Akhir tahun biasanya waktu yang paling pas untuk mengevaluasi macam-macam hal yang sudah terjadi. Dan, akhir tahun pula waktu yang paling pas untuk membuat list macam-macam resolusi. Mulai dari kesehatan, pekerjaan, sampai liburan. Kawan CM sudah mulai melakukannya? Saya pribadi harus merancang ulang resolusi kesehatan. Tahun ini niat rutin olahraga gatot alias gagal total. Hadeuh.

Atau, tinggalkan dulu perkara resolusi. Akhir tahun identik dengan liburan panjang. Ada yang memanfaatkan liburan untuk jalan-jalan atau mudik? Siapa tahu butuh kendaraan yang gres berkondisi prima. Kalau iya, mantengin website Mobil123.com dengan sepenuh jiwa dan raga adalah langkah tepat.

Tim Mobil123.com hadir di acara Fun Blogging 7 Surabaya

Yang tinggal di Jabodetabek pasti udah paham sepaham-pahamnya sama yang namanya macet, khususnya lalu lintas Jakarta. Intensitas kemacetannya amat sangat tinggi sekali. Belum lagi ditambah pembangunan infrastruktur yang aduhai di sana sini. Jalanan lagi pada heboh dipacul-paculin. Pastinya yang dikorbankan karena macet. Waktu, tenaga, dan uang. Stres!  

Lalu, apa yang Kawan CM lakukan di saat macet? Biasanya mendengar radio, bolak-balik mainin ponsel, atau buka laptop. Iya, kan? Dua pilihan terakhir rada riskan, menurut Bang Napi. Bisa mengundang marabahaya. Waspadalah, waspadalah, waspadalah!

Tim Blue Bird memahami masalah penduduk Jakarta. Bertempat di Conclave, Jakarta (18/11) Blue Bird meluncurkan fasilitas In-Taxi Entertainment (ITE) di armada taksi regular. Cocok banget buat Kawan CM yang sering bermacet ria di jalanan.

Direktur PT. Blue Bird, Tbk, Andre Djokosentono
            Hmmm … weekend ke mana yang istimewa, ya? Kalau jalan-jalan, makan, dan nonton film di mal mah udah biasa banget. Nah, setelah membaca woro-woro akun Twitter @Nutrisi_Bangsa tentang Festival Kota Layak Anak di Plaza Tenggara Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, saya mantap mengajak Shafiyya ke sana. Yap, weekend ini rencananya jadi “me time” kami berdua. Memangnya ada apa aja di Festival Kota Layak Anak? Banyak! Ada aktivitas mendongeng, perpustakaan keliling, crafting, berkebun, talkshow dengan para pakar, yoga bareng, dan … food bazaar! Yum!

            Festival Kota Layak Anak berlangsung 7 – 8 November 2015. Kerja sama yang apik antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dengan PT. Sarihusada. Tanggal 7 November 2015, Menteri PPPA, Yohana Yembise, membuka acara. Beliau berkata, “Festival Kota Layak Anak dimaksudkan untuk membuka kesadaran berbagai pihak bahwa semua anak wajib dipenuhi hak-haknya. Tagline yang dipakai: Semua Anak, Anak Kita.” Jadi, kalau Teman-teman melihat seorang anak mendapat perlakuan KDRT, misalnya, segeralah bertindak. Jangan ragu karena anak itu bukan anak kita. Ingat tagline yang disampaikan Ibu Menteri; Semua Anak, Anak Kita.

Sebagian orang berpikir, anak-anak hanyalah mereka yang berumur 1 – 4 tahun. Padahal, tidak. Berdasarkan UU No. 23/2002 Perlindungan Anak, definisi anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih berada dalam kandungan. Ada 5 hak dasar anak yang harus dipenuhi, yakni hak sipil (akta kelahiran), hak terhadap lingkungan keluarga, hak pendidikan, hak kesehatan, dan hak perlindungan khusus. Booth di Festival Kota Layak Anak diberi nama sesuai 5 hak anak ini.

Saya memilih datang hari Minggu. Pukul 09.30 wib kami sampai di GBK. Wah, sudah ramai! Kami kehabisan paspor huhuhu. Rupanya terik matahari tidak mengurangi antusiasme pengunjung. Rata-rata pada bawa keluarga. Yes, memang cocok banget menghabiskan family time di Festival Kota Layak Anak. 


Rame!
              “Mba, ini Bali bagian mana? Cakep banget!”

          “Huaaa … Desa Penglipuran? Lucky you, Mba! Belum tentu kalau tur ke Bali diagendakan ke sini.”

           “Wah, ini kan tempat syuting favorit di sinetron FTV! *ketahuan banci FTV*”

        Itu sebagian komentar teman-teman saat saya posting foto selfie dengan background Desa Penglipuran, Bali, tanggal 30 Oktober 2015 lalu. Jujur, sebelum ke sini, saya sama sekali no clue seperti apa Desa Penglipuran. Itinerary sudah diterima dari panitia tim Jelajah Gizi Bali, tapi saya sengaja tidak mencari tahu. Wes biar jadi surprais aja.

Selfie di Desa Penglipuran
         Apakah Kawan CM penggemar kopi, terutama kopi luwak? Berarti postingan saya cocok menjadi teman minum kopi hari ini. :) Saya pribadi bukan penikmat kopi, tapi ajakan tim #JelajahGiziBali ke Bali Pulina tanggal 30 Oktober 2015 untuk melihat perkebunan kopi dan proses pengolahannya hingga menjadi kopi luwak, pastinya dengan senang hati saya penuhi!

Hari gini siapa yang tidak kenal kopi luwak? Kopi luwak berasal dari biji kopi kualitas terbaik hasil cerna hewan luwak. Fyi, pencernaan luwak sangat sederhana. Biji kopi (biasanya kopi arabika) yang dimakan akan dikeluarkan lagi utuh bersama kotoran. Eits, utuhnya bukan sembarang utuh. Di dalam percernaan luwak, biji kopi difermentasi. Kadang tercium aroma harum seperti pandan. Rasanya dijamin nikmat! Kopi luwak aman untuk lambung karena tidak asam. Kadar kafeinnya juga rendah (0,5%). Ini yang membuatnya istimewa. Harga satu kg kopi luwak asli Bali Pulina mencapai Rp4 juta. Secangkir Rp50 ribu. Mahal? Di luar negeri, harga secangkir kopi luwak malah lebih fantastis, yakni Rp500 ribu – Rp500 juta! Wow! Itu belinya pakai duit apa kertas koran, ya? Hihihi.  

Ketika matahari tepat di atas kepala, kami sampai di Bandara Ngurah Rai, Bali. Perjalanan naik bus dari bandara menuju Bali Pulina sekitar dua jam. Meski agak mengantuk, mata saya tidak bisa terpejam sedikit pun. Saya asyik mengamati kanan kiri sambil mendengarkan penjelasan gaet. Rumah-rumah batu dengan ukiran khas Bali dan bangunan pura di sudut-sudut rumah tampak cantik dan unik. Well, boleh, kan, saya norak-norak bergembira? Jujur aja ini memang pengalaman pertama saya ke Bali. Jadi, rasanya excited abis!

            Dari penjelasan gaet, saya baru tahu bahwa di Bali tidak boleh ada gedung yang tingginya melebihi lima belas meter. Bukan apa-apa, Bali rawan gempa. Selain itu, orisinalitas daerahnya harus tetap terjaga. Bahkan, menurut gaet, ada kejadian-kejadian “mistis” saat gedung-gedung pencakar langit dibangun. Rata-rata lantai kamar hotel pun cuma sampai tingkat empat.  

            Sejenak saya ingat perjalanan dari Medan ke Berastagi. Jalanan berkelok-kelok biasanya membuat perut saya mual. Tapi, kali ini berbeda. Alhamdulillah, saya sehat walafiat, Saudara-saudara! Di beberapa titik mendekati lokasi, mobil antre berbaris. Rupanya mobil para bule. Mereka berhenti menikmati pemandangan sawah ijo royo-royo. Retribusi yang dibayar oleh wisatawan biasanya digunakan warga setempat untuk melaksanakan upacara keagamaan. Kalau disuruh memilih liburan ke pantai atau gunung, saya lebih memilih gunung, seperti Bali Pulina. Segaaarrr … tubuh berasa diselimuti hawa sejuk! Saya rindu cuaca gunung. Maklum, sampai sekarang kemarau masih melanda Jakarta dan sekitarnya. Oiya, “Pulina” sendiri artinya “kuno”. “Bali Pulina” berarti “Bali kuno”. 

Bali Pulina

Jangan lupa kacamata :v
             “Oiya, boleh tak kita ajak Bapak-Ummi?” tanya suami pelan.

            Liburan ke Singapura bareng Bapak-Ummi? ulang saya dalam hati. Maret lalu kami berencana liburan sekeluarga ke Singapura. Tidak saya sangka, suami berniat mengajak kedua orangtuanya, Bapak-Ummi. Sekian detik saya terdiam dan kemudian tersadar. Liburan terakhir bareng Bapak-Ummi adalah liburan ke Yogya pada Desember 2012. Berarti udah sekitar tiga tahun kami tak liburan bareng orangtua!

          Hm, ya, ya, kenapa pulak tidak sekarang? Saya mengangguk sambil tersenyum. Satu anggukan saya membuat mata suami berbinar semangat. Dia pun mulai mengatur perencanaan seperti booking hotel, memesan tiket, dll.

     Semua biaya mulai dari hotel, tiket pesawat, akomodasi, dst, kami yang menanggung. Saat membuat itinerary, saya dan suami cakap-cakap. Dia pernah menginap di bandara atau masjid untuk mengirit biaya dinas ke luar negeri. Maklum, suami bukan pegawai perusahaan besar. Dia dan beberapa temannya merintis perusahaan sendiri. Segala bujet diusahakan irit semampunya. Tapi, demi ngirit, tak mungkin, kan, kami mengajak orangtua menginap di bandara atau masjid juga? Konon pula cuma liburan satu malam. So, kami memilih booking hotel kecil yang nyaman dan berlokasi strategis (dekat masjid, Singapore Zam Zam Restaurant, dan stasiun MRT). Tepatnya di daerah Arab Street. Setelah booking hotel yang cocok, suami memesan tiket pesawat pp.

Saya bersyukur hidup bersama orang-orang yang cukup well-organized. Dulu Mama, kini suami. Pokoknya, soal perencanaan, mereka rapi! Berada di dekat mereka lumayan mengurangi level keseleboran saya haha! Liburan ke Singapura kali ini, suami usul melalak ke S.E.A Aquarium, Resort World Sentosa. Kenapa? Begini, waktu saya diundang tim majalah Reader’s Digest Indonesia ke S.E.A Aquarium pada Januari 2015, saya cerita ke suami bahwa suatu saat saya bakal bawa anak-anak ke sana. Ikannya banyak luar biasa dan lucu-lucu! Anak-anak dijamin sonaaang! Rupanya suami ingat itu. Bapak-Ummi? Sama! Mereka tidak pernah menonton tayangan lain di teve selain tayangan yang “berbau-bau” fauna. Bapak yang paling sor.  



Jalan-jalan ke Butterfly Garden di Bandara Changi 

Di Singapura, suami menawarkan Bapak-Ummi jalan-jalan naik taksi. Tapi, Bapak-Ummi memilih naik MRT ke mana-mana. Mau cari suasana baru, katanya. Suami selalu memimpin jalan di depan, Bapak-Ummi di tengah, saya paling belakang. Ritme langkah disesuaikan sama kemampuan Bapak-Ummi. Sesekali kami bertanya apakah Bapak-Ummi mau istirahat. Untung suami sudah menghafal baik rute-rute MRT. Insya Allah tidak pakai acara kesasar. Liburan ala ala “get lost” bareng kawan mungkin bisa menjadi pengalaman cetar. Kalau sama orangtua? Janganlaaah. Kasihan. Baidewei, ternyata naik MRT menjadi salah satu pengalaman seru kami selama di Singapura!

Belajar beli tiket MRT

Seru-seruan di dalam MRT

Somebody found Cindrella's shoe in Orchard MRT Station :D

            Namanya liburan, pasti ada hal-hal di luar dugaan, Kawan CM. Bapak-Ummi senang membeli oleh-oleh setiap bepergian. Sebelum pulang, kami berinisiatif mengajak mereka membeli oleh-oleh murah meriah di Bugis Street. Senangnya melihat wajah mereka yang semringah saat memilih oleh-oleh ini itu. Saya berencana mau cuci mata *bukan cuci toko, ya* di daerah Orchard Road juga. Siapa tahu ada barang-barang unik yang menarik untuk dibeli. Tapi, rupanya Bapak pengin shalat dan istirahat di Masjid Al-Falah. Saya mengalah. Kami memutar haluan. Tak lama, hujan deras turun disertai angin kencang. Gusti, payahnya mencari taksi! Mission impossible naik MRT. Padahal, beberapa jam lagi kami harus sampai di bandara untuk pulang ke Indonesia. Begitu ada taksi berhenti, suami mendahulukan saya, Sulthan, Shafiyya, dan Bapak-Ummi supaya langsung berangkat ke bandara. Suami dan Faruq menunggu taksi berikutnya. Setelah dapat, mereka bertiga ke hotel mengambil koper-koper, kemudian menyusul kami ke bandara. Mulanya kami semua memaksa masuk berjejal di dalam taksi hohoho. Muat, puuun. :p Tapi, sopir taksi mencak-mencak menolak. “You can’t do that! Sorry! Sorry!” serunya. Sopir taksi strict banget sama peraturan. Kalau dipikir-pikir, demi kebaikan kami juga, sih.

Terus, insiden kedua. Saking ngefansnya sama nasi briyani, saya cuma ingat membeli nasi briyani Singapore Zam Zam Restaurant untuk lauk makan malam kami semua. :)) Sulthan tidak mau makan malam karena sudah makan nasi gurih sore-sore. Saya lupa kalau Bapak tidak suka nasi briyani dan kondisi perutnya sensitif. Makanan yang pedas dikit bisa bikin Bapak diare. Alhamdulillah, ternyata Bapak-Ummi malah doyan nasi briyani yang satu ini. Kesehatan perut juga aman. Hanya, lain kali jadi pelajaran buat saya supaya jangan lagi-lagi lupa haha!

Nasi briyani yang menggetarkan kalbu :))

Insiden terakhir dan insiden yang paling saya ingat. Ummi kehilangan cincin di hotel! Isi lemari sudah dibongkar, seprai sudah diangkat, laci meja sudah diperiksa, cincin tetap tidak ketemu. Duh, niat awalnya pengin hepi hepi, tapi kenapa akhirnya malah kayak gini? Mood saya mulai melorot turun. Cari punya cari akhirnyaaa cincin Ummi ketemu juga! Di mana, coba? Di dalam tong sampah, Saudara-saudara! Wkwkwk. Tanpa sadar Ummi ikut membuang cincinnya ke tong sampah saat membuang bungkus makanan. Pfiuh. *lap keringet jagung*

            Bagi saya pribadi, liburan itu penting! Mungkin kita bisa mendapat wawasan dengan membaca koran atau menonton televisi. Namun, rasanya berbeda jika dibandingkan dengan beneran jalan-jalan dan bertemu banyak orang. Pernah mendengar pepatah banyak berjalan banyak yang dilihat? Yap, makna pepatah ini luas nian! Selain untuk refreshing, ada nilai-nilai yang saya pelajari di setiap perjalanan. Contoh, kebaikan hati seorang ibu keturunan Cina muslim yang mengambilkan mukena saat melihat saya kebingungan di Masjid Angullia, Singapura. Saya bertemu tour guide yang gigih belajar dan sangat komit dengan profesinya. Biasa mendengar cerita tentang budaya antre yang apik di Singapura? Kalau melihat sendiri, tetap bakal takjub! Efek melihat warga Singapura antre ini sangat membekas, terutama pada Faruq, sulung saya. Pulang dari Singapura, Faruq saya kasih jempol untuk urusan antre. Dan, masih banyak cerita lainnya. Jalan-jalan sama orangtua, pastinya kami belajar bertoleransi dan melatih kesabaran. Hasilnya? Kedekatan emosional yang sangat mahal harganya! Semoga bisa menjadi teladan untuk anak-anak kami kelak.

Ayo tebak, yang mana untanya?

Senang bisa menyenangkan orangtua

Great moment!


      Kawan CM punya rencana melalak beberapa waktu ke depan? Kalau memungkinkan, ajak orangtua tercinta juga, ya! Sekalian share yuk pengalaman paling berkesan selama perjalanan! ^^ [] Haya Aliya Zaki

Museum di Tengah Kebun?

Saya mengernyit di depan pagar museum. Seumur-umur saya baru tahu ada yang namanya Museum di Tengah Kebun, Kawan CM. Seorang gaet berpenampilan sedikit nyentrik, membuka pagar museum yang tinggi.

Museum di Tengah Kebun tampak depan
Menyusuri Lorong Mesin Waktu

Mirza Djalil

Gaet bernama Mirza Djalil ini mengajak saya dan kawan-kawan blogger menyusuri jalan sepanjang 60 meter. “Jalan panjang ini disebut Lorong Mesin Waktu,” katanya. Mirza keponakan pemilik museum, Pak Sjahrial Djalil (Djalil). Sehari-hari Mirza tinggal di museum untuk mengelola, sekaligus merawat museum.

  Hm, Lorong Mesin Waktu, nama yang cocok, pikir saya. Semakin ke dalam, kami semakin merasa seperti bukan sedang berada di Jakarta, melainkan seperti berjalan dari kota modern menuju tempat yang asri dan teduh. Hijau di mana-mana. 

Jangan tercengang, Kawan CM. Museum di Tengah Kebun benar-benar milik pribadi Pak Djalil. Semua biaya pembelian dan perawatan benda bersejarah berasal dari kocek Pak Djalil sendiri. Meski milik pribadi, macam-macam penghargaan sudah diraih, antara lain Museum Terbaik se-Jakarta Non-Pemerintah, Museum Tercantik, dan Museum Penataan Terbaik. Angkat topi untuk kepedulian Pak Djalil. Beliau gigih mengembalikan warisan milik negeri dan mengumpulkannya. Semua berawal dari hobi. Ya, hanya dari hobi. Berbagai lelang di Inggris dan Amerika beliau ikuti. Beberapa benda bersejarah tersebut memang sudah tercerai-berai hingga ke mancanegara. Selama 48 tahun, pria keturunan Minang ini keliling bumi 26 kali demi Museum di Tengah Kebun. Hingga kini ada sebanyak 2.481 barang bersejarah dari 63 negara dan 21 provinsi terkumpul. Setiap barang punya tim penilai sejarah dan tim penilai material.

Kalok ditengok-tengok, sebenarnya bentuk Museum di Tengah Kebun, ya, seperti rumah. Sebelum tinggal di sini, Pak Djalil tinggal di Menteng bertahun-tahun. Beliau bercita-cita memiliki rumah berlahan luas. Tahun 1976 rumah didapat, tahun 1980 rumah dibangun, kemudian dijadikan Museum di Tengah Kebun. Luas tanah 4.200 m2, di mana luas kebun 3.500 m2 dan luas bangunan 700 m2.    

Di halaman depan persis pintu masuk museum, saya melihat pohon dari zaman Triassic alias zaman 248 juta tahun lalu. Tahu klen film Jurassic Park yang bercerita tentang dinosaurus, kan? Nah, zaman Triassic ini lebih lama daripada zaman Jurassic. Kayu pohonnya, sih, sudah seperti membatu. Berbeda dengan museum lain, Museum di Tengah Kebun memakai material bekas. Bata merahnya berusia 400 tahun. Pintunya pun dari abad ke-18.

Penghargaan untuk Museum di Tengah Kebun

Kelapa kembar COCO-DE-MER (Afrika abad ke-20)

Bata merah (Batavia, awal abad ke-16)

Pohon zaman Triassic

Layaknya sebuah rumah, Museum di Tengah Kebun juga memiliki dapur dan kamar mandi. Dapurnya perpaduan gaya Eropa dan budaya Jawa. Sementara, di kamar mandi tetap dipajang benda-benda bersejarah. Finally, yang paling bikin saya berdecak kagum adalah ketika kami benar-benar menginjak kebun Museum di Tengah Kebun! Indahnyaaa! Kebun dirawat sangat baik oleh Mirza, dkk. Menurut Mirza, orang-orang yang melihat foto pengunjung yang berada di kebun sering diduga sedang berada di Bali, bukan di Jakarta. Wajar. Kalau sudah di dalam, rasanya memang seperti bukan di Jakarta. Ada kolam renangnya pulak.

Dapur

Table manner

Kamar mandi




Di kebun, benda-benda bersejarah juga ada. Salah satunya arca Ganesha, arca terbesar yang ditemukan di dalam tanah. Beratnya 3,5 ton. Wah, wah, kebayang berapa duit harganya ini, ya? So, Kawan CM jangan kaget kalau pernah melihat ada arca yang tangannya buntung atau kepalanya kepenggal. Penyebabnya, dicuri orang! Ck ck ck tangan dan kepala saja, misalnya, harganya sudah supermahal. Menurut saya, beruntung negeri kita punya orang seperti Pak Djalil. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, pria yang sekarang berusia 74 tahun ini punya misi mulia menyelamatkan warisan nenek moyang kita yang kaya. Jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang serakah dan tidak bertanggung jawab. Juga, salut kepada Mirza yang mau mengabdikan dirinya untuk mengelola dan merawat museum. Demi misi mulia, beliau mengubur cita-cita menjadi seorang fashion designer. 

Replika prasasti Kerajaan Samudera Pasai

Arca Dewi Sri (Jawa Tengah, abad ke-10)

Arca Ganesha

Sekarang Museum di Tengah Kebun ditutup untuk umum karena sedang dalam tahap renovasi. Kalau renovasi selesai, silakan ajak keluarga atau kawan minimal 7 orang dan maksimal 15 orang. Buat perjanjian terlebih dahulu. Pastikan klen datang sesuai waktu perjanjian. Jangan khawatirlah dibilang kolot karena main ke museum. Kalok bukan kita yang muda-muda ini (((MUDA))), siapa lagi yang akan menghargai benda-benda peninggalan bersejarah? Sayang, anak SD belum diperbolehkan masuk. Pemilik museum berharap pengunjung yang datang benar-benar ingin belajar sejarah dan paham apa yang disampaikan oleh gaet, bukan sekadar rekreasi.  

Saya dan kawan-kawan blogger

Seandainya ada kesempatan lagi, saya pengin balik ke Museum di Tengah Kebun, melongok koleksi benda bersejarah sekaligus melihat-lihat kebun nan cantik. Kawan CM yang kebetulan main ke Jakarta, jangan lupa singgah museum ini, ya! [] Haya Aliya Zaki


Museum di Tengah Kebun
Alamat: Jl. Kemang Timur Raya no. 66 Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan
Jam buka: 09.00-15.30 wib (Rabu, Kamis, Sabtu, Minggu)
Tiket masuk: gratis
Telp: (021) 7196907
           Kota Medan salah satu surga buat pencinta kuliner. Kalok orang-orang susah move on dari mantan, saya susah move on dari Kota Medan, Kawan CM. Setiap tahun, acara yang paling saya tunggu-tunggu pastinya mudik ke Medan haha! Selain pengin silaturahim sama keluarga besar, saya juga kebelet mencicipi kuliner Medan lagi, lagi, dan lagi. Mulai dari durian sampai es krim mulai dari mi sop sampai martabak. Dan, belum sah rasanya jika main ke Medan tanpa membawa oleh-oleh hits. Mereka adalah gerombolan si berat (maksudnya bikin bodi tambah berat), seperti bika ambon, sirop markisa, pancake durian, dst dst dst. Awak rela antre sambil ngalungin handuk karena kepanasan demi niat mulia pulang membawa mereka ke haribaan sanak saudara dan tetangga. *halah*

Meski sudah berkali-kali mudik, saya sempat melupakan sate kerang, makanan favorit masa kecil. Seingat saya, dulu sate kerang dijual di kedai-kedai kecil atau dijunjung pakai tampah oleh pedagang keliling. Fyi, sate kerang TIDAK DIBAKAR seperti sate ayam atau sate kambing. Unik, ya? Hingga akhirnya tahun 2012, saya jumpa balik makanan masa kecil ini. Bedanya, kini sate kerang dijual dalam kemasan oleh-oleh yang cantik. Namanya: Sate Kerang Rahmat!

         Rahmat Efendi (39 tahun), pemilik usaha Sate Kerang Rahmat, mengemas rapi sate kerang dalam boks panjang. Bagian dalam boks dilapisi aluminium foil. Di satu tusuk sate ada tiga sampai empat daging kerang. Satu boks berisi dua puluh tusuk sate. Harga relatif terjangkau. Per tusuk lima ribu rupiah aja. Mau beli lebih dari satu boks? Boleh! Rahmat sudah menyediakan kardus khusus yang siap ditenteng masuk ke kabin pesawat.

Sate Kerang Rahmat

Rahmat bukan pendatang baru di dunia kuliner khas Medan ini. Keluarganya turun-temurun berjualan sate kerang. Mereka tinggal di daerah bernama Gang Kerang. Disebut Gang Kerang karena semua warga di sana berjualan sate kerang. Diam-diam Rahmat cilik membangun mimpi. Kelak dia ingin mengenalkan sate kerang ke luar Kota Medan bahkan sampai ke mancanegara.

“Saya pernah ditertawakan keluarga karena selama ini sate kerang dianggap ‘makanan kampung’. Apa mungkin bakal dikenal sampai ke mancanegara? Tapi, mimpi saya tidak goyah. Saya terus berpikir bagaimana supaya sate kerang tampil eksklusif di mata pembeli. Alhamdulillah, pelan-pelan mimpi saya terwujud,” cerita Rahmat. Dia tampak hati-hati kali memasukkan sate kerang ke boks. Kini Rahmat satu-satunya penjual sate kerang yang masih bertahan di Gang Kerang.

Rahmat Efendi

Usia label usaha “Sate Kerang Rahmat” memang baru tiga tahun, tapi namanya cepat tersiar karena kelezatannya. Rasa bumbu sate kerang mirip rendang, namun ada tambahan sensasi manis dan asam. Rahmat menggunakan resep warisan almarhumah ibunya yang telah berjualan sate kerang sejak tahun 1957. Bumbu-bumbunya antara lain, cabe merah, bawang merah, bawang putih, ketumbar, kemiri, lengkuas, dan jahe. Amboooiii … perpaduan rempah-rempahnya, ya. Bukan main! Bumbunya melimpah dan meresap di daging kerang. Lidah dibikin menari-nari. Meski rasanya mirip rendang, Sate Kerang Rahmat tidak pakai santan. Tidak ada bau amis sama sekali. Suami awak yang seumur-umur belum pernah makan sate kerang aja sampek nambo nambo. Apalagi, makannya bareng nasi panas yang masih mengepul. Heaven! *alamak, perjuangan kali bah nulis postingan ini soalnya sambil membayangkan sate kerangnya wkwkwk*



Pesanan Sate Kerang Rahmat datang bertubi-tubi. Awalnya Rahmat menjual sekitar 70 kg sate kerang per hari. Sekarang? Sekitar 100 kg per hari! Bahkan, Rahmat pernah menjual sampai 200 kg sate kerang per hari. Fantastis! Sebagian besar pembelinya dari luar kota. Ya, itu tadi, buat oleh-oleh. Selain lezat, pendatang pengin membawa oleh-oleh yang lain daripada yang lain. Ada juga pembeli dari luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, dan Australia. Ketika main ke Medan, mereka membeli oleh-oleh Sate Kerang Rahmat. Satu hal, jangan membayangkan resto yang “wah” saat Kawan CM datang ke sini. Bangunan toko yang terletak di Jalan PWS Gang Kerang No. 24 E ini berukuran kecik dan sangat sederhana karena sistem penjualan adalah take away.



Untuk kerang, Rahmat langganan mengambil dari muara Sungai Asahan di Kabupaten Tanjung Balai. Kerang bulu asal Tanjung Balai dikenal berkualitas bagus. Ukurannya jumbo. Rasanya lebih manis dibandingkan kerang biasa.

            “Biasanya bagian dalam perut kerang bulu itu berpasir. Sudah dicuci, tetap susah hilangnya. Tapi, kerang bulu Tanjung Balai beda. Tidak ada pasir di dalam perutnya. Kalokpun ada, sikit saja. Kami benar-benar pemilih soal bahan baku. Kan, enggak enak makan kerang sambil bunyi ‘kresek-kresek’. Kasihan pembeli. Kunyah kerang, terkunyah pulak pasir,” jelas Rahmat. Wew, betul itu! Makan kerang bonus pasir, siapa yang mau? Kalok bonus berlian, barulaaah.

            Sekitar beberapa orang keluarga inti dan belasan orang pegawai membantu Rahmat mengolah kerang. Proses pengolahan sbb: kerang dikumpulkan dan dicuci dengan air mengalir. Lalu, rebus dan buang kulitnya. Daging kerang dicuci lagi sampai berulang kali hingga kotoran seperti pasir dan lumpur hilang. Setelah betul-betul bersih, daging kerang ditumis dengan bumbu rahasia.




Oiya, fakta penting, kerang termasuk hewan penyaring polutan. Artinya, tubuh kerang bisa menyimpan logam berat seperti merkuri. Duh, dengar kata “merkuri” langsung kembut aja. Kebayang terkontaminasi penyakit-penyakit berat. Waspada dengan tempat yang tercemar limbah. Pasalnya, hewan-hewan yang hidup di sekitarnya juga ikut tercemar, termasuk kerang. Hiiiy … jadi? Jadi, bahaya tak makan sate kerang?

            “Jangan khawatir. Daerah Tanjung Balai sama sekali tak ada limbah berbahaya karena tak ada pabrik. Sungainya bersih. Semua kerang yang kami ambil dari sana insya Allah aman,” jawab Rahmat tersenyum. Dia menambahkan, kerang yang diambil pun selalu dalam kondisi segar. Bukan apa-apa, kerang yang sudah mati mustahil dijadikan sate. Pasti cepat busuk.

            Rahmat ingin orang Medan bangga dengan kulinernya, terutama dengan oleh-oleh khas sate kerang. Siapa lagi yang memopulerkan kuliner daerah kalok bukan kita sendiri? Selain lezat, kerang kaya akan gizi. Saya baca di majalah Femina, kerang mengandung asam lemak tidak jenuh (omega-3) yang dapat mencegah stroke dan kanker. Proteinnya lebih tinggi daripada daging merah, tapi kalorinya lebih rendah. Mantap, kan? Ada vitamin A dan B12. Yang paling penting buat ibuk-ibuk kayak kita, pastinya zat besi untuk mencegah anemia dan kalsium untuk mencegah osteoporosis. Nah, kerang punya dua mineral penting ini!

Dengan semua keunggulannya, sebenarnya, Sate Kerang Rahmat siap mendunia. Hanya, ada satu masalah yang belum terpecahkan. Rahmat awam teknologi pengemasan yang bisa membuat sate kerangnya awet untuk jangka waktu lebih lama. Pengiriman jarak jauh membutuhkan waktu lebih dari dua belas jam. Padahal, Sate Kerang Rahmat hanya mampu bertahan dua belas jam di suhu ruangan dan maksimal tiga hari di dalam kulkas. Rahmat tidak menambahkan bahan pengawet untuk sate kerangnya. Sering pembeli di luar kota dan luar negeri kecewa karena tidak dapat mencicipi Sate Kerang Rahmat, kecuali kalau mereka datang mengambil sendiri ke Medan. Semoga pemerintah dan pihak terkait terketuk hatinya membantu Rahmat mengembangkan usaha kuliner sate kerang sehingga mampu bersaing di dunia internasional. Konon pulak bidang kuliner disebut-sebut memberi kontribusi untuk sektor ekonomi kreatif. Cemana, Kawan CM? Setuju? Ayoklah kita dukung kuliner daerah agar siap mendunia! [] Haya Aliya Zaki


Sate Kerang Rahmat
Alamat: Jl. PWS Gang Kerang no. 24 E, Medan
Telp: 081270087209 (telepon dulu sebelum membeli)