Samudera Pasai

Arca Dewi Sri (Jawa Tengah, abad ke-10)

Arca Ganesha

Sekarang Museum di Tengah Kebun ditutup untuk umum karena sedang dalam tahap renovasi. Kalau renovasi selesai, silakan ajak keluarga atau kawan minimal 7 orang dan maksimal 15 orang. Buat perjanjian terlebih dahulu. Pastikan klen datang sesuai waktu perjanjian. Jangan khawatirlah dibilang kolot karena main ke museum. Kalok bukan kita yang muda-muda ini (((MUDA))), siapa lagi yang akan menghargai benda-benda peninggalan bersejarah? Sayang, anak SD belum diperbolehkan masuk. Pemilik museum berharap pengunjung yang datang benar-benar ingin belajar sejarah dan paham apa yang disampaikan oleh gaet, bukan sekadar rekreasi.  

Saya dan kawan-kawan blogger

Seandainya ada kesempatan lagi, saya pengin balik ke Museum di Tengah Kebun, melongok koleksi benda bersejarah sekaligus melihat-lihat kebun nan cantik. Kawan CM yang kebetulan main ke Jakarta, jangan lupa singgah museum ini, ya! [] Haya Aliya Zaki


Museum di Tengah Kebun
Alamat: Jl. Kemang Timur Raya no. 66 Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan
Jam buka: 09.00-15.30 wib (Rabu, Kamis, Sabtu, Minggu)
Tiket masuk: gratis
Telp: (021) 7196907
           Kota Medan salah satu surga buat pencinta kuliner. Kalok orang-orang susah move on dari mantan, saya susah move on dari Kota Medan, Kawan CM. Setiap tahun, acara yang paling saya tunggu-tunggu pastinya mudik ke Medan haha! Selain pengin silaturahim sama keluarga besar, saya juga kebelet mencicipi kuliner Medan lagi, lagi, dan lagi. Mulai dari durian sampai es krim mulai dari mi sop sampai martabak. Dan, belum sah rasanya jika main ke Medan tanpa membawa oleh-oleh hits. Mereka adalah gerombolan si berat (maksudnya bikin bodi tambah berat), seperti bika ambon, sirop markisa, pancake durian, dst dst dst. Awak rela antre sambil ngalungin handuk karena kepanasan demi niat mulia pulang membawa mereka ke haribaan sanak saudara dan tetangga. *halah*

Meski sudah berkali-kali mudik, saya sempat melupakan sate kerang, makanan favorit masa kecil. Seingat saya, dulu sate kerang dijual di kedai-kedai kecil atau dijunjung pakai tampah oleh pedagang keliling. Fyi, sate kerang TIDAK DIBAKAR seperti sate ayam atau sate kambing. Unik, ya? Hingga akhirnya tahun 2012, saya jumpa balik makanan masa kecil ini. Bedanya, kini sate kerang dijual dalam kemasan oleh-oleh yang cantik. Namanya: Sate Kerang Rahmat!

         Rahmat Efendi (39 tahun), pemilik usaha Sate Kerang Rahmat, mengemas rapi sate kerang dalam boks panjang. Bagian dalam boks dilapisi aluminium foil. Di satu tusuk sate ada tiga sampai empat daging kerang. Satu boks berisi dua puluh tusuk sate. Harga relatif terjangkau. Per tusuk lima ribu rupiah aja. Mau beli lebih dari satu boks? Boleh! Rahmat sudah menyediakan kardus khusus yang siap ditenteng masuk ke kabin pesawat.

Sate Kerang Rahmat

Rahmat bukan pendatang baru di dunia kuliner khas Medan ini. Keluarganya turun-temurun berjualan sate kerang. Mereka tinggal di daerah bernama Gang Kerang. Disebut Gang Kerang karena semua warga di sana berjualan sate kerang. Diam-diam Rahmat cilik membangun mimpi. Kelak dia ingin mengenalkan sate kerang ke luar Kota Medan bahkan sampai ke mancanegara.

“Saya pernah ditertawakan keluarga karena selama ini sate kerang dianggap ‘makanan kampung’. Apa mungkin bakal dikenal sampai ke mancanegara? Tapi, mimpi saya tidak goyah. Saya terus berpikir bagaimana supaya sate kerang tampil eksklusif di mata pembeli. Alhamdulillah, pelan-pelan mimpi saya terwujud,” cerita Rahmat. Dia tampak hati-hati kali memasukkan sate kerang ke boks. Kini Rahmat satu-satunya penjual sate kerang yang masih bertahan di Gang Kerang.

Rahmat Efendi

Usia label usaha “Sate Kerang Rahmat” memang baru tiga tahun, tapi namanya cepat tersiar karena kelezatannya. Rasa bumbu sate kerang mirip rendang, namun ada tambahan sensasi manis dan asam. Rahmat menggunakan resep warisan almarhumah ibunya yang telah berjualan sate kerang sejak tahun 1957. Bumbu-bumbunya antara lain, cabe merah, bawang merah, bawang putih, ketumbar, kemiri, lengkuas, dan jahe. Amboooiii … perpaduan rempah-rempahnya, ya. Bukan main! Bumbunya melimpah dan meresap di daging kerang. Lidah dibikin menari-nari. Meski rasanya mirip rendang, Sate Kerang Rahmat tidak pakai santan. Tidak ada bau amis sama sekali. Suami awak yang seumur-umur belum pernah makan sate kerang aja sampek nambo nambo. Apalagi, makannya bareng nasi panas yang masih mengepul. Heaven! *alamak, perjuangan kali bah nulis postingan ini soalnya sambil membayangkan sate kerangnya wkwkwk*



Pesanan Sate Kerang Rahmat datang bertubi-tubi. Awalnya Rahmat menjual sekitar 70 kg sate kerang per hari. Sekarang? Sekitar 100 kg per hari! Bahkan, Rahmat pernah menjual sampai 200 kg sate kerang per hari. Fantastis! Sebagian besar pembelinya dari luar kota. Ya, itu tadi, buat oleh-oleh. Selain lezat, pendatang pengin membawa oleh-oleh yang lain daripada yang lain. Ada juga pembeli dari luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, dan Australia. Ketika main ke Medan, mereka membeli oleh-oleh Sate Kerang Rahmat. Satu hal, jangan membayangkan resto yang “wah” saat Kawan CM datang ke sini. Bangunan toko yang terletak di Jalan PWS Gang Kerang No. 24 E ini berukuran kecik dan sangat sederhana karena sistem penjualan adalah take away.



Untuk kerang, Rahmat langganan mengambil dari muara Sungai Asahan di Kabupaten Tanjung Balai. Kerang bulu asal Tanjung Balai dikenal berkualitas bagus. Ukurannya jumbo. Rasanya lebih manis dibandingkan kerang biasa.

            “Biasanya bagian dalam perut kerang bulu itu berpasir. Sudah dicuci, tetap susah hilangnya. Tapi, kerang bulu Tanjung Balai beda. Tidak ada pasir di dalam perutnya. Kalokpun ada, sikit saja. Kami benar-benar pemilih soal bahan baku. Kan, enggak enak makan kerang sambil bunyi ‘kresek-kresek’. Kasihan pembeli. Kunyah kerang, terkunyah pulak pasir,” jelas Rahmat. Wew, betul itu! Makan kerang bonus pasir, siapa yang mau? Kalok bonus berlian, barulaaah.

            Sekitar beberapa orang keluarga inti dan belasan orang pegawai membantu Rahmat mengolah kerang. Proses pengolahan sbb: kerang dikumpulkan dan dicuci dengan air mengalir. Lalu, rebus dan buang kulitnya. Daging kerang dicuci lagi sampai berulang kali hingga kotoran seperti pasir dan lumpur hilang. Setelah betul-betul bersih, daging kerang ditumis dengan bumbu rahasia.




Oiya, fakta penting, kerang termasuk hewan penyaring polutan. Artinya, tubuh kerang bisa menyimpan logam berat seperti merkuri. Duh, dengar kata “merkuri” langsung kembut aja. Kebayang terkontaminasi penyakit-penyakit berat. Waspada dengan tempat yang tercemar limbah. Pasalnya, hewan-hewan yang hidup di sekitarnya juga ikut tercemar, termasuk kerang. Hiiiy … jadi? Jadi, bahaya tak makan sate kerang?

            “Jangan khawatir. Daerah Tanjung Balai sama sekali tak ada limbah berbahaya karena tak ada pabrik. Sungainya bersih. Semua kerang yang kami ambil dari sana insya Allah aman,” jawab Rahmat tersenyum. Dia menambahkan, kerang yang diambil pun selalu dalam kondisi segar. Bukan apa-apa, kerang yang sudah mati mustahil dijadikan sate. Pasti cepat busuk.

            Rahmat ingin orang Medan bangga dengan kulinernya, terutama dengan oleh-oleh khas sate kerang. Siapa lagi yang memopulerkan kuliner daerah kalok bukan kita sendiri? Selain lezat, kerang kaya akan gizi. Saya baca di majalah Femina, kerang mengandung asam lemak tidak jenuh (omega-3) yang dapat mencegah stroke dan kanker. Proteinnya lebih tinggi daripada daging merah, tapi kalorinya lebih rendah. Mantap, kan? Ada vitamin A dan B12. Yang paling penting buat ibuk-ibuk kayak kita, pastinya zat besi untuk mencegah anemia dan kalsium untuk mencegah osteoporosis. Nah, kerang punya dua mineral penting ini!

Dengan semua keunggulannya, sebenarnya, Sate Kerang Rahmat siap mendunia. Hanya, ada satu masalah yang belum terpecahkan. Rahmat awam teknologi pengemasan yang bisa membuat sate kerangnya awet untuk jangka waktu lebih lama. Pengiriman jarak jauh membutuhkan waktu lebih dari dua belas jam. Padahal, Sate Kerang Rahmat hanya mampu bertahan dua belas jam di suhu ruangan dan maksimal tiga hari di dalam kulkas. Rahmat tidak menambahkan bahan pengawet untuk sate kerangnya. Sering pembeli di luar kota dan luar negeri kecewa karena tidak dapat mencicipi Sate Kerang Rahmat, kecuali kalau mereka datang mengambil sendiri ke Medan. Semoga pemerintah dan pihak terkait terketuk hatinya membantu Rahmat mengembangkan usaha kuliner sate kerang sehingga mampu bersaing di dunia internasional. Konon pulak bidang kuliner disebut-sebut memberi kontribusi untuk sektor ekonomi kreatif. Cemana, Kawan CM? Setuju? Ayoklah kita dukung kuliner daerah agar siap mendunia! [] Haya Aliya Zaki


Sate Kerang Rahmat
Alamat: Jl. PWS Gang Kerang no. 24 E, Medan
Telp: 081270087209 (telepon dulu sebelum membeli)



       
Fyi, ada perbedaan selera film setelah saya menikah. Waktu masih remaja (iyaaa saya pernah remaja :p), saya demen banget nonton film horor dan thriller. Sebut aja Urban Legend, I Know What You Did Last Summer, Scream, Dracula 2000, dst. Setelah menikah tahun 2002 (apalagi setelah punya anak), selera film saya muter 180o. Entah kenapa pulak saya udah tak kuat mental nonton film yang serem-serem dan yang sadis-sadis. Pokoknya, tak sanggup. Titik!

Film animasi menjadi pilihan utama saya dan suami karena kami ingin nonton film yang bisa ditonton anak-anak juga. Meski begitu, tidak semua film animasi layak. Biasanya kami membaca review sebelum memutuskan nonton. Tahun lalu, salah satu pilihan kami jatuh pada film produksi Walt Disney Pictures berjudul Big Hero 6.




Konser Bruno Mars 
“The Moonshine Jungle Tour” Jakarta (1), (2), & (3)


       Walaupun baru sekali nonton konser berdiri berjamaah alias free standing, bolehlah saya kasih tip. Boleh, ya ya ya? Boleeeh! *nanya sendiri jawab sendiri* Berikut 6 tip menonton konser free standing dari saya:

1. Siap-siap fisik

       Makan! Yang saya maksud "makan" di sini adalah makan berat, bukan sekadar nyamil. Sebelum berangkat, saya melahap sepiring siomay dan satu roti mariam. Alhamdulillah, so far enggak lemas berjam-jam antre dan berdiri nonton konser. Malah itu tadi, bisa ikut jejingkrakan jugaaak. *ups!* Kebayang kalau datang ke konser dengan perut kosong. Konser free standing pula. Soalnya, jangankan makanan, minuman pun dilarang dibawa masuk. Atau, kalau enggak tahan enggak minum dan nyamil sama sekali, silakan pegimana caranya menyelipkan minuman dan snack di tempat-tempat terselubung. Jangan sampai ketahuan satpam pastinya.


Konser Bruno Mars "The Moonshine Jungle Tour" Jakarta 
(1) dan (2)





        "Helloooo .... You know you look even better than the way you did the night before ...."

          Oh my God! Itu BRUNO MARS! Waks, beneran Bruno Mars ada di depan awak! Hanya berjarak 10 meter, Saudara-saudara! *cubit-cubit pipi* Oh my, Bruno, akhirnya keluar juga dari balik layar setelah acara molor 1 jam 15 menit. Doi memakai topi, kemeja putih dengan bagian dada terbuka sedikit, rompi cokelat, celana hitam. Penampilannya sederhana, tapi ... daya magisnyaaa ... ruaaarrr biasa! Badannya tampak lebih berotot dibandingkan penampakan di TV. Kelihatan kalau orang olahraga yo. 
Konser Bruno Mars "The Moonshine Jungle Tour" Jakarta (1)

       Jantung saya kebat-kebit melihat omak-omak rambut panjang merepeeet terus sepanjang antrean. Untunglah antre di lantai dua tidak selambreta leleta di lantai satu. Akhirnya, saya sampai juga di depan pintu masuk.

Oiya, saya belum cerita. Yang bikin rada sedih, camilan yang saya bawa harus di-drop semua di dekat pintu masuk di lantai satu. Satu botol air mineral, sebungkus permen, dan satu lembar roti maryam yang uenak kali seolah melambai pasrah mengucapkan selamat berpisah. Jelas saya menolak!

Tiket di-scan
“Hah? Benar, nih, Mbak?” tanya saya, merem melek enggak percaya.

“Benar. Mbak Haya memenangi satu tiket Green konser Bruno Mars tanggal 24 Maret 2014 senilai Rp1,5 juta. Cara pengambilan tiket akan saya e-mail. Sekali lagi selamat, ya!” jawab Mbak Lia dari Femina, ramah.

Huaaa ... beneran kayak mimpi! Rasanya baru beberapa hari yang lalu saya iseng-iseng mengisi Angket Femina berhadiah tiket konser Bruno Mars. Tahu-tahu sekarang dikabari menang! Mungkin Femina kasihan sama saya yang rajin pake banget ikutan Angket Femina qiqiqi.

Kebiasaan, saya langsung nyetatus kabar cetar membahana ini di Facebook dan Twitter. Beberapa teman inboks FB dan DM Twitter, mengatakan ingin membeli tiket konser tersebut. Sejenak saya bingung. Saya memang belum pernah nonton konser karena pertimbangan mualeees antre dan parno bakal kejepit-jepit di lokasi. Tapi ... tapi ... siapa yang bisa menolak pesona seorang Bruno Mars? *guling-guling* Mana tiketnya gretong pula! Anggap saja ini bakal jadi pengalaman seru yang nanti bisa diceritain ke anak cucu. Gubraakkk. *niat banget, yak*

Jadi, deh, saya nekat nonton konser Bruno Mars SENDIRIAN yeay! Alhamdulillah, suami mengizinkan walau rada sirik karena enggak bisa ikutan. Maaf ya, Sayang. Soale tiketnya Rp1,5 juta piye iki. Kalau pecah celengan sayang euy. Saya coba googling jenis-jenis tiket dan harga. Sekalian mau tahu saya duduk di mana (sumber: Republika.co.id).


Main di KidZania (PT. Aryan Indonesia), Pacific Place Mall, Jakarta, bukanlah hal baru untuk Shafiyya. Dia pernah beberapa kali ke KidZania bareng keluarga dan sekolahan. Pusat rekreasi berkonsep edutainment dengan luas 7500 meter persegi ini memang istimewa. KidZania merupakan replika kota khusus untuk anak-anak berusia 2 – 16 tahun, dengan bangunan-bangunan seperti kota sungguhan. Ada bangunan rumah sakit, pemadam kebakaran, salon, toko roti, supermarket, dll. Sekitar 1000 profesi bisa diperankan anak-anak di sini. Suasana di KidZania selalu malam hari. Kenapa? Saat malam hari, anak-anak sedang tidur dan bermimpi. Jadi, kota KidZania ibarat kota yang di dalamnya berisi anak-anak yang sedang bermimpi indah. Aturan main di KidZania, anak-anak beraktivitas di ruangan, sementara orangtua atau pendamping cukup mengamati sambil duduk manis manja di Parents Lounge. Kebayang, kan, bagaimana serunya jika anak-anak “mengambil alih” semua kegiatan di sebuah kota? Nah!

Guess what, kali ini keseruan KidZania bertambah, Teman-teman. Larutan Cap Kaki Tiga Anak (PT. Kino Indonesia) resmi membuka establishment Larutan Cap Kaki Tiga Anak Police Station pada tanggal 3 Juni 2015. Jadi, ceritanya, anak-anak berperan sebagai polisi yang akan menangkap pencuri formula rahasia Larutan Cap Kaki Tiga Anak. Kenapa Larutan Cap Kaki Tiga Anak memilih establishment Larutan Cap Kaki Tiga Anak Police Station? Kenapa bukan establishment jenis lain?






Momen Idul Adha baru lewat. Tapi, enggak apa-apa dong kalau saya nulis tentang hidangan kambing? :D Euuu … hayo ngaku … biasanya pada ketar-ketir masak daging kambing, kan? Katanya mengolah daging kambing susah, daging alot, bau, dst. Ada yang mengambil jalan pintas dengan menitipkan daging kambing ke tukang sate. *kyaaa* Nanti tukang sate yang mengolah, sekeluarga tinggal makan, deh, hihihi.

Kali ini saya bukan mau mengajak Teman-teman mengolah daging kambing, melainkan icip-icip di restoran yang menyajikan kuliner kambing. Kali aja ada yang galau masakan kambingnya enggak jadi, tinggal capcus ke resto yang satu ini. *kasih jalan pintas kedua xixixi*